
Setiap Lebaran petai Parkia speciosa menjadi primadona. Namun, sepanjang 2016 boleh dibilang adem-ayem, tenteram. Tidak ada kontroversi yang tajam. Mengapa? Sebab harga petai turun signifikan akibat panen raya berlimpah. Di Jakarta harga ketengan berkisar Rp8.000 tiap satu papan atau renteng. Sementara di Kualalumpur cukup RM95 untuk setiap 100 papan yang disebut satu empong.
Satuan empong untuk 100 renteng atau papan itu umum dipakai di Lampung juga. Sedihnya, harga satu empong di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, anjlok dari Rp80.000 pada 2015 menjadi Rp35.000 pada Juni 2016. Tidak mengherankan, iklan petai bean menjadi marak di banyak negara seperti Singapura, Thaiand, dan Laos. Di Malaysia pemesan petai mendapat jasa antaran dari pintu ke pintu. Tarif 95 ringgit itu berlaku untuk kawasan Kualalumpur dan Shahalam.
Waspada berita bohong
Meskipun begitu, diskusi tentang petai tetap hangat di media sosial. Mengapa? Sebab, pendakwah dan penganut maniak petai makin gencar mengampanyekan khasiat petai alias kacang busuk atau stink bean yang mulai merambah pasar internasional. Terapi petai, jus petai segar, air rebusan kulit petai, bermacam resep mengolah petai muncul dalam banyak laman. Bisnis petai berjalan baik dalam satuan kilogram, lenjer atau lanjar, maupun renteng atau papan.
Yang luar biasa, bahkan nyaris tidak wajar adalah bermacam unggahan khasiat petai itu begitu banyak. Bisa ditandai “pete” dipakai oleh pejuang herbalis yang mengutamakan fungsinya sebagai obat. Sementara kata “petai” lebih umum di kalangan konsumen, pelahap, pemakan dan penyukanya sebagai sayur atau lalapan. Uniknya kewaspadaan pada petai juga meningkat drastis.

Benarkah petai berkasiat menurunkan kolesterol? Apakah petai menyembuhkan 12 macam kanker? Berapa dosis yang tepat konsumsi petai sebagai afrodisiak, obat stamina tubuh? Berbagai pertanyaan itu dapat Anda temukan di internet, di gawai mana pun. Tentu bisa membuat tercengang, kaget, dan curiga. Ada apa petai mendadak top? Meroket, mengalahkan saudara-saudarinya: jengkol, lamtoro, kedaung, mlanding, dan seterusnya.
Sejumlah nama pakar petai pun bermunculan. Ada yang mengatakan telah meriset sejak 1995, tetapi tidak sedikit juga yang dadakan alias pakar petai karbitan. Benefitnya jelas, informasi mengenai petai, manfaat, dan bahayanya tersedia berlimpah ruah. Jadi, bagi yang tidak suka petai tinggal mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan. Ada banyak penelusuran yang meragukan fungsi petai untuk menyembuhkan diabetes mellitus, penangkal depresi, penyembuh luka lambung, dan penghapus nyeri perempuan.
Ada lebih dari 20 manfaat petai yang umum dipertanyakan dan sekaligus diyakini. Bermacam diskusi di televisi juga mengangkat kulit petai, selain kulit manggis, daun sirsak, dan daun zaitun. Tentu, bagi para maniak petai selamat mengembangkan cerita dan penelitian baru sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Kita memang sedang memasuki zaman demokrasi pangan.
Budidaya dan inovasi
Di seluruh muka Bumi, manusia menyuarakan kedaulatan pangan, hak-hak untuk dihormati dan membela sumber kuliner hayati. Bahkan pada saat menemukan berita bohong atau “hoax” pun masih patut dicermati, dikoreksi, dan diluruskan. Dalam konteks agribisnis yang paling penting adalah ketersediaan komoditas dan perbaikan mutu. Majalah Trubus mencatat ekspor petai ke Timur Tengah berkembang sejak 1986.
Pengepul di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, misalnya, secara rutin mengirim 400 kg petai ke Arab Saudi. Hingga 2010 jumlah pengepul dan sentra produksi petai tersebar di Pemalang, Jawa Tengah, Kediri, Jawa Timur, dan Kalianda, Lampung. Namun, petai favorit dihasilkan di Pandeglang, yang terkenal manis dan renyah. Inovasi terpenting yang telah dilakukan untuk petai adalah mempercepat pohon berbuah.
Biasanya pohon petai baru berbuah setelah berumur 7 tahun. Namun, penemuan terbaru berhasil membuat petai dipanen pertama pada umur 4 tahun. Ada dua cara yang dapat ditempuh, yaitu dengan okulasi dan sambung pucuk. Hingga awal 2000-an, masih belum terbayang adanya kebun petai. Pohon-pohon petai tumbuh secara tradisional. Tinggi batangnya sering mencapai 30 meter dan memerlukan keterampilan khusus untuk memanen hasilnya.
Sekarang kita jarang melihat pohon-pohon yang tinggi itu baik untuk petai maupun durian. Namun, konsumsi dan ekspor petai tidak berkurang. Di sinilah peran budidaya dan inovasi perkebunan. Jangan sampai suatu saat Indonesia harus mengimpor petai dari negara lain.
Lebih lanjut, studi tentang petai dan kacang polong lainnya perlu dipertajam. Selama ini pembahasan berkutat pada resep kuliner petai dan manfaat petai untuk kesehatan.
Dampak buruknya, konsumsi petai berlebihan bisa merusak ginjal karena kadar asam aminonya tinggi. Itulah pekerjaan rumah yang harus diatasi. Sebaliknya, petai mengandung antitoksin yang bertugas menyingkirkan racun dari dalam tubuh. “Buktinya, semakin banyak racun yang berhasil disingkirkan, aroma urine, dan keringat semakin tajam,” kata Bambang Subaktyo, herbalis petai kondang.
Ia meneliti dan melakukan sosialisasi petai sejak 1995. Hasilnya sejumlah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Yang kurang disentuh adalah tataniaga petai. Indonesia memerlukan visi yang jelas. Jangan sampai perniagaan petai bean didominasi Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Pasar ekspor petai kita secara tradisional adalah Belanda, Asia barat, dan Hong Kong.
Industrialisasi produk petai dan turunannya masih perlu diperjuangkan dan diperkenalkan. Ini belum menyangkut gunting petai dan bejana logam untuk merebus petai seduhan. Semoga teknologi dan bisnis petai terus berkembang. Kita berdoa agar Indonesia menjadi pusat parkiologi, studi perpetaian dunia. ***
