Berhenti sebagai manajer hotel lalu serius menangkarkan cupang. Waktu luang dan pendapatan lebih melimpah.
Trubus — Septian Dwi Suryana Putra bulat pada keputusan: berhenti sebagai manajer hotel. Septian keluar menjabat sebagai manajer pemasaran hotel di Kota Bogor, Jawa Barat. Pria 31 tahun yang mengelola 2 hotel itu amat sibuk. Pukul 07.00 bergegas ke kantor. Barulah pukul 21.00 ayah 4 orang anak itu kembali ke rumah. “Bahkan hari libur kerap masuk kerja setengah hari,” paparnya. Rutinitas itu selalu sama hingga 2016.

Kini rutinitas Septian berubah. Setiap pagi ia memberi pakan ikan cupang Betta splendens peliharaannya mencapai 3.000 ekor. Ia menangkarkan ikan hias nan elok itu di depan rumahnya di Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor “Total indukan 20 pasang, 11 pasang plakat, 9 pasang halfmoon dan double tail,” kata Septian. Menurut Septian menjadi penangkar cupang lebih unggul dari segi waktu dibandingkan dengan menjadi manajer hotel.
Kualitas kontes
Semula Septian hanya menganggap ikan anggota famili Ophromidae itu sebagai hobi. Ia jatuh hati pada sosok ikan hias itu. Pada 2016 tren penjualan ikan hias lewat daring sangat pesat. Septian yang kerap mengunggah foto klangenannya di media sosial ternyata menarik banyak peminat. Banyak yang tertarik ikan tangkaran Septian. “Dulu hanya punya 5—10 ekor,” kata pehobi cupang sejak 2008 itu.
Seiring berjalannya waktu permintaan makin banyak. Konsumen menyenangi ikan tangkaran Septian. Harap mafhum, ikan tangkaran Septian berkualitas kontes, sehingga pangsa pasar menengah ke atas. Setiap hari rata-rata penjualan 15 ekor. Adapun harga jual Rp500.000—Rp3 juta per ekor tergantung mutu ikan. Omzet dari perniagaan cupang rata-rata Rp7,5 juta—Rp45 juta per hari.

Keruan saja omzet itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaji sebagai manajer pemasaran hotel. Menurut Septian menjadi penangkar cupang juga memiliki tanggung jawab sama beratnya dengan manajer hotel. Demi menghasilkan cupang bermutu perlu memperhatikan manajemen perawatan dan produksi. Perawatan meliputi pengelolaan air dan pakan. “Alhamdulillah air di Bogor mendukung sekali untuk budidaya cupang,” katanya.
Pasokan air berasal dari mata air sehingga tidak perlu perlakuan khusus. Bandingkan dengan air leding. Penangkar cupang perlu mengendapkan dahulu zat terlarut sebelum digunakan untuk ikan. Urusan pakan pun selalu tersedia. Pakan alami meliputi kutu air dan cacing darah. Ia memberikan artemia untuk burayak atau anak ikan. Manajemen produksi meliputi kontrol indukan untuk penangkaran.
Menjaga mutu

Septian rutin mengawinkan ikan setiap pekan. Alumnus Universitas Gunadarma itu mengenal betul karakteristik indukan. “Biasanya hanya 1—3 ekor yang berkualitas di atas kelas kontes dalam sekali tangkaran,” katanya. Salah satu ikan jawara tangkaran Septian adalah cupang metallic light single tail male show plakat. Ikan itu meraih best of show kontes cupang internasional yang di Bali pada 10—12 Mei 2019.
Menurut Septian menjadi penangkar cupang perlu mengetahui kriteria ikan jawara. Artinya penangkar harus benar-benar hobi. Setelah itu barulah bisa menyeleksi induk. Tepat memilih induk tentu berimbas menghasilkan keturunan yang baik. Setelah itu ia menyortir anakan. Berdasarkan pengalaman Septian, jika induk berasal dari tempat penangkarannya, sortasi anakan bisa dilakukan pada umur burayak 2 bulan.
Adapun indukan dari luar baru bisa sortasi pada 3,5 bulan. Cupang terus bermutasi hingga dewasa. Ia lebih memahami induk dari penangkaran sendiri. “Masa keemasan cupang kontes 4—8 bulan, setelah itu bisanya performa menurun, bisa untuk penangkaran,” katanya. Menurut Septian kualitas ikan dan kepercayaan konsumen selalu menjadi prioritas. Itulah salah satu kunci sukses Septian menangkarkan cupang. (Muhamad Fajar Ramadhan)
