Trubus.id— Beternak sapi di tengah kebun sawit terbilang menguntungkan. Sapi yang diumbar di kebun sawit akan memakan gulma dan membuang kotoran sehingga menghemat kebutuhan pupuk organik.
Wayan Supadno, salah seorang yang beternak di kebun sawit. Wayan memelihara 700 sapi di kebun sawit seluas 57 hektare. Lokasi kebun sawit miliknya yakni di Pangkalanbun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Saat sore, ia memberi bungkil inti sawit dan mencampurnya dengan molase, gula pasir, dan garam sebagai pakan sapi. Namun saat pagi ia mengumbar 500 sapi di kebun sawit. Sapi-sapi itu memakan rumput di sekitar kebun sawit.
Meski berkeliaran bebas, sapi-sapi itu dalam pengawasan karyawan Wayan. Satu orang karyawan mengawasi 90—100 sapi. Wayan memiliki 9 karyawan dan 1 dokter hewan. Karyawan wajib menghitung jumlah sapi sebelum diumbar dan ketika kembali ke kandang.
Wayan tertarik beternak sapi di kebun sawit lantaran dapat menekan biaya produksi sawit. Khususnya biaya pupuk organik. Sapi-sapi yang diumbar membuang kotoran di sekitar kebun.
Menurut staf PT Pupuk Kujang yang juga pengusaha mix farming berbasis biosains, Darmono, seekor sapi menghasilkan 15—20 kg kotoran per hari. Sebanyak 500 sapi milik Wayan diumbar, maka kotoran yang dihasilkan 7,5—10 ton per hari.
Seandainya Wayan membeli 7,5—10 ton pupuk kotoran sapi per hari seharga Rp20.000 per karung isi 20 kg, maka ia mengeluarkan biaya Rp7,5 juta—Rp10 juta per hari. “Dengan memelihara sapi, semua itu gratis,” ujar Wayan.
Hemat herbisida
Wayan juga menghemat biaya pembelian herbisida. Musababnya, sapi yang diumbar di kebun sawit memakan gulma. Menurut Wayan saat ini 60% biaya pokok produksi dikontribusikan dari pemakaian pupuk dan herbisida.
Lebih lanjut ia mengatakan biaya pokok produksi sawit sekitar Rp900 per kilogram. Asalkan petani mau beternak sapi, biaya produksi dapat ditekan menjadi Rp400 per kilogram. “Petani dapat menikmati margin tinggi,” ujar Wayan.
Hal itu sejalan dengan hasil konferensi tentang Integrasi Produksi Sapi dan Sawit atau Integrated Cattle and Oil-Palm Production (ICOP) di Jakarta pada 2019. Dengan memelihara sapi di perkebunan sawit mengurangi 24—43% biaya herbisida, 30—40% biaya pemupukan, dan peningkatan 15—25% produksi buah segar.
