Thursday, December 8, 2022

Buah-buah Jawara LBUN 2005

Rekomendasi

Pendapat itu diamini Evy Syariefa dari Trubus. Sebaliknya juri lain Prof Dr Sri Setyadi Harjadi, guru besar emiritus Institut Pertanian Bogor dan Hendro Soenarjono, pakar hortikultura menilai citra lebih enak dan manis.

Beruntung jalan tengah diambil dengan melihat kecenderungan konsumen. “Di pasaran, masyarakat lebih menyukai buah dengan penampilan menarik. Soal rasa belakangan,” kata Rudi. Karena perbedaan rasa keduanya tak terlalu jauh akhirnya semua juri sepakat menobatkan citra sebagai jawara. “Warna merah dan bentuk citra lebih cantik,” tutur Sri. Maka, jambu asal Bumi Lancang Kuning harus puas menempati posisi kedua.

Kemenangan citra milik Widartono itu sekaligus melengserkan madu hijau kiriman Ir Lutfi Bansir yang menduduki takhta pertama pada 2004. Madu hijau asal Bulungan, Kalimantan Timur, itu mesti rela di tempat ketiga.

Muka lama

Dua kelas lainnya, jeruk dan belimbing masih dipegang jawara lama. Hickson kiriman Iwan Santoso di Kupang, Nusa Tenggara Timur, lagi-lagi membuktikan kualitasnya. “Rasanya manis, segar, dan berair banyak,” ujar Hendro. Posisi kedua ditempati keprok punten jagoan Sutjipto Gunawan dari Batu, Jawa Timur.

Penampilan keprok punten sebetulnya lebih bagus. Kulit cerah dan segar ketimbang hickson yang agak mengerut. Sayang, rasa manisnya kalah. “Daerah NTT memang lebih baik dibanding Batu untuk penanaman jeruk. Sinar mataharinya lebih banyak,” ujar Hendro. Diduga keriputnya hickson disebabkan karena perjalanan NTT ke Jakarta memakan waktu lama.

Demikian juga dewa, belimbing andalan Mubin Usman di Depok, Jawa Barat. Ia seolah tidak tergoyahkan oleh para pesaingnya sejak setahun silam. Apalagi dewa baru—yang merupakan turunannya—pernah menjadi jawara pada 2003. Artinya, buah bintang hasil rawatan Mubin Usman telah teruji.

Menurut Sri, sukses hickson dan dewa mempertahankan gelar membuktikan kualitas keduanya konsisten. “Berarti varietasnya benar-benar unggul,” katanya. Itu juga menunjukkan pengelolaan serius dari pemiliknya. Maklum, baik Iwan maupun Mubin memang kondang sebagai penangkar dan pekebun sukses di daerahnya masing-masing.

Harapan

Begitulah cerita persaingan di kelas jambu air, jeruk, dan belimbing. Di kelas lain seperti durian dan mangga tak ada yang memperoleh gelar juara 1. Nilai tertinggi hanya mendapat predikat harapan. Menurut Rudi, di kelas durian hampir seluruh Durio zibethinus yang masuk meja panitia rasanya tak selezat tahun sebelumnya. “Mungkin karena kendala musim yang tak mendukung,” ujarnya. Akhirnya dewan juri sepakat menobatkan gembong sebagai harapan. Di kelas mangga, manalagi kupang kiriman Fransiskus Jusuf Djitro meraih gelar harapan. Walau nilainya tertinggi dibanding peserta lain, ia tak serta-merta menjadi pemenang ke-1. “Poin penilaian memang paling besar, tapi belum memenuhi standar mangga unggul yang ditetapkan juri,” tutur Rudi.

Total jenderal peserta LBUN 2005 sebanyak 39 kontestan. Jumlah terbanyak terdapat di kelas jambu air sebanyak 12 peserta. Peserta berasal dari berbagai daerah seperti Riau, Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sayang, dari 9 kategori yang dilombakan terdapat 3 kategori tanpa pemenang, yaitu duku, salak, dan pepaya.

Musababnya, kontestan di kelas-kelas itu kurang dari prasyarat minimal sebanyak 4 peserta. Meski begitu, LBUN yang digelar selama tahun ayam itu telah bergulir. Para pemenang akan mendapatkan penganugerahan pada pembukaan Trubus Agro Expo 2006 yang digelar Maret. Selamat kepada para pemenang (Destika Cahyana).

Previous articleUlar Palsu
Next articleBatu Luruh Karena Laurat?
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img