Wednesday, January 28, 2026

Berjaya dengan Moringa

Rekomendasi
- Advertisement -

Felix Bram Samora meraup omzet fantastis dari tanaman mistis.

Felix Bram Samora (baju merah) bekerja sama dengan Ir. Ai Dudi Krisnadi mengembangkan kelor untuk ekspor.

Trubus — Cibiran beberapa orang tak menyurutkan langkah Felix Bram Samora, S.T., M.M., untuk mengebunkan kelor Moringa oleifera. “Malah ada orang yang menganggap saya gila karena menanam kelor,” tuturnya. Harap mafhum, selama ini sebagian masyarakat mengganggap kelor sebagai tanaman mistis penangkal sihir dan tak lazim dikebunkan. Apalagi Felix menanam tanaman keluarga Moringaceae itu di lahan luas, yakni mencapai 3 hektare di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Bram—panggilan Felix Bram Samora—menanam kelor bukan untuk menangkal sihir. Alumnus Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu mengebunkan kelor untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Pada 2015 ia bekerja sama dengan produsen aneka produk berbahan kelor untuk ekspor, Ir. Ai Dudi Krisnadi, yang membutuhkan pasokan bahan baku daun kelor.

Pangan super

Pada akhirnya Dudi mengeringkan dan mengolah daun kelor itu menjadi tepung untuk memasok pasar internasional. Informasi dari Dudi di luar negeri daun moringa—sebutan kelor di mancanegara—populer sebagai pangan bernutrisi tinggi. Food and Agricultural Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) menggadang-gadang moringa sebagai pangan super lantaran kandungan nutrisinya yang luar biasa.

Kandungan potasium atau kalium serbuk kelor 15 kali lebih tinggi daripada pisang. Kalium adalah salah satu unsur penting yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan jantung. Kandungan vitamin A serbuk kelor juga 10 kali lebih tinggi daripada wortel, kandungan zat besi 25 kali lebih tinggi daripada bayam, vitamin C setengah kali dari jeruk, kalsium 17 kali lebih tinggi daripada kalsium susu, dan protein 9 kali lebih tinggi daripada yoghurt.

Namun, ketika itu Dudi membutuhkan pasokan daun kelor yang dibudidayakan secara organik. Kualitas lahan dan teknik budidaya yang dilakukan juga harus tersertifikasi oleh lembaga sertifikasi organik yang diakui banyak negara di dunia. Kebetulan ayahanda Bram pegiat gaya hidup sehat yang gemar mengonsumsi pangan organik. Ia memiliki kebun di Desa Ngawenombo yang berlokasi dekat kediaman Dudi. Di kebun itu ayah Bram menanam aneka jenis komoditas secara organik, salah satunya singkong.

Potensi itulah yang dimanfaatkan Bram. Ia lalu menyulap lahan itu menjadi perkebunan kelor. Bram menanam moringa dengan bibit asal biji berjarak tanam 1 m x 1 m atau total populasi 10.000 tanaman per hektare. Ia membudidayakan kelor secara organik dan memperoleh sertifikasi organik dari lembaga sertifikasi Certification of Environmental Standards (Ceres) yang berkantor pusat di Jerman.

Bram mulai memanen daun kelor pada umur 4—5 bulan setelah tanam. Dari satu tanaman malunggay—sebutan kelor dalam bahasa Filipina—menghasilkan rata-rata 400 g daun segar atau total 4 ton daun segar per hektare. Bram juga bekerja sama dengan Dudi membangun sarana pengeringan dan pengolahan di dekat kebun. Menurutnya sarana pascapanen itu harus dibangun di dekat kebun agar hasil panen segera diolah. “Daun kelor harus segera dikeringkan maksimal 4 jam setelah panen untuk menghindari fermentasi,” jelasnya.

Jadi tepung

Bram melepaskan daun dari rantingnya, mencuci dalam air yang telah diozonisasi, dan mengeringkannya di ruang bersuhu 35°C. Daun kelor siap olah menjadi tepung setelah 3 hari pengeringan. Setelah kering, Bram menggiling daun moringa hingga menjadi serbuk berukuran 80 mesh. Dalam sebulan pria 31 tahun itu memasok 500 kg tepung daun kelor 80 mesh. Bram lalu menyerahkan serbuk daun kelor itu ke Dudi untuk dihaluskan lagi menggunakan mesin penepung rancangan Dudi.

Aneka jenis produk olahan berbahan baku kelor produksi Felix Bram Samora.

Alat itu mampu menghasilkan tepung daun kelor dengan tingkat kehalusan 200 mesh dan 500 mesh seperti yang diminta pasar ekspor. Harga jual tepung kelor berukuran 200 mesh Rp150.000 per kg dan 500 mesh Rp250.000 per kg. Kini usaha moringa milik Bram terus berkembang. Ia tak hanya fokus memproduksi tepung daun kelor, tapi juga mengolahnya menjadi aneka jenis produk.

Beberapa produk yang lahir dari tangan Bram adalah tepung daun kelor, teh seduh, teh celup, kapsul, sabun, dan cokelat kelor. Produk-produk itu ia jual di toko yang berlokasi di Blora dan Jakarta. Ia juga menjual produk kelor—semua bermerek bermerek Rumah Kelor— melalui situs penjualan dan media sosial. Siapa sangka tanaman mistis itu ternyata dapat menghasilkan omzet fantastis. (Imam Wiguna)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img