Meracik penawar diabetes melitus berbahan tebu dan aneka herba. Permintaan meningkat membuat produsen kewalahan.

Trubus — Gita Adinda Nasution baru berumur 10 tahun ketika ayahnya, Bisman Nasution, mengidap diabetes melitus. Kadar gula darah ayahnya pada 2004 mencapai 180 mg/dl, idealnya maksimal 140 mg/dl. Perempuan yang kini berumur 25 tahun itu masygul. Apalagi ketika penglihatan sang ayah makin kabur akibat kadar gula darah melambung. Tubuh gemuknya kian lama menyusut menjadi kurus.
Gita yang gemar membaca mencari informasi pengobatan diabetes melitus. Ia kerap berjalan kaki ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Jarak dari rumahnya 2 km. Anak ke-3 dari empat bersaudara itu ingin memberikan obat untuk kesembuhan ayahnya. Itu pula yang mendorong Gita menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, dan selesai pada 2016.
Manis versus manis
Impian besar itu menjadi kenyataan. Gita meracik tebu yang justru rasanya manis. Itu bertolak belakang dengan proses penemuan “obat” diabetes melitus selama ini. Para herbalis menuturkan, nenek moyang menemukan penawar diabetes melitus lazimnya dengan memanfaatkan herba yang pahit seperti sambiloto Adrographis paniculata atau brotowali Tinospora crispa.

Namun, Gita justru memanfaatkan tanaman yang menjadi sumber pemanis, yakni tebu Saccharum officinarum. Selain tebu ia menggunakan beberapa herba lainnya. Sayangnya, Gita enggan menuturkan jenis herba dan detail proses pembuatan racikan itu. Ia menyebutnya kolagit, akronim dari kopi gula gita. Sebutan kopi hanya karena rasanya yang pahit bercampur manis dan sedikit kelat. Jadi, pada ramuan itu tidak ada tambahan kopi sama sekali.
Perempuan kelahiran 2 Juli 1994 itu memberikan kolagit kepada ayahnya pada 2008. Dosisnya hanya satu sendok makan kolagit dalam 200 ml air hangat. Ia mengaduk rata dan Bisman meminumnya. Frekuensi konsumsi dua kali sehari sebelum makan. Bisman Nasution merasa lebih bugar setelah mengonsumsi kolagit. Sebulan berselang Bisman Nasution mengecek kadar gula darah. Hasilnya menggembirakan, kadar gula menjadi 120 mg/dl. Perubahan itu membuat Bisman Nasution disiplin mengonsumsi kolagit.
Konsumsi selama 1,5 tahun terbukti memberikan hasil nyata bagi ayahanda. Kini kadar gula darah Bisman normal, bobot tubuh stabil pada angka 74 kg, dan tubuh pun bugar. “Kami memang tidak mau bergantung pada obat-obatan komersial. Tetapi herba juga diperhatikan dosisnya dan dibarengi dengan pola hidup yang sehat. Ayah selalu saya ingatkan untuk rutin berolah raga,” kata Gita yang menamatkan studi Farmasi pada 2016.

Titik balik kehidupan Gita bersama ketika mengikutkan kolagit dalam pameran teknologi tepat guna pada Desember 2013. Gita memamerkan temuannya berupa kolagit. Penyelenggara kegiatan itu Unit Pembinaan Pengembangan Kegiatan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Di ajang itu Gita menjadi juara umum dan menarik banyak media nasional dan internasional. Sejak itu permintaan terhadap kolagit terus meningkat.
Permintaan tinggi
Gita mengemas kolagit yang bentuknya serbuk dalam kemasan plastik bervolume 800 gram. Peminat kolagit dari berbagai kota dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, Gita sukses menembus pasar mancanegara seperti Malaysia dan Korea Selatan. Banyaknya permintaan membuat Gita kewalahan meski 14 orang membantu proses produksi. Adapun harga sebuah botol kolagit Rp185.000.
Konsumen tak perlu khawatir mengonsumsi kolagit karena mendapat rekomendasi untuk penjualan skala rumahan oleh pemerintah setempat. Artinya kolagit baru bisa dikonsumsi untuk kalangan sendiri. Gita pun mengantongi izin produksi kolagit, tinggal menyelesaikan proses registrasi. Namun, untuk mengetahui dosis konsumsi, konsumen sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan Gita. “Racikan setiap orang juga beda-beda. Selain tebu kami punya tambahan herba yang disesuaikan pada keluhan,” kata Gita.
Kesegaran kolagit tentu terjamin karena peracikan dilakukan setiap pesanan datang. Oleh karena itu, pengiriman baru bisa dilakukan sehari setelah pemesanan. Gita berharap hadirnya kolagit membantu masyarakat dari jerat penyakit diabetes. Gita berprinsip hidup manusia berasal dari alam, maka dalam menyelesaikan bermacam masalah pun harus kembali ke alam. (Hanna Tri Puspa Borneo)
