Rumen ternak dan rimpang dapur mempercepat pembibitan pisang dan menghasilkan bibit tahan penyakit.
Trubus — Lasiyo Syaifudin membibitkan beragam pisang, total 30 jenis. Pembibit di Desa Sidomulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu mengunggulkan 5 jenis, yaitu rajabulu, rajabagus, rajasereh, ambon kuning, dan kepok. Jenis lain ada rajapulut yang menurutnya biasa ditampilkan dalam pernikahan, rajauter atau rajabandung untuk ditepungkan, rajakidang yang berkulit merah, dan kluthuk alias pisang biji.

Menurut Lasiyo ada 4 cara membibitkan pisang, yaitu dari anakan setinggi 1 m, tunas anakan setinggi 20—40 cm, dari mata tunas dengan cara mencacah induk, dan kultur jaringan. Lasiyo mengandalkan cara kedua, yaitu dari tunas anakan setinggi 20—40 cm. Cara itu, meski lebih lambat ketimbang membesarkan anakan 1 m, efektif menghasilkan banyak bibit dalam waktu relatif singkat. Dari sebatang induk, ia hanya bisa mendapat 2—4 anakan setinggi 1 m yang langsung siap tanam.
Isi rumen
Sementara itu kalau mengambil tunas 20—40 cm, Lasiyo mendapat 6—11 calon bibit. Menurut Lasiyo bibit itu perlu 2 bulan pemeliharaan sebelum siap tanam. Sementara itu kalau mencacah indukan, ia bisa mendapat 20 lebih mata tunas, tapi memerlukan 6 bulan pemeliharaan sampai menjadi 14—17 bibit siap tanam. Teknik kultur jaringan memerlukan laboratorium steril dan inkubator. Sayang, ia tidak memilikinya. Media tanam untuk pembibitan berupa campuran arang sekam, kompos, dan tanah (lihat boks Bedol Tunas Dapat Bibit).
Kompos hanya 2 bagian karena, “Bibit mudah stres ketika pindah tanam kalau media terlalu subur,” kata Lasiyo. Ia menggunakan arang sekam untuk menghambat pertumbuhan uret atau gayas yang merupakan larva kumbang Lepidiota stigma. “Telur kumbang uret gagal menetas dalam media arang sekam,” kata Lasiyo. Sebelum menanam bibit dalam polibag berisi media, Lasiyo mencelupkan tunas dalam zat perangsang tumbuh (ZPT) buatannya sendiri.

ZPT itu berbahan utama bawang merah dan air. Namun, kalau bawang merah mahal, Lasiyo mempersilakan untuk menggunakan daun kucai Allium tuberosum maupun tanaman mirip pandan kecil yang ia sebut rumput brambangan. “Tujuannya mempercepat pertumbuhan akar sehingga lebih cepat siap pindah tanam,” katanya. Sepuluh liter larutan ZPT memerlukan 0,5 kg bawang merah atau 1 kg daun kucai.
Kakek dua cucu itu menanam bibit pisang di media organik bikinannya. Mula-mula ia mencari isi rumen dari satwa ruminansia yang selalu terbuang. Biasanya saat Idul Adha Lasiyo mendatangi panitia kurban dengan membawa ember. Panitia dengan hati senang membantu mengisikan isi perut hewan itu ke ember Lasiyo. Mendekati tengah hari, ember bekas cat tembok berkapasitas 30 l itu terisi penuh sehingga kakek 2 cucu itu pulang.
Ia menambahkan air dengan volume sama lalu memindahkan rendaman rumen dalam jeriken besar berkapasitas 100 l. Tujuannya agar proporsi rumen, air, dan udara sama. Ia menutup tidak terlalu rapat agar gas yang terbentuk bisa keluar sekaligus mencegah lalat hinggap untuk bertelur. Selang 2—8 pekan, voila! Rendaman rumen itu menjadi larutan pengurai superampuh. Ayah 2 anak itu memanfaatkannya untuk membuat pupuk organik.
Bawang merah

Lasiyo menambahkan buah pakel atau kuweni Mangifera odorata untuk meredam bau selama proses fermentasi. Jumlahnya 10 buah per jeriken 200 l. Pengurai berbahan rumen itu mampu mengurai serasah menjadi kompos siap pakai dalam 2 pekan. Selain itu bahan kompos lain yang bisa diuraikan antara lain kotoran hewan, batang pisang, atau sampah pasar yang berupa sayuran atau buah busuk. Ia mencacah bahan-bahan itu lalu memfermentasi (baca Kompos ala Lasiyo).
Ia paling sering memanfaatkan serasah dan kotoran hewan karena kedua bahan itu paling mudah diperoleh di tempat tinggalnya. Lasiyo memanfaatkan kompos sebagai media tanam pembibitan pisang. Pembibit itu meletakkan tunas di lokasi teduh dan menyiram setiap hari. “Kalau musim hujan sesuaikan penyiraman dengan kelembapan media. Kalau masih basah tidak perlu disiram,” katanya menjelaskan.

Setelah keluar daun baru, bibit bisa terkena sinar matahari langsung. Bibit siap pindah lahan setelah berdaun 2—3. Selain menyiramkan air, ia juga rutin mengocorkan pestisida nabati yang ia buat dari rimpang dapur dan beberapa jenis daun (lihat boks Rimpang Dapur Antifusarium). Pemberian pestisida dengan cara mengocorkan ke pangkal batang, menyemprotkan ke daun, maupun menyuntikkan ke media tanam.
Tujuannya, “Mencegah serangan cendawan fusarium,” ujar pria yang menginternasional berkat membudidaya pisang secara organik sejak 2006 itu. Hasilnya terbukti efektif, ia mampu memproduksi 100—500 bibit per hari ketika pesanan dari berbagai daerah mengalir. Tidak ada yang mengeluh bibit terjangkit penyakit. (Argohartono Arie Raharjo)
