Friday, August 12, 2022

Seri Walet (196) : Kisah dari Negeri Seribu Ranjau

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tiga ratus rumah walet menyesaki kota Go Cong, Provinsi Tien Giang, Vietnam.

Setelah terbang selama 4 jam dari Jakarta, konsultan walet, Arief Budiman,   tiba di Bandara Long Tanh, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pukul 13.00.  Kedua rekan konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah itu, Toan Hue dan Adi Chandra, menyambutnya. Adi Chandra warga negara Indonesia yang puluhan tahun menetap di Vietnam, sedangkan Toan Hue, calon pembudidaya walet.  “Saya diundang untuk memberi masukan tentang perkembangan walet. Pebisnis walet di Vietnam menyebutkan konsultan dari Indonesia lebih matang daripada Malaysia,” kata Arief.

Setelah beristirahat sejenak di Hotel Tan Son Nhat di jantung kota Ho Chi Minh, Arief bersiap pergi menuju Kota Go Cong untuk melihat perkembangan hunian burung walet Colocallia fuciphaga. Kota Go Cong di barat daya kota Ho Chi Minh yang ditempuh dalam 3 jam bermobil dari Ho Chi Minh itu saat ini menjadi salah satu sentra walet di Vietnam. Tujuh tahun lalu kota seluas 102 km2 itu tidak memiliki bangunan walet. Padahal kondisi makrohabitat sangat mendukung ,ketersediaan pakan walet yakni serangga melimpah. “Di sana banyak lahan pertanian,” ujar Arief.

Satu kemasan isi 100 gram sarang walet dibanderol 3-juta VND setara Rp1,5-juta
Satu kemasan isi 100 gram sarang walet dibanderol
3-juta VND setara Rp1,5-juta

Sentra baru

Semula penduduk Go Cong hanya mengenal walet gua. Bangunan walet baru berdiri di Go Cong pada 2006.  Awalnya bangunan masih menyatu dengan toko, seperti tampak di beberapa kota di Indonesia yakni Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat dan Bima, Nusa Tenggara Barat. Saat ini setidaknya terdapat 300 bangunan walet berdiri di Go Cong. Budidaya walet di Vietnam memang baru berkembang pada pengujung abad ke-20 atau pascaperang Vietnam pada 1950—1975.

Ketika itu banyak walet gua di Pulau Salangane atau Dao Yen dan Pulau Hon Tre berpindah tempat antara lain ke pemukiman di pesisir sampai kota besar. Saat itu belum ada peternak di negeri Seribu Ranjau yang serius menekuni budidaya walet. Para pembudidaya walet di Kota Go Cong banyak yang mengadopsi teknik budidaya dari Indonesia. Le Danh Hoang, pembudidaya walet di Go Cong, menerapkan teknik menjaga kelembapan dari Indonesia. “Saya menggunakan mesin kabut 110 watt yang dinyalakan pada siang hari selama 4 jam,” ujar Le Danh yang rutin memanen 2 kg sarang walet setiap bulan sejak 2007. Teknik yang terbukti menambah produksi sarang itu kemudian diikuti tetangga di sekitarnya.

Walet bukan hanya dijumpai menghuni lantai atas ruko-ruko di Go Cong. Yang menarik sebuah bangunan bersejarah peninggalan Perancis di Vietnam juga menjadi sarang si liur emas. Gedung 2 lantai itu berdinding tebal sehingga suhu dan kelembapan di dalamnya sangat ideal untuk walet. Meski sudah berproduksi, belakangan pemerintah kota setempat menutup lubang masuk walet di gedung karena tidak paham fungsi lubang itu. Toan menuturkan penutupan itu untuk menjaga gedung agar tidak kotor dan mencegah bau tak sedap dari ceceran kotoran walet.

Setelah sehari penuh berada di Go Cong, rombongan Arief berpindah ke lokasi lain, yakni Kota Nhatrang di Provinsi Khanh Hoa. Di kota Nhatrang, burung berliur mahal itu dibudidayakan sejak 10 tahun lalu. Meski demikian produksi sarang walet gua juga menjadi incaran. Sarang walet gua diperoleh dari gua-gua di pulau Salangane yang dapat ditempuh 10 jam dari Ho Chi Minh. “Produksi sarang walet gua bisa mencapai 1 ton per tahun,” kata Toan. Hal itu wajar, mengingat di objek wisata itu masih terdapat hutan-hutan alami.

Kondisi itu mendorong adanya gunung buatan di pulau pada 2008. Pengunjung harus berjalan kaki menaiki ratusan anak tangga dari semen. Dinding batu setinggi 5 m mengapit sisi kiri dan kanan, seperti berjalan di lorong tanpa atap. Dengan bantuan mesin kabut permukaan luar gunung menjadi basah dan lantai gua juga becek karena kabut diarahkan ke lubang udara. Kelembapan gua buatan itu mengundang walet untuk datang. Selain itu sumber pakan yang juga tercukupi membuat kualitas sarang walet dari Pulau Salangane selalu terbaik di Vietnam. “Bentuknya mangkuk sempurna, tebal, dan putih bersih,” ujar Arief.

Restoran walet

Menurut Arief, harga walet di pasaran Vietnam, saat ini 3-juta VND (Vietnam Dong), setara Rp1,5-juta per 100 gram yang terdiri dari 10 keping sarang. Artinya, harga 1 kg walet berkisar Rp15-juta. “Harganya masih bagus dibandingkan di Indonesia,” ujar Arief. Kepingan sarang walet itu dikemas dalam plastik transparan sehingga memudahkan pembeli melihat bentuk dan kebersihan sarang walet itu. “Tapi banyak sarang yang dijual juga belum dibersihkan. Masih banyak bulu menempel di sarang,” katanya.

Menurut Adi Chandra, masyarakat Vietnam memang lebih senang membeli sarang walet seperti itu. Mereka khawatir sarang mulus tanpa bulu dibersihkan memakai obat pemutih kimia, Walhasil mereka memilih membersihkan sarang walet yang dibeli di rumah. “Sebagian besar masyarakat meyakini sarang burung walet berkhasiat memperpanjang umur,” kata Arief.

Sepanjang perjalanannya kembali ke Go Cong, Arief mendapati banyak tempat makan yang menyediakan aneka masakan memakai sarang walet. Salah satunya adalah Resto Yen Viet, yang menjual huong sen—minuman sarang walet—seharga 43.000 VND setara Rp21.500. Setiap hari restoran itu menjual 10 gelas. Boleh jadi yang diseduh itu berasal dari liur walet yang kini sudah banyak dibudidayakan di negeri itu. Wajar saja jika harga sarang walet di sana tinggi. Toh permintaan lokalnya saja belum dapat terpenuhi. Itu sebabnya para pengepul tidak semata-mata menjual sarangnya ke eksportir. (Rizky Fadhilah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img