Sunday, January 25, 2026

Buah Berduri di Tangan Umar Bakri

Rekomendasi
- Advertisement -

Mengebunkan durian unggul lokal dan durian introduksi di kebun 15 hektare memberikan laba melimpah.

Trubus — Andri Mulya Purnama begitu rinci menjelaskan Ilmu Fisika kepada para siswanya di ruang kelas. Namun, ketika di kebun ia menjelaskan dosis pemupukan dan cara pemangkasan pohon durian kepada para pegawainya. Andri memang berprofesi ganda, yaitu guru dan pekebun durian. Saat tidak ada jadwal mengajar, alumnus Jurusan Fisika Universitas Padjadjaran, Bandung, itu banyak menghabiskan waktu di kebun.

Ia mengebunkan durian di lahan 15 hektare di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Kebun milik Andri bernama Sahara Durian Farm (SDF) itu adalah kebun durian terluas di Kabupaten Serang. Di kebun itu Andri menanam aneka jenis durian. Salah satu jenis yang menjadi andalan Andri adalah durian ochee alias duri hitam asal Malaysia. Saat Trubus berkunjung ke kebun itu pada Januari 2019, umur pohon baru 3,5 tahun.

Ochee pertama

Andri menuturkan di kebun itu tumbuh 50 pohon ochee. Dari jumlah itu baru 4 pohon yang berbuah. Itulah pohon ochee pertama yang berbuah di Provinsi Banten. Magori atau buah perdana ochee dari kebun SDF bahkan laku dengan harga fantastis, yakni Rp600.000 per buah berbobot 3 kg. Andri juga menanam 60 pohon musang king yang juga asal Malaysia.

Andri Mulya Purnama bersama buah perdana musang king.

Di kebun itu juga tumbuh durian bawor. Durian yang diduga jenis chanee asal Thailand itu banyak dikebunkan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ternyata tanaman anggota famili Malvaceae itu juga adaptif di kebun Andri. Bawor belajar berbuah pada umur 3,5 tahun. Dari satu pohon bawor mampu menghasilkan 20—30 buah. Andri menjual hasil panen langsung ke konsumen yang mengunjungi kebunnya. Di sana para pengunjung dapat mencicipi durian sambil duduk santai di kedai.

Selain aneka jenis durian introduksi, pengunjung juga dapat memesan durian lokal yang tumbuh saat Andri membeli kebun. Ada juga varietas durian unggul lokal yang ditanam pada 2011, seperti sunan, si otong, ajimah, kumbokarno, dan matahari. Pria 33 tahun itu menjual durian lokal Rp60.000 per kg. Adapun harga jual bawor lebih mahal, yakni mencapai Rp80.000 per kg.

“Kalau ochee dan musang king hanya pelanggan tertentu yang sanggup membeli karena harga jualnya mahal, Rp200.000 per kg,” tutur guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kimia Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Serang, itu. Menurut Andri saat musim durian pada Desember—April omzet rata-rata Rp15 juta per hari. “Namun, itu tidak menentu, tergantung ada atau tidaknya buah yang jatuh,” kata Andri.

Otodidak

Andri berkebun durian pada 2011. Ketika itu ia bersama rekannya bekerja sama membeli kebun durian. Sebetulnya Andri sama sekali tak punya pengalaman menanam durian. “Saya belajar menanam durian otodidak, dari buku-buku dan internet,” kata pria kelahiran 1986 itu. Ia membeli kebun durian secara bertahap. “Saat pertama kali memulai hanya 5 hektare,” tuturnya. Di kebun yang ia beli sejatinya tumbuh beberapa jenis durian lokal berumur 30 tahun, bahkan lebih.

Namun, ia juga tertarik menanam durian varietas unggul lokal yang sudah populer di tanah air. Sayangnya, tidak semua durian unggul lokal tumbuh optimal. Beberapa di antaranya bahkan mati. Kalau pun tumbuh pohon enggan berbuah. Itulah sebabnya pada 2013 ia menanam bawor untuk mengganti beberapa durian unggul lokal yang tumbuh kurang optimal. Andri memilih bawor lantaran kualitas buahnya relatif baik, berbuah genjah, warna daging buah menarik, yakni jingga, berdaging buah tebal, dan rasanya enak. Menurut Andri pendapatan dari hasil menjual bawor tergolong menggiurkan.

Saat ini Andri menjual bawor langsung ke konsumen yang datang ke kedainya Rp80.000 per kg. Seandainya dari 1 pohon hanya 50% buah yang terjual atau rata-rata 10—15 buah dan bobot buah rata-rata 3 kg per buah, maka dari setiap pohon omzet Andri Rp2,4 juta—Rp3,6 juta. Omzet itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi untuk masing-masing pohon yang hanya Rp120.000 per tahun. Pantas bila pria kelahiran Kota Serang, Provinsi Banten, 23 Juni 1986 itu berani memperluas kebun hingga total 15 hektare. Di lahan seluas itu populasi bawor mencapai 1.000 pohon dari total 3.000 pohon durian yang tumbuh di SDF. Dari populasi itu baru sekitar 400 pohon yang berbuah. Ia berencana menambah luas lahan kebun durian di lahan berbeda hingga total 35 hektare.

Durian benar-benar menjadi tumpuan Andri yang menjadi guru—acap disebut Umar Bakri, merujuk pada lagu berjudul sama—pada masa depan. Di lagu berjudul sama Virgiawan Listanto alias Iwan Fals menyuarakan lirik, … gaji guru Umar Bakri seperti dikebiri. Namun, “gaji” Andri di kebun buah berduri seluas 15 hektare, tak pernah dikebiri. Ia meraup pendapatan menjulang berkat perniagaan si raja buah. (Imam Wiguna)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img