Eva Lasti Apriyani Madarona membudidayakan sayuran bunga dengan teknik hidroponik.
Sore itu pukul 14.30 Eva Lasti Apriyani Madarona sibuk memetik bunga-bunga yang tumbuh di dalam ratusan pot. Ratusan pot itu tertata rapi di dalam rumah tanam yang dibangun di atap rumahnya di kawasan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat. Ia lalu menyusun bunga hasil panen dalam kotak kemasan plastik transparan. Satu kotak berisi 40—50 kuntum bunga. Hari itu Eva memanen bunga sebanyak 8 kemasan untuk memenuhi permintaan salah satu pelanggan di Jakarta.
Menurut Eva, bunga yang ia petik itu adalah bunga yang dapat dikonsumsi alias edible. Para juru masak biasanya menggunakan bunga edible sebagai garnis atau penghias makanan. Ada juga koki yang menggunakan sayuran bunga sebagai salah satu bahan baku salad. Sayuran bunga juga dapat dicampur dengan es krim, permen, atau kue. Perempuan kelahiran Depok, Jawa Barat, itu membudidayakan lebih dari 10 jenis tanaman hias yang bunganya dapat dikonsumsi, seperti cosmos, nasturtium, dianthus ‘rainbow loveliness’, pansy viola, dahlia, verbena grandiflora, viola heartease, dan lainnya. Saat mekar serempak hamparan aneka jenis tanaman hias itu menyajikan pemandangan yang memanjakan mata siapa pun yang berkunjung ke rumah Eva. Warna bunga bervariasi, seperti merah, biru, dan ada pula campuran antara ungu dan kuning.

Penyemaian
Eva menanam sayuran bunga dari benih. “Walau waktu panen lebih lama, tapi hasilnya lebih memuaskan. Kuntum bunga lebih besar,” tuturnya. Ia menyemai benih bunga pada tray atau wadah berisi media tanam perlit. Tambahkan vermikulit, lalu tebar benih di permukaan media itu. Siram permukaan media tanam menggunakan handsprayer secara teratur 2 kali sehari. Jaga temperatur media tanam pada suhu 21—23°C.
Eva menuturkan, beberapa macam bunga seperti viola, pansy, dan dahlia menyukai kondisi lingkungan yang sejuk. Oleh sebab itu saat cuaca panas, Eva menutupi wadah persemaian dengan kain atau plastik agar tidak terpapar sinar matahari langsung. Benih berkecambah pada umur 15—20 hari setelah semai, tergantung jenis bunga.

Setelah bibit bunga terdiri atas 3—5 helai daun, Eva lalu memisahkan masing-masing tanaman dalam pot berdiameter 5 cm. Pot itu berisi media tanam berupa campuran perlit, vermikulit, dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 3. Ia lalu menempatkan pot-pot itu di permukaan talang. Pada talang itu mengalir nutrisi hidroponik khusus untuk tanaman bunga berkonsentrasi 1.000 ppm.
Bunga untuk konsumsi wajib bebas kontaminasi bahan kimia. Oleh sebab itu penyemprotan pestisida “haram” dilakukan selama membudidayakan tanaman sayuran bunga. “Ciri tanaman yang disemprot pestisida dapat dilihat dari ada atau tidaknya lebah atau serangga yang mendekati bunga,” tutur alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu.
Panen
Masa berbunga masing-masing jenis tanaman hias berbeda-beda. Tanaman pansy dan viola, misalnya, mulai berbunga pada umur 70—84 hari setelah tanam. Adapun dahlia mulai berbunga pada umur 50 hari setelah tanam. Pada saat berbunga, pangkas beberapa bunga dan sisakan beberapa kuntum agar bunga yang tersisa tumbuh lebih maksimal.

Saat panen dan pengemasan, Eva melakukannya sendiri karena butuh ketelitian dan kesabaran. “Saat panen bunga tidak boleh diletakkan sembarangan karena dapat merusak dan mengurangi ketahanan bunga,” tuturnya. Eva memanen 150—200 kuntum bunga per hari. Ia lalu mengemas bunga dalam kotak plastik berisi 40—50 kuntum aneka jenis bunga dengan harga Rp4.000—Rp5.000 per kuntum atau rata-rata Rp120.000 per kemasan. Eva menjual seluruh hasil panen ke pasar swalayan, restoran, dan hotel di Jakarta dan Bandung. Ia juga menjual sayuran bunga melalui media sosial dengan merek Ijo Hydro.
Ibu 2 anak itu membudidayakan beragam bunga dengan sistem hidroponik sejak 2010. Eva memilih teknik hidroponik karena budidayanya relatif lebih mudah. “Bila ada masalah bisa segera diatasi,” ujarnya. Respon tanaman setelah perlakuan perbaikan akan terlihat dalam 3—4 hari.
Kendala
Meski demikian, bukan berarti membudidayakan sayuran bunga dengan teknik hidroponik tanpa aral melintang. “Sebelumnya saya melakukan uji coba selama 2—3 bulan untuk mencari formula nutrisi yang paling pas agar sayuran bunga tumbuh optimal di dalam greenhouse,” katanya. Serangan hama juga kerap menjadi ancaman. Pada akhir 2016, sayuran bunga milik Eva terserang hama thrips. “Awalnya hanya 3 tanaman yang terserang. Akhirnya saya menghentikan penanaman karena takut hama itu menyebar lebih luas,” paparnya. Gara-gara serangan itu ia merugi hingga Rp2-juta. Para pelanggan pun terpaksa menunggu beberapa bulan hingga kondisi tanaman kembali normal.
Tantangan lain dalam membudidayakan sayuran bunga adalah kondisi pasar. Menurut pakar hidroponik, Yos Sutiyoso, kondisi pasar sayuran bunga hidroponik saat ini adalah pasar oligopoli. “Jika kurang kreatif, maka perkembangan pasar pun akan melambat. Hal itu dialami beberapa produsen sayuran bunga,” ujarnya.
Meski demikian Eva menyarankan agar tak perlu khawatir memulai produksi sayuran bunga. “Bagaimana bisa memasarkan sementara produksi saja belum?” papar Eva. Namun, Eva berpesan agar menyiapkan sejumlah strategi pemasaran sejak saat memulai produksi bunga. Pada kondisi pasar oligopoli promosi atau iklan menjadi kunci sukses membuka pasar. Dengan begitu impian meraup laba menjadi nyata. (Tiffani Dias Anggraeni)
