Friday, January 16, 2026

BRIN Dorong Restorasi Gambut Sumsel Lewat Pendekatan Berbasis Alam

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Kerusakan ekosistem gambut di Sumatra Selatan (Sumsel) terus menjadi perhatian para peneliti setelah kebakaran hebat pada 2015 dan 2019. Dua peristiwa itu menghanguskan lebih dari 600 ribu ha lahan dan meninggalkan dampak panjang, mulai dari degradasi ekosistem hingga hilangnya sumber penghidupan masyarakat lokal. Kondisi ini menuntut hadirnya pendekatan pemulihan yang lebih menyeluruh dan berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam wawancara di KST Soekarno, Cibinong, Kamis (20/11), Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Budi H. Narendra, menegaskan bahwa gambut yang mengering menjadi sangat rapuh. “Yang hilang bukan hanya tutupan vegetasi, tetapi sistem penyangga kehidupan,” ujarnya dilansir pada laman BRIN

Foto: Dok. BRIN

Menurut Budi, solusi terbaik untuk memulihkan gambut Sumsel adalah menerapkan Nature-based Solutions (NbS). Ia menjelaskan bahwa NbS, sesuai definisi International Union for Conservation of Nature, merupakan pendekatan untuk melindungi, mengelola secara berkelanjutan, dan memulihkan ekosistem alami maupun terdegradasi.

Pendekatan itu dinilai paling sesuai dengan karakter gambut Sumsel karena mengikuti proses alami yang telah terbentuk selama ribuan tahun. “Ini pendekatan ilmiah yang tetap menghormati cara alam bekerja,” kata Budi.

Keberhasilan restorasi, menurutnya, hanya dapat dicapai jika fungsi lindung, konservasi, dan produksi berjalan seimbang. Budi memaparkan empat strategi utama NbS yang diterapkan pada lanskap gambut. Pertama, rewetting atau pembasahan kembali gambut melalui pembangunan sekat kanal dan pengaturan tinggi muka air. Langkah ini menjaga gambut tetap basah, menekan risiko kebakaran, dan mengembalikan stabilitas hidrologi. “Rewetting adalah fondasi. Tanpa air, semua upaya lainnya runtuh,” tegasnya.

Kedua, rehabilitasi vegetasi dengan menanam kembali spesies asli seperti Shorea balangeran dan Dyera lowii. Pendekatan ini dipadukan dengan paludikultur seperti sagu, purun, dan kopi rawa untuk menambah peluang ekonomi masyarakat. Ketiga, konservasi keanekaragaman hayati dengan memulihkan habitat fauna rawa seperti ikan lokal dan burung air migran. Hal ini dipandang sebagai bagian dari pemulihan stabilitas ekologis.

Keempat, praktik pemanfaatan berkelanjutan, mulai dari hasil hutan bukan kayu, pertanian organik, hingga ekowisata. Budi menekankan bahwa seluruh pemanfaatan dilakukan tanpa mengurangi kemampuan ekosistem untuk pulih—prinsip utama dalam keberlanjutan.

Ia menambahkan bahwa masyarakat desa gambut berperan besar dalam keberhasilan program ini. Mereka menjadi pelaksana rewetting, penanam vegetasi, pengelola HHBK, sekaligus penjaga ekosistem. “Restorasi tidak dapat berjalan jika masyarakat tidak memiliki peran,” ujarnya. Pendekatan berbasis partisipasi membuat masyarakat menjadi aktor pemulihan, bukan hanya penerima manfaat.

NbS memberikan dampak positif lintas aspek, mulai dari penurunan emisi karbon, peningkatan ketahanan lingkungan, hingga diversifikasi pendapatan masyarakat. Produk paludikultur, madu hutan, purun, tanaman obat, dan perikanan rawa menjadi contoh ekonomi hijau yang dapat dikembangkan. Secara global, NbS juga berkontribusi pada pencapaian Perjanjian Paris, SDGs 13–15, serta target Net Zero Emission 2060.

“Kami meyakini Sumsel berpotensi menjadi model nasional restorasi gambut tropis melalui NbS jika pendanaan hijau, riset berkelanjutan, dan kolaborasi multipihak terus diperkuat,” pungkas Budi.

Melalui kerja konsisten bersama para mitra, BRIN optimistis gambut Sumsel dapat menjadi contoh nyata keberhasilan pemulihan ekosistem gambut tropis berbasis alam.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img