Cibinong — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kontribusinya dalam membangun sistem pangan berkelanjutan melalui pengembangan integrasi pertanian dan perikanan. Dua pendekatan yang menjadi fokus utama adalah sistem minapadi dan akuaponik, yang dinilai mampu menjawab tantangan ketahanan pangan nasional di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan lahan, serta semakin terbatasnya sumber daya air.
Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi, menegaskan bahwa integrasi budidaya padi dan ikan memiliki relevansi strategis bagi Indonesia, mengingat beras merupakan pangan pokok masyarakat. Menurutnya, sistem padi–ikan tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan, tetapi juga menambah pasokan protein hewani sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
“Pengembangan sistem pertanian–perikanan terpadu menjadi semakin penting di tengah tekanan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan,” ujar Fahrurrozi dalam Webinar Internasional Integrated Rice-Fish Farming Systems and Aquaponics: A Pathway to Enhanced Food Security and Sustainable Agri-Fisheries, Senin (15/12).
Ia menambahkan, riset dan inovasi memegang peran kunci dalam memastikan sistem produksi pangan yang produktif, adaptif, dan ramah lingkungan. Untuk itu, kolaborasi internasional diperlukan agar pengalaman dan temuan riset dari berbagai negara dapat saling memperkaya pengembangan sistem pangan nasional.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan merupakan pilar fundamental pembangunan nasional yang mencakup aspek ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan bagi seluruh masyarakat. Integrasi pertanian dan perikanan dinilai penting mengingat beras merupakan komoditas strategis, sementara ikan menjadi sumber protein hewani utama.
Puji menjelaskan bahwa sistem minapadi melibatkan budidaya ikan—seperti nila, ikan mas, atau lele—yang dilakukan secara bersamaan maupun bergantian di lahan sawah. Meski memiliki potensi besar, penerapan sistem ini masih menghadapi sejumlah tantangan, baik teknis maupun kelembagaan. Oleh karena itu, dibutuhkan riset mendalam terkait pengaturan rasio tanam dan tebar, pengelolaan air yang efisien, serta analisis sosial ekonomi agar sistem minapadi dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan.
Penguatan sistem pertanian–perikanan juga mendapat dukungan dari pengalaman riset internasional. Jean Fall dari Universitas Cheikh Anta Diop Dakar (UCAD), Senegal, memaparkan bahwa integrasi padi dan ikan di kawasan Afrika Barat terbukti mampu meningkatkan hasil pangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi petani, meskipun masih dihadapkan pada tantangan teknis dan manajemen. Ia mempresentasikan hasil kajian pertumbuhan padi dan ikan nila pada sistem sawah, kolam, dan akuaponik di Senegal.
Dari sisi riset nasional, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Eri Setiadi, mengungkapkan bahwa sistem minapadi telah berkembang di Indonesia sejak akhir abad ke-19 dan terus mengalami inovasi. Menurutnya, minapadi terbagi dalam tiga model utama, yakni konvensional, semi-intensif, dan intensif, yang penerapannya disesuaikan dengan kondisi lahan dan tujuan produksi.
Eri menuturkan bahwa penerapan minapadi terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi dan ikan secara simultan. Pada sistem intensif, produktivitas padi bahkan dapat mencapai lebih dari 11 ton per hektare, disertai hasil panen ikan yang signifikan. Selain itu, sistem ini juga berkontribusi pada pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga sekitar 50 persen, peningkatan efisiensi air, serta perbaikan kesehatan tanah dan lingkungan sawah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan berbagai desain teknis minapadi, mulai dari parit tepi, parit tengah, hingga kombinasi kolam dalam dengan saluran sawah. Menurutnya, pemilihan desain, kepadatan tebar ikan, dan manajemen air harus disesuaikan dengan karakteristik lahan serta kapasitas petani agar sistem dapat berjalan optimal tanpa menimbulkan tekanan baru terhadap lingkungan.
Selain minapadi, BRIN juga mendorong pengembangan akuaponik sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Akuaponik mengintegrasikan ikan, tanaman, dan mikroorganisme dalam satu sistem resirkulasi air yang efisien. Sistem ini dinilai relevan untuk wilayah dengan keterbatasan lahan dan air, termasuk kawasan periurban dan perkotaan, karena memungkinkan produksi ikan dan sayuran secara bersamaan dengan penggunaan air yang jauh lebih hemat dibandingkan sistem konvensional.
Berbagai model akuaponik telah dikembangkan di Indonesia, seperti surface flow, bottom flow atau nutrient film technique, ebb-tide, hingga RASponic yang mengombinasikan sistem resirkulasi akuakultur dengan hidroponik. Sejumlah model tersebut menunjukkan potensi produksi ikan dan sayuran dalam waktu relatif singkat dengan efisiensi sumber daya yang tinggi.
Melalui penguatan riset, inovasi, dan diseminasi pengetahuan, BRIN berharap sistem minapadi dan akuaponik dapat menjadi rujukan penting dalam pengembangan kebijakan, riset lanjutan, serta implementasi teknologi pangan berkelanjutan di berbagai daerah. Upaya ini diharapkan mampu mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional yang tangguh, berkelanjutan, dan inklusif.
