
Kombinasi temumangga, pegagan, dan daun sendok terbukti manjur mengenyahkan sinusitis.
Kegembiraan Sapta Kurniati pulang kampung tidak berlangsung lama. Saat malam udara di tempat kelahirannya, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dingin. Sapta mulai terbatuk-batuk. Berbagai usaha meredakan batuk tidak berhasil hingga semalam suntuk ia susah tidur. Namun, ketika pagi menjelang, saat udara mulai menghangat, batuknya mereda dan benar-benar berhenti sepanjang siang hingga sore hari.
Kejadian berulang ketika udara kembali dingin. Penderitaannya berlanjut selama sepekan dia berada di kampung halamannya. Setelah kembali ke Jakarta, Sapta segera memeriksakan diri ke dokter. Dokter mendiagnosis ia menderita alergi udara dingin. Terlahir di daerah dingin, ia tidak habis pikir dengan kondisinya yang menderita alergi dingin. Menurut dr Prapti Utami, dokter penganjur herbal di Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kondisi itu wajar terjadi.

Sinusitis
Sapta telanjur beradaptasi dengan iklim Jakarta yang relatif panas dan kerap terpapar polusi. Saat udara dingin, wanita pencinta es krim itu pun menderita alergi. Sejak itu Sapta mudah terkena flu sampai lama. “Bisa sampai dua minggu baru sembuh, itu pun harus minum antibiotik,” ujar Sapta. Paparan polusi menurunkan daya tahan tubuh, sehingga mempercepat dan memperlama munculnya gejala alergi.
Lingkungan kerja berpendingin ruangan dan perjalanan jauh dari rumah ke kantor membuat tubuhnya mudah tertular infuenza. Pada 2006 atas saran teman, Sapta memeriksakan diri ke dokter spesialis teinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Dokter hanya memberikan obat tetes hidung untuk 5 hari. Sayang, obat itu tidak banyak membantu lantaran pehobi menulis itu masih sering mengalami pilek dan mudah tertular flu.
Akibatnya obat pilek dan antibiotik menjadi langganan Sapta. Akhirnya pada 2010, Sapta memutuskan berpindah tempat kerja yang dekat dari kediamannya di Karawaci, Tangerang. Namun, lingkungan kerja berpendingin ruangan membuat alerginya kerap kambuh. Puncak penderitaannya pada Februari 2012 ketika Sapta menderita flu berkepanjangan hingga 2 bulan. Ia pusing luar biasa di hidung dekat mata, suara sengau, hidung tersumbat, dan suara hilang.
Pada bulan berikutnya, ia terkena demam tinggi. Dokter memberikan obat antiradang dan beberapa obat lain untuk meredakan penyakitnya. Selama dua bulan itu pula, Sapta selalu merasa diikuti bau yang tidak sedap. Ternyata, bau itu berasal dari lendir dalam hidung, menandakan terjadi infeksi parah. Setelah membaca hasil pemeriksaan sinar X, dokter THT mendiagnosis Sapta menderita sinusitis etmoidalis, yaitu radang sinus di dekat mata.
Menurut dr Prapti sinusitis biasanya disebabkan oleh alergi yang menahun yang bermanifestasi di saluran napas. Biasanya alergi dingin atau debu berhubungan langsung dengan hidung sehingga menyebabkan pilek atau flu. Radang berkepanjangan mengakibatkan sinusitis. Sinus adalah rongga di tulang wajah untuk memperingan tulang tengkorak di bagian wajah. Untuk mengatasi sinusitis, dokter menyarankan Sapta menjalani pengobatan selama 6 pekan.

Kombinasi
Pada pekan pertama, petugas menyedot lendir dalam hidung dan memberikan antibiotik. Sapta mengonsumsinya selama sepekan. Pada pekan kedua dan seterusnya pun demikian. Namun, pikirannya mulai goyah dan berubah setelah kontrol kedua. Dia merasa capai menjalani pengobatan empat pekan mendatang. Selain itu biaya yang pengobatan juga tidak sedikit, untuk 2 kali pengobatan saja hampir Rp 2-juta.
Sapta pun berkonsultasi dengan dr Prapti. Atas saran dr Prapti Utami, ia mengonsumsi ekstrak rimpang temumangga, daun sendok, dan daun pegagan dalam bentuk kapsul. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari masing-masing satu kapsul. Sapta paham betul bahwa pengobatan herbal tidak langsung menyembuhkan, tapi bersifat menyeluruh dan memperbaiki sel atau organ yang bermasalah. Dua bulan setelah rutin konsumsi herbal itu, kondisi sinusnya membaik, lendir berkurang.
Selain itu indera penciumannya berangsur normal. Bau tidak sedap yang selalu terhirup pun hilang. Ia tahan paparan pendingin ruangan di lingkungan kerja dan bebas hidung tersumbat. Selain konsumsi 3 herbal itu, Sapta juga membawa air rebusan rimpang jahe dan sereh yang ditambah madu atau gula merah ketika bekerja. Minuman itu menghangatkan dan meningkatkan vitalitas tubuhnya.

Menurut herbalis dari Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Lukas Tersono Adi, penggunaan rimpang temumangga, pegagan, dan daun sendok efektif mengatasi sinusitis. Rimpang temumangga Curcuma mangga berkhasiat antiradang dan memperbaiki pencernaan, sementara pegagan Centella asiatica bersifat antibakteri, memperbaiki sirkulasi darah, dan merevitalisasi sel. Daun sendok Plantago major berkhasiat meluruhkan lendir di saluran pernapasan atas.
Menurut Lukas setiap orang mempunyai kondisi berbeda sehingga belum tentu cocok dengan herbal yang sama. Selain temumangga, pegagan dan daun sendok, Lukas mengombinasikan beberapa herbal lain seperti temuputih, sambungnyawa, temulawak, dan rumput mutiara. “Campuran itu bisa seluruhnya atau hanya beberapa, tergantung kondisi pasien,” kata Lukas. Setelah konsumsi selama 6 bulan, Sapta merasakan badannya lebih bugar dan bisa kembali mengonsumsi makan es krim kesukaannya. (Muhammad Awaluddin)
Sinus di Dekat Mata

