Menekuni budidaya sayuran hidroponik, mengolah menjadi penganan sehat, lalu mengekspor peranti budidaya ke Singapura.

Trubus — Keputusan Reyhan Hadisaputra sudah bulat. Ia berhenti dari perusahaan konsultan keuangan di Singapura untuk kembali ke tanah air dan memulai agribisnis. Keputusannya tepat, 3 tahun kemudian pria berumur 29 tahun itu kembali berurusan dengan negeri jiran itu. Reyhan justru melayani permintaan ekspor produk perangkat pertanian ke pasar Singapura.
Reyhan memproduksi pipa hidroponik di tanah air. Pasar negeri asal pesepakbola Fandi Ahmad itu meminati poduk kreasinya. Alumnus magister keuangan, University of New South Wales, Sydney, Australia itu. memproduksi pipa rancangannya di pabrik yang berlokasi di Kota Cilegon, Banten. Pada April 2019, Reyhan meluncurkan produk kreasinya dengan nama Gully Piping. Pada bulan yang sama ia berhasil menembus pasar perhotelan Singapura.
Ekspor
Pipa buatan Reyhan berbahan food grade atau aman untuk memproduksi makanan. Kelebihan lain lebih tebal 0,5 mm ketimbang pipa hidroponik yang telah beredar. Desainnya mudah dibersihkan dan mengurangi efek gosong daun akibat kontak daun dengan pipa. Bagian atas dan bawah pipa bisa dibuat terpisah dan disesuaikan sesuai kebutuhan tanaman. Ketahanan pipa lebih dari enam tahun.

Bandingkan dengan pipa atau talang air biasa hanya tahan sekitar 1 tahun. “Jika dibandingkan dengan talang air, efisiensi pipa hidroponik buatan kami lebih tinggi 5%,” kata Reyhan. Harga pipa hidroponik per meter Rp45.000. Namun, harga akan disesuaikan dengan kebutuhan total. “Kami menjual pipa hidroponik sepanjang 10 km di sana, sekarang ada proyek lagi sepanjang 25 km,” kata pemuda yang kini tengah tertarik dengan indoor farming itu.
Alasan pemuda 30 tahun itu memilih beragribsinis bermula dari kekalutannya terhadap kondisi kesehatan sang ayah yang anjlok lantaran penyumbatan pembuluh darah jantung. Reyhan bertekad membantu keluarganya, khususnya sang ayah, untuk hidup lebih sehat. “Dokter menyarankan untuk mengonsumsi 200 gram sayuran hijau per porsi,” ujar sarjana Akuntansi alumnus Monash University Malaysia itu.
Pria asli Bogor itu memutuskan untuk menanam sendiri sayuran yang akan dikonsumsi sang ayah di halaman kebunnya menggunakan teknik hidroponik. Pada tahun 2016, ia fokus menggeluti hidroponik sebagai profesinya. Dua tahun berselang, Reyhan membangun rumah kaca hidroponik bersistem nutrient film technique (NFT) seluas 400 m2 di kediamannya, di Perumahan Villa Duta Bogor.
Pangan sehat

Reyhan juga melengkapi dengan mesin otomatisasi mutakhir dari Selandia Baru. Reyhan hanya mempekerjakan 2 karyawan untuk menyemai, memanen, dan membersihkan area rumah kaca sekaligus pipa hidroponiknya. Selain di Bogor, kini pemilik kebun hidroponik bernama Villa Duta Farm itu juga mendirikan kebun seluas 3.000 m2 di Desa Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
Di sana ia mengembagkan tomat dan paprika. Reyhan pun kerap mengekspor komoditas hidroponik di kebunnya ke negara jiran, Singapura. Ia melihat pasar hidroponik makin berkembang. Permintaan komoditas tanaman hidroponik yang datang makin beragam. “Herbs atau tanaman bumbu seperti sage, dill, daun ketumbar, peterseli, dan edible flowers seperti pansy, viola, marigold, itu banyak diminta oleh koki perhotelan meskipun pengguna akhir memang belum banyak,” kata Reyhan.
Kemajuan pasar komoditas hidroponik juga datang dari segmentasi khusus produk hidroponik di hotel-hotel bintang lima. Pada Februari 2019 Reyhan bersama sang istri, Ervenda, memperlebar sayap bisnisnya ke bidang makanan dan minuman dengan meluncurkan label Harmony. Mereka memproduksi beragam salad dan jus dingin segar. Kelahiran Harmony merupakan wujud kemandirian agribisnis Reyhan ke arah hilir. Tujuannya mencipatakan produk pangan sehat untuk generasi muda.
Harmony menjual salad dan jus campuran dari 30—40% hasil kebun terbaik. Biaya produksi yang lebih murah memungkinkan Reyhan menjual salad bowl lezat berkualitas tinggi di kisaran Rp30.000—Rp55.000, dan jus campuran dengan harga Rp35.000. “Kalau kita lihat di Jakarta, seporsi salad kan sudah diatas Rp50.000, bahkan ada yang seporsi Rp100.000.” Penjualan produk makanan dan minuman masih berdasarkan penerimaan pesanan lewat serambi daring atau online. Rata-rata jumlah pesanan 40—60 pesanan setiap hari.(Tamara Yunike)
