
Tren anthurium terutama jenis nonjenmanii meningkat karena diminati konsumen mancanegara.

Trubus — Semula memelihara tanaman hias bukanlah hobi Arifin Saputra. Kini justru tanaman hias terutama varian kuping gajah menjadi sumber pendapatan utama warga Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Arifin menjual sekitar 75 kuping gajah hibrida seharga Rp500.000—Rp5 juta per tanaman setiap bulan. Artinya pendapatan Arifin Rp37,5 juta—Rp375 juta per bulan.
Ia mengutip laba minimal 30% sehingga memperoleh laba bersih Rp11,25 juta—Rp112,5 juta saban bulan. Penghasilan itu 4—37 kali lebih besar daripada gaji pekerjaan sebelumnya. Mayoritas konsumen Arifin berasal dari mancanegara seperti Slovakia, Amerika Serikat, dan Taiwan. Ia memasarkan kuping gajah melalui media sosial Facebook sejak 2017. Sebetulnya saat itu sudah ada permintaan dari luar negeri.

Sayangnya ia belum mengetahui cara pengiriman tanaman bergenus Anthurium itu ke pembeli di mancanegara. Barulah pada April 2019 Arifin melego dan mengirimkan koleksinya ke konsumen mancanegara. “Saya melihat stok tanaman sebelum menjual. Jika stoknya banyak, maka saya jual,” kata pria berumur 22 tahun itu. Dengan begitu ketersediaan tanaman dalam nurseri milik Arifin terjaga.
Menguntungkan
Pasokan kuping gajah relatif memadai karena ia memiliki lebih dari 50 induk yang terdiri atas lebih dari 100 jenis. Jika stok tanaman yang diminati konsumen kosong, ia mencarinya di nurseri milik teman. Kebetulan kawasan Ciapus sentra budidaya kuping gajah. Ia juga tergabung dengan Komunitas Pemuda Pencinta Tanaman Hias Ciapus (KPPTHC). Arifin tertarik mengembangkan kuping gajah karena variannya banyak.

Tidak hanya berdaun bulat yang menjuntai. Alasan lainnya ia bisa membikin hibrida baru sendiri berkat bimbingan dari adik ipar. “Jadi bisa untung besar,” kata pehobi tanaman hias sejak 2016 itu. Arifin bukan satu-satunya pebisnis tanaman hias yang mendapatkan untung dari kuping gajah. Nanang Koswara lebih dahulu menikmati laba berjualan kuping gajah sejak medio 2018.
Pengusaha tanaman hias di Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, itu mengantongi omzet Rp60 juta—Rp90 juta per bulan. Itu hasil penjualan 100—150 anthurium kuping gajah. Setelah dikurangi biaya operasional, tabungan Paul—sapaan akrab Nanang Koswara—bertambah sekitar Rp30 juta—Rp45 juta saban bulan. “Permintaan kuping gajah hibrid paling banyak pada Agustus hingga Oktober 2018,” kata pehobi tanaman hias sejak 2005 itu.

Ia rela pulang pergi Depok-Ciapus berjarak 60 km hampir setiap hari demi mendapatkan kuping gajah pesanan pembeli. “Saya keteter memenuhi permintaan konsumen. Saya minta bantuan tetangga untuk mengemas tanaman karena saat itu belum ada tim,” kata pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, itu. Konsumen Paul pun berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Korea Selatan, dan Singapura.
Ia mengandalkan media sosial Instagram untuk memasarkan produknya. Sepengamatan Paul tren perniagaan tanaman aroid termasuk anthurium nonjemanii seperti kuping gajah meningkat sejak medio 2018. Salah satu pemicunya tren penghijaun untuk mengatasi pemanasan global. Lalu berkembanglah penghijauan secara vertikal karena keterbatasan lahan.
Kemudian tren penghijauan dalam rumah pun digandrungi. “Tanaman aroid seperti philodendron dan anthurium adaptif tumbuh di dalam ruangan,” kata Paul. Selain itu, gaung perdagangan aroid termasuk kuping gajah membahana lantaran persebaran informasi yang cepat melalui media sosial. Adanya lelang tanaman hias di laman jual-beli barang berskala internasional seperti eBay pun mendongkrak penjualan anthurium kuping gajah. Padahal awalnya eBay sohor karena menjual beragam produk kebutuhan rumah tangga. Tidak termasuk tanaman.
Pasokan kurang
Paul menduga perusahaan asal Amerika Serikat itu mulai memasukkan tanaman sebagai barang dagangan sejak 2017. Sejak saat itulah patokan harga tanaman hias mengacu pada eBay. Hingga kini Arifin dan Paul pun kewalahan memenuhi permintaan kuping gajah. Jika stoknya ada, Arifin yakin 150 kuping gajah miliknya pasti ludes. Sementara penjualan tanaman kerabat philodendron itu di tempat Paul baru memenuhi 30% permintaan. Artinya ceruk pasar anthurium khususnya kuping gajah sangat besar.
Paul menuturkan, “Permintaan setiap bulan bisa ribuan tanaman jika stoknya ada.” Saking kuatnya tren penjualan kuping gajah ke luar negeri, beberapa anak lulusan sekolah menengah atas (SMA) di Ciapus pun merasakan laba tanaman itu. Bahkan ibu-ibu di daerah itu pun berjualan kuping gajah. Tingginya permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan stok tanaman.

Dampaknya harga tanaman melambung tinggi. Paul pernah membeli kuping gajah jenis tertentu seharga Rp15.000—Rp20.000 per tanaman pada medio 2018. Kini harga tanaman yang sama mencapai Rp300.000—Rp350.000. Harga tinggi juga karena perbanyakan kuping gajah gampang-gampang susah. Paul mengatakan, konsumen luar negeri menyukai anthurium nonjenmanii yang bertangkai seperti kuping gajah.
Terutama yang daunnya bernuansa gelap. Intinya anthurium yang menyerupai philodendron. Terkereknya pamor anthurium nonjemanii saat ini karena tren philodendron menguat. Ketua Komunitas Pencinta Anthurium Jakarta (Kopaja), Agustinus Gunawan Sriutomo, berharap nantinya konsumen luar negeri pun melirik jenmanii variegata.
Yang mesti diperhatikan adalah cara membuat anthurium variegata itu relatif adaptif terkena sinar matahari langsung. “Tidak menutup kemungkinan setelah tren philodendron berlanjut ke anthurium,” kata Agustinus. Ia meyakini jika ada konsumen dari Amerika Serikat atau Eropa membeli jenmanii variegata bisa menjadi pemicu meningkatnya permintaan jenis itu. Jika itu terjadi sangat menguntungkan komunitas anthurium. Harap mafhum Indonnesia memiliki banyak stok jenmanii variegata.
Pehobi anthurium senior di Ciputat, Kota Tangernag Selatan, Banten, Ricky Edward Mandagie, menyambut positif naiknya tren kuping gajah setahun belakangan ini. Ricky sudah memprediksi kuping gajah bakal naik daun ketika mengunjungi pameran tanaman hias di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 2016. Saat itu ia menyaksikan varian kuping gajah kreasi penangkar di Ciapus makin banyak.
Atas dasar itulah Ricky menduga kuping gajah bakal naik daun pada 2019 dan itu terbukti. “Naiknya tren kuping gajah bukti kemajuan para penyilangnya. Artinya mereka fokus mengembangkan varian baru,” kata pria yang terpikat kemolekan anthurium sejak 1980 ketika duduk di bangku SMA itu.

Agar langgeng
Lalu sampai kapan tren kuping gajah bertahan? Arifin mengatakan saat ini baru babak permulaan dari tren kuping gajah. Variasi kuping gajah juga banyak sehingga ia berharap tren tanaman itu bertahan hingga 2024. Paul sependapat dengan Arifin. “Bahkan tren kuping gajah bisa lebih lama lagi karena pasarnya global. Apalagi jika didukung dengan kehadiran varian baru,” kata Paul yang juga pemilik Nurseri Bogana Pot Plants.
Lebih lanjut ia menuturkan sekarang waktu yang tepat membangun bisnis tanaman hias terutama aroid seperti anthurium. Musababnya pasar dunia mengenal Indonesia sebagai pemasok kuping gajah. Jadi ia menyarankan pemain pemula memilih jenis anthurium nonjemanii bertangkai karena trennya masih kuat. Siapkan stok tanaman dahulu. Setelah itu baru cari pasar. Jangan terlalu mengikuti tren. Jika memungkinkan cipatkan tren baru. Harapannya tren kuping gajah dan jenis anthurium (berasal dari kata anthos dan oura) lainnya langgeng. (Riefza Vebriansyah)
