Wednesday, June 3, 2026

Bertahan Pada sang Ratu

Rekomendasi
- Advertisement -
524-HAL 94-95-1
Hamparan aglaonema di nurseri Irene Flora milik Harry Setiawan

Saat banyak pemain lain tiarap, Yendi Septifiyandi justru kebanjiran permintaan. Pekerjaan sebagai akuntan selama 10 tahun pun dilepas demi berkebun aglaonema.

Ratu daun itu memesona Yendi pada enam tahun silam. Ketika itu popularitas aglaonema sebagai tanaman hias daun memang tengah moncer. Bagi  alumnus Universitas Brawijaya itu daun sri rejeki bersosok cantik. Tak hanya terpana pada keindahan daunnya, Yendi juga melihat ada peluang bisnisnya. Yendi yang memang punya keinginan berbisnis dari rumah pun bagai menemukan tambatan hati.

Ia lalu membeli jenis-jenis yang tengah naik daun saat itu antara lain widuri, hot lady, gadis, legacy, adelia, dan dolores. Sebagian besar ia jual kembali, sisanya dipelihara untuk diperbanyak dan dijual anakannya. Tren aglaonema yang sedang di puncak membuat akuntan itu gampang menjual tanaman. Di masa keemasan itu harga jual sang ratu dinilai per lembar daunnya. Ketika itu sri rejeki berbanderol puluhan hingga ratusan juta rupiah per pot dengan cepat “disantap” para pehobi. Perputaran uang dari penjualan aglaonema saat itu ditaksir mencapai miliaran rupiah per bulan. Yendi ingat pada 2007 dari setiap pot aglaonema berdaun 6 helai minimal ia meraih laba Rp500.000.

Aglaonema hot lady milik seorang pehobi pada Trubus Agro Expo 2009
Aglaonema hot lady milik seorang pehobi pada
Trubus Agro Expo 2009

Bertahan

Pamor sang ratu mulai meredup seiring hadirnya tanaman hias lain sebagai pesaing. Yang terberat datangnya “gelombang” anthurium jenmanii. Pantauan Trubus menunjukkan pamor sang ratu mulai tergeser pada 2008. Seiring redupnya pesona aglaonema, omzet para pebisnisnya ikut turun. Yendi ingat pada 2009, ia hanya mampu meraup omzet Rp7-juta—Rp10-juta per bulan. Sebelumnya bisa  dua kali lipat. Laba dari setiap pot pun merosot hingga tinggal 10%-nya. Penelusuran Trubus menunjukkan beberapa pelaku aglaonema di seputaran Jakarta dan Tangerang berhenti bermain aglaonema sejak dua tahun terakhir.

Namun, meski omzet turun Yendi tidak lantas berganti haluan. “Permintaan masih terus mengalir,” katanya. Bahkan dua tahun terakhir ia justru kebanjiran permintaan. “Sebab harga aglaonema sudah terjangkau,” kata pria yang saat ini tengah bersiap memperbanyak rindu, bidadari, widuri, dan hot lady itu. Sepanjang 2012, misalnya, Yendi melepas rata-rata 100 pot per bulan dengan kisaran harga Rp100-ribu—Rp200-ribu per pot. Pembelinya seorang pedagang di Jakarta.

Saat mengikuti pameran tanaman hias tahunan di Jakarta, ia mampu memperoleh omzet Rp26-juta selama sebulan. Memasuki 2013 ia bahkan sampai harus menolak permintaan karena stok tanaman di lahan seluas 500 m2 terbatas. Melihat peluang bisnis aglaonema yang seolah tak pernah mati itu, pada 2012 Yendi pun mantap melepas profesi sebagai akuntan yang sudah dijalani selama 10 tahun untuk berbisnis aglaonema.

Kosong

Banjir permintaan juga mendatangi Harry Setiawan, pemain senior aglaonema di Kranggan, Bekasi, Jawa Barat. Di  nurseri seluas 5.000 m2, Harry rutin memasok minimal 200 pot aglaonema setiap pekan. Dengan harga sepot Rp100.000, misalnya, omzet per bulan minimal Rp80-juta. Itu baru untuk satu pelanggan. Harry memiliki 5 pelanggan tetap.

Solimin, pemain senior aglaonema di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, menjelaskan fenomena mereka yang bertahan meski pamor aglaonema tengah merosot. “Sejatinya peminat aglaonema itu tidak berkurang, justru semakin bertambah. Namun, saat masih di atas angin hanya segelintir orang saja yang bisa menikmati keindahannya,” tuturnya. Sebab ketika itu harga sang ratu daun kualitas prima memang aduhai, jutaan rupiah. Kini siapapun bisa menikmati aglaonema berkualitas dengan kisaran harga Rp100.000—Rp500.000. Harga hingga jutaan rupiah hanya berlaku untuk jenis mutasi, silangan baru, atau jenis langka.

Di lahan seluas 500 m2, Solimin mengembangkan 100 jenis aglaonema. Jenis yang paling banyak dicari antara lain adelia, moonlight, bidadari, widia, dan lipstik. Sepanjang 2012, setiap bulan, pemilik nurseri Winolia Flora itu melepas total 150 pot. Jumlah itu naik dua kali lipat pada 2013. Permintaan yang datang bukan hanya di Pulau Jawa, melainkan dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.

Sayang, laju permintaan tak sebanding dengan pasokan yang ada. “Stok saya nggak keburu untuk mengejar permintaan karena produksi tanaman lama,” kata Harry. Pemilik nurseri Irene Flora itu membutuhkan waktu 6—9 bulan hingga tanaman siap dilepas ke pasar. Menurut Harry kunci bertahan di bisnis aglaonema lantaran ia sangat menjaga kualitas. “Saya mengusahakan agar kematian tanaman di tangan konsumen maksimal hanya 1%,” katanya.

Sebelum pindah ke tangan pelanggan, Harry merawat tanaman pada media tanam porous campuran sekam mentah, sekam bakar, arang sabut kelapa, pasir malang, dan humus. Tanaman diletakkan di dalam shading net berlapis plastik penahan ultraviolet. Persentase cahaya matahari yang masuk sekitar 20—25%. Pria 45 tahun itu menyiram tanaman setiap hari, memberikan nutrisi, dan mengendalikan serangan cendawan setiap tiga bulan. “Ciri tanaman sehat adalah akar banyak dan berwarna putih, serta kuncup daun baru terlihat nembak alias kokoh,” katanya. Yendi menyebut kunci lain, yakni bermain dalam jumlah massal dan jenis beragam.

Stabil

Pemain aglaonema di Rawabelong, Jakarta Barat, Ukay Saputra Sanusi mengembangkan siam aurora, snow white, dynamic ruby, heng-heng, dan unyamanee. “Mereka adalah aglaonema silangan dari Thailand yang saya perbanyak sejak 2004. Kelimanya terpilih sebab mudah perawatan dan sesuai dengan iklim Indonesia,” katanya.

Ukay membanderol sepot aglaonema pada kisaran harga Rp10.000—20.000. Murah memang, sebab ia membidik pasar taman dan para pemula. Pada awal 2013, ada 2.000—3.000 pot yang terjual setiap bulan untuk satu jenis aglaonema. Sayang, lagi-lagi kecepatan produksi tak mampu menahan laju permintaan yang datang. “Dengan perbanyakan setek, saya butuh waktu 5 bulan sampai tanaman siap jual,” kata Ukay. Saat ini, stok aglaonema miliknya hanya 700 pot setiap jenis. Terakhir pada Juni 2013, ia hanya mampu memenuhi 1.000 permintaan pot siam aurora dari total permintaan 2.000—3.000 pot.

Menurut Indrijani Greg Hambali, istri penyilang aglaonema, Gregori Garnadi Hambali di Bogor, Provinsi Jawa Barat, saat ini bukan hanya kolektor tapi masyarakat luas ikut menikmati keindahan daun sri rejeki. Di nurseri milik Greg dan Indri kini tinggal tersisa harlequeen, astuti, dan kresna. Sementara jenis lain sudah habis. Tiara dan widuri paling tinggi peminatnya. “Orang mulai mencari kembali tanaman yang cantik, tapi dengan harga terjangkau,” kata Indrijani. Aglaonema memenuhi syarat itu.

Menurut Yudha Heryawan Asnawi, anggota staf pengajar dan peneliti program pascasarjana Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor, harga aglaonema yang beredar di pasaran saat ini adalah harga rasional yang ditentukan oleh biaya dan lama produksi. Ketika masih di puncak kejayaan, harga aglaonema tak terkendali sebab pasokan terbatas dan adanya pencitraan. “Aglaonema masuk dalam jajaran barang special class,” katanya. Namun, seiring berjalannya waktu, pasokan melimpah, harga pun perlahan turun.

Akhirnya orang-orang yang benar-benar mencintai tanaman lah yang menjadi penolong. “Mereka membeli untuk merawat dan menikmati keindahan daun sri rejeki,” kata Yudha. Ia menuturkan walaupun stok di sebagian besar pelaku sedikit, tapi harga yang beredar akan stabil di angka yang rasional. “Semua komoditas akan kembali di harga rasional,” ujarnya. (Andari Titisari)


Artikel Terbaru

Beternak Lebah Kelulut di Pekarangan Rumah, Investasi Awal Besar tetapi Minim Perawatan

Budidaya lebah tanpa sengat atau kelulut (Trigona itama) semakin diminati sebagai usaha sampingan yang dapat dijalankan di pekarangan rumah....

More Articles Like This