Friday, January 16, 2026

Bit Merah Turun Gunung

Rekomendasi
- Advertisement -

Bit merah dan kembang kol yang biasa tumbuh di pegunungan, tumbuh sentosa di dataran rendah.

Siang pada awal September 2017 itu Bojonegoro begitu terik. Harap mafhum kemarau masih melanda kabupaten terletak di bagian utara Jawa Timur itu. Panasnya udara tetap menyergap meski Trubus berlindung di bawah atap sebuah restoran. Pelayan menyodorkan segelas minuman berwarna merah menyala. Pemilik restoran, Sudjono Susilo, mempersilakan Trubus untuk mencicipi. Cecapan pertama meninggalkan rasa getir di lidah. Namun saat minuman meluncur di tenggorakan, rasa segar datang. Sensasi segarnya seakan menghalau teriknya matahari kemarau.

Atap plastik menahan air hujan.

Wakil manajer operasional PT Agroguna, perusahaan yang menaungi restoran itu, Nanang Wahyudi, menyatakan minuman itu berbahan bit merah. Nanang memanfaatkan bit dari hasil penanaman sendiri di kebun di samping restoran. Tanaman asal Mediterania itu lazimnya di tanahair dikembangkan di dataran tinggi. Kebun Agroguna terletak di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, berketinggian kurang dari 100 m di atas permulaan laut. Bit merah turun gurung?

Plot penanaman
Bit berasal dari negara 4 musim. Lazimnya saat diadaptasikan ke daerah tropis, penanamannya di dataran tinggi. Di tanahair bit misalnya banyak ditanam di daerah berelevasi lebih dari 500 m dpl seperti Kota Batu, Jawa Timur atau Lembang, Jawa Barat. Menurut guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Anas Dinurrohman Susila, M.Si., tanaman yang lazim tumbuh di dataran tinggi tidak akan berproduksi ketika ditanam di dataran rendah. “Kembang kol tidak akan terbentuk, sedangkan bit merah tidak membentuk umbi,” kata Anas. Musababnya, suhu malam hari yang tinggi di dataran rendah membuat respirasi tanaman lebih tinggi. Respirasi tinggi menghabiskan energi hasil fotosintesis siang harinya.

Bingkai plot penanaman menahan air dan media tanam.

Akibatnya tanaman tidak memiliki cadangan energi. Di dataran tinggi, malam hari lebih dingin sehingga cadangan energi hasil fotosintesis digunakan untuk membentuk kepala kembang kol atau umbi bit merah. Anas menduga Agroguna menanam varietas bit merah yang adaptif di dataran rendah. Namun, “Biasanya penanaman di dataran rendah menurunkan produktivitas,” kata Anas. Meski masa tanam di dataran rendah biasanya lebih singkat karena periode penyinaran sinar matahari lebih lama, tapi hasilnya tidak sebanyak di dataran tinggi.

Di Agroguna, bit merah tumbuh baik. Nanang dan pekerja menanam Beta vulgaris itu dalam bedengan sepanjang 4,5 dan lebar 1,2 m. Bedengan itu dibuat dengan memasang papan kayu setinggi 25 cm membentuk kotak yang mengelilingi plot penanaman berisi tanah. Plot itu sekaligus mencegah air penyiraman terbuang ke luar bedengan. Cara penanaman dalam plot karena tanah di Bojonegoro berjenis aluvial yang mengeras saat kemarau dan sulit menyerap air ketika hujan. Pada kondisi tanah seperti itu pertumbuhan tanaman tidak optimal.

Kabag Perekonomian Bojonegoro, Rahmat Junaidi MPH memanen bit merah di Agroguna.

Mereka kemudian mengisi plot tanam dengan pupuk kandang dan mencampurnya dengan tanah. Setiap plot mendapatkan 10 kg pupuk kandang. Dengan campuran pupuk kandang, tanah menjadi remah. Harap mafhum, semula lahan itu ditanami padi bergantian dengan tembakau. Residu pupuk dan pestisida kimia membuat tanah keras dan sulit diolah. Usai meratakan pupuk, pekerja menanam langsung benih sayuran. Jarak tanam bit 30 cm. Setiap plot ditanami 45 butir benih. Selain bit, Agroguna juga menanam tanaman dataran tinggi lain yakni kembang kol. Pekerja menanam kembang kol dalam pola zigzag dengan jarak antartitik 60 cm sementara jarak titik tanam ke dinding plot 30 cm. Setiap plot ditanami 15 benih karena kembang kol tumbuh melebar.

Manajer operasional PT Agroguna, Gede Irawan.

Organik
Budidayanya secara organik. Pekerja mengandalkan pupuk kompos berbahan kotoran hewan dan serasah daun sebagai sumber nutrisi. Volume pemberian 10 kg per bedengan sebelum menanam. “Tidak ada penambahan pupuk lagi sampai panen,” kata Muhammad Rofi’an, pengurus kebun. Perawatan lain penyiraman setiap pagi dan sore serta penyiangan gulma yang tumbuh di sela tanaman. Gulma tumbuh lantaran pupuk kandang terkadang membawa biji tanaman liar.

Pekerja tetap menyiram meski musim hujan karena plot tanaman dinaungi atap plastik dan jaring peneduh berkerapatan 50%. Menurut Nanang, plastik berfungsi menahan air hujan agar tidak merusak daun, terutama jenis sayuran daun tipis. Saat pergantian musim kerap muncul hama perusak daun seperti belalang atau kutu. Pada musim hujan, kendalanya cendawan. Rofi’an mencegahnya dengan menyemprotkan ramuan pestisida nabati.

Pekerja mengolah pupuk organik sebelum digunakan.

Pestisida itu berupa asap cair sebanyak 250 ml yang dicampur dengan air dalam tangki semprot 14 l. Ia menyemprotkan asap cair bergantian dengan rendaman 500 g tembakau dalam 30 liter air. Penyemprotan setiap 2—3 hari atau setelah hujan pada siang hari. Bit merah dan kembang kol siap panen pada umur 9—10 minggu. Produksi kembang kol dari plot seluas 5,4 m² sebanyak 5—7 kg, sedangkan bit merah 4—6 kg. Saat Trubus berkunjung, masing-masing hanya ada 1 plot kembang kol dan bit merah.

Selain bit merah dan kembang kol, Agroguna juga menanam tanaman sayuran lain. Manajer operasional Agroguna, Gede Irawan, memilih 14 jenis sayuran di antaranya pakcoy, bayam, bayam merah, dan kale. Semua produk itu diminati konsumen. Kebun terletak di tepi jalan penghubung Bojonegoro—Surabaya, itu menjalin kerjasama dengan restoran besar di Bojonegoro dan pengecer sayuran organik di Surabaya. Mereka mengirim sayuran 2 kali seminggu, yaitu pada Senin dan Kamis.

Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Bojonegoro, Rahmat Junaidi, M.P.H., mengapresiasi keberhasilan Agroguna mengembangkan berbagai jenis sayuran. “Selama ini Bojonegoro hanya menjadi pasar bagi produk sayuran dari daerah lain,” kata Rahmat. Ketika tiba di sana, kondisi sayuran itu sudah kurang segar karena dipanen paling cepat malam hari sebelumnya. Jika memproduksi sendiri, masyarakat Bojonegoro bisa menikmati sayuran yang baru panen sehingga lebih segar. Salah satu unggulannya bit merah yang turun gunung. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img