Wednesday, August 10, 2022

Gantung Saja Semangka itu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Budidaya semangka gantung di Taiwan menggunakan tali sebagai media rambatanSemangka gantung hasilkan buah bulat, kulit bersih, dan dan rasa manis.

Jaring merah itu menggendong buah semangka. Jadilah buah anggota famili Cucurbitaceae itu menggantung di udara, 40—100 sentimeter di atas permukaan tanah. Panorama itu ada di lahan semangka milik Chen Tung Yin di Kota Chiyai, Taiwan. Yin, peneliti di Instansi Pertanian Chiyai, merambatkan tanaman pada seutas tali hingga ketinggian 175 cm. Ia menanam Citrullus lanatus di atas guludan berukuran 2 m x 100 m.  Setiap guludan berisi 2 baris tanaman. Jarak tanam 40 cm x 40 cm.

Total populasi di sebuah guludan mencapai 500 tanaman. Di sebuah rumah tanam itu, Yin membuat empat guludan. Artinya total populasi mencapai 2.000 tanaman per greenhouse. Ia memasang tali rambatan pada kerabat mentimun itu sejak penanaman di lahan. Yin membuahkan semangka di ketiak tanaman pada urutan ke-8—12 karena ruas itu kuat. Ia menyiram 3—5 hari sekali dengan menggenangi parit di antara dua guludan. Menurut Yin air penting untuk pertumbuhan buah agar tumbuh optimal.

 

Tatang Halim menggantung semangka dengan ajirLebih mahal

Pada setiap tanaman, Yin membuahkan 2 semangka merah dan tanpa biji. Lima puluh hari sejak muncul fruitset atau bakal buah, ia memasang jaring longgar sehingga tak mengganggu perkembangan buah. Ketika buah membesar, jaring itu tetap dapat menampungnya hingga buah siap panen, yakni 60 hari setelah tanam. Saat panen bobot buah semangka kekasih itu berkisar 1,5—2 kg. Dinamakan kekasih karena ukuran buah semangka itu pas untuk 2 orang.

Yin beralasan menggantung buah semangka untuk menghindari busuk buah akibat cendawan Phytophthora capsici. Nun di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pekebun semangka eksklusif Tatang Halim juga menerapkan teknik serupa. Ia memasang mulsa plastik hitam perak sepanjang 20 m dengan jarak antarmulsa 40 cm. Tatang merendam benih semangka golden baby dalam larutan hormon pertumbuhan berkonsentrasi 5 ml per liter air selama 8 jam.

Kemudian ia meniriskan, membungkus dengan koran basah, dan menyimpan benih di ruang gelap selama sehari. Keesokan harinya, benih mulai berkecambah. Tatang menyemai bibit di polibag dengan media tanam campuran pupuk kandang dan tanah halus perbandingan 1 : 1. Ia menyiram bibit itu dua kali sehari. Tujuh hari kemudian, ia memindahkan bibit ke lahan. “Saat itu tinggi bibit sekitar 10 cm,” tuturnya. Tatang kemudian menanam bibit golden baby di bedengan yang sudah dilengkapi pupuk dasar, mulsa, dan ajir.

Jaring berfungsi melindungi kulit buah dari hamaPada setiap mulsa terdapat satu deret lubang tanam berjarak 30 cm. Pria berusia 50 tahun itu memasang ajir setinggi 2 meter di sisi kiri dan kanan lubang tanam secara menyilang untuk rambatan sulur semangka. Menurut Tatang harga sebuah ajir bambu berukuran lebar 4 cm dan tinggi 2 m mencapai Rp500. Ia memerlukan 1.200 batang untuk menopang 600 tanaman. Artinya, Tatang mesti mengeluarkan biaya Rp6-juta untuk pengadaan ajir.

Ajir bambu dalam budidaya semangka dapat digunakan berulang 2 kali budidaya. Petani lain yang membiarkan semangka tumbuh begitu saja di atas pemukaan tanah tak mengeluarkan biaya ajir. Artinya biaya produksi pada budidaya semangka gantung lebih tinggi. Ketika tanaman berumur 30 hari, kerabat melon itu mulai berbuah. Tatang menyeleksi saat buah masih pentil. Ia hanya mempertahankan satu buah yang tumbuh di ruas ke-11 atau ke-13, berbentuk sempurna, dan sehat di setiap tanaman. Pekebun itu mengikat buah semangka dengan rafia 10 hari sejak muncul buah. “Mirip budidaya melon,” ujar Tatang.

 

Tetap bermutu

Tatang panen ketika tanaman berumur 60 hari. Pemanenan secara bertahap setiap hari hingga total 14 hari karena ia menunggu buah matang sempurna. Rasa buah berdaging kuning itu sangat manis. Tingkat kemanisan semangka hibrida itu mencapai 13—140 briks. Kadar kemanisan semangka lain berkisar 10—110 briks. Tingkat kemanisan bisa lebih tinggi andai semangka tak mengalami kekeringan. Pasalnya, cuaca kering menghambat pertumbuhan daun sehingga hasil fotosintesis tidak optimal.

Untuk mendapat tingkat kemanisan tinggi, 140 briks Tatang menggunakan pupuk NPK dan pupuk mikro seperti magnesium, kalsium, dan silica boron. Pupuk kandang berupa 30 kg kotoran kambing dan kelelawar ia berikan di awal penanaman. Ia memupuk susulan ketika tanaman berumur 10 hari. Saat itu ia memberikan campuran NPK dan silika boron dengan konsentrasi 5 gram per liter air. Adapun dosis penyemprotan hanya 250 ml per tanaman. Ia juga memberikan 1 kg KNO3 per 14 liter. Pupuk susulan berikutnya berselang setiap 10 hari dengan dosis yang sama.

Chen Tung Yin, peneliti semangka gantungMenurut Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Sobir PhD, budidaya semangka gantung membuat warna kulit lebih merata. Pasalnya, seluruh permukaan kulit terpapar sinar matahari secara langsung. Kulit semangka pun aman dari gesekan atau warna cokelat dari tanah yang bisa merusak kemulusan buah. Bila pekebun membiarkan buah terhampar di permukaan tanah, berisiko terkena penyakit akibat tertular bakteri atau cendawan seperti bakteri Pseudomonas sp penyebab layu bakteri. Kulit buah kurang mulus bisa menurunkan harga jual di pasaran.

Sobir mengatakan budidaya semangka gantung juga praktis. Pada budidaya sistem konvensional, petani harus membolak-balikkan buah agar penyinaran merata. Tanpa pembalikan buah, maka bagian tertentu yang bersentuhan dengan tanah cenderung pucat. Dalam satu periode budidaya, setidaknya petani 5 kali membalik buah semangka, pada hari ke 35, 40, 45, 50 dan 55 pascatanam. Sementara pekebun semangka gantung tak perlu melakukan hal itu. Sebab, seluruh permukaan buah mendapat penyinaran merata.

Tatang menuai semangka berbobot rata-rata 1,5—2 kg per buah. Ia menjual semangka unggul itu—penampilan mulus dan  manis—Rp20.000 per kg atau Rp30.000—Rp40.000 per buah. Harga itu relatif tinggi dibanding harga semangka lain dengan tingkat kemanisan 100 briks yang rata-rata Rp6.000 per kg. Tatang mengatakan harga jual biaya itu masih bisa menutupi biaya produksi. Tatang mengatakan total jenderal biaya produksi per tanaman mencapai Rp10.700.  (Kartika Restu Susilo/Peliput: Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img