Monday, August 8, 2022

Buah Lokal: Pintu Terbuka di Pasar Modern

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Zoilus Sitepu, manajer fruit product sebuah perusahaan retail di JakartaBuah impor masih mendominasi gerai buah di pasar swalayan. Selain ketersediaan kontinu, pemasok piawai mengemas produk sehingga terlihat lebih menarikKontinuitas pasokan buah lokal dari kebun terkendala musim. Saat panen raya, melimpah, di luar musim, kosong sama sekaliDari ratusan buah impor itu yang paling digemari konsumen adalah jeruk lokam, apel washington, durian monthong, anggur red globe, lengkeng bangkok, dan pir shandong. Dengan perbandingan jumlah keragaman itu, pantas bila buah impor menjadi penyumbang omzet terbesar dalam penjualan buah di pasar swalayan. Penjualan buah impor 4 kali lipat buah lokal.

Lebih murah

Lantas, mengapa buah lokal kalah pamor? Salah satu alasan konsumen lebih menyukai buah impor adalah harga yang lebih murah. Hingga saat ini harga masih menjadi pertimbangan konsumen dalam mengonsumsi buah. Itulah sebabnya jeruk mandarin lokam yang harganya Rp8.000 – Rp9.000/kg pasti laku keras ketimbang jeruk medan yang harganya Rp11.000/kg. Meskipun, soal kualitas jeruk medan lebih unggul. Rasanya jauh lebih manis ketimbang lokam yang masam.

Namun, terkadang harga buah lokal yang lebih mahal itu juga tidak dibarengi kualitas yang baik. Misalnya kulit buah sebagian besar burik sehingga penampilan buah kurang menarik. Buah lokal juga kerap disajikan dalam bentuk curah tanpa kemasan. Bandingkan dengan buah impor seperti jeruk lokam dan pamelo impor. Meski harga lebih murah, buah dikemas dalam plastik merah dan jaring styrofoam.

Upaya mengatasi masalah tingginya harga buah lokal ibarat buah simalakama. Jika pihak retail menekan harga, pekebun akan merugi karena biaya produksi tinggi. Melambungnya biaya produksi lantaran harga pupuk dan pestisida terus beranjak naik. Lokasi kebun yang jauh dari pasar membuat  biaya transportasi turut membengkak.

Tingginya biaya produksi membuat pekebun enggan memperbaiki kualitas pascapanen karena khawatir menambah biaya. Akibatnya, hasil panen pun dijual seadanya tanpa melalui grading dan pengemasan. Begitu juga dengan sistem pengepakan yang tidak memenuhi standar. Alhasil banyak buah yang rusak saat pengiriman. Berbagai kondisi itu menyebabkan buah lokal sulit bersaing dengan buah impor. Harga tinggi yang tak disertai peningkatan kualitas membuat tingkat kepercayaan konsumen terhadap buah lokal perlahan berkurang.

Perlu diakui bahwa beberapa buah impor memiliki kualitas lebih baik. Contohnya durian monthong dan lengkeng bangkok. Monthong lebih disukai konsumen karena berdaging tebal dan sangat manis. Kualitasnya pun seragam. Dengan kualitas seperti itu konsumen rela membeli meski harganya jauh lebih mahal ketimbang durian lokal.

Begitu juga dengan lengkeng bangkok. Ia mampu mengisi kekosongan pasar lengkeng tanahair karena pasokan lengkeng lokal sangat terbatas. Pantas bila angka penjualan kedua komoditas itu di retail modern begitu fantastis.

Harga fluktuatif

Padahal, pasar buah di retail modern sejatinya masih terbentang luas. Jumlah retail modern berskala hipermarket terus bertambah. Kini jumlahnya mencapai lebih dari 150 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia. Seandainya setiap outlet menyerap 100 kg buah per hari, maka kebutuhan buah mencapai 15 ton per hari. Jika kebutuhan itu seluruhnya dipenuhi dari kebun di tanahair, bisa bayangkan berapa pekebun yang tersejahterakan?  Belum lagi permintaan dari retail yang skalanya lebih kecil seperti supermarket dan minimarket yang jumlahnya mencapai ribuan.

Sayangnya pasar yang terbentang itu justru menjadi surga bagi pemasaran buah impor. Pasalnya, pasokan buah lokal seringkali tersendat lantaran kendala musim. Contohnya mangga. Pada Oktober – Desember, anggota famili Anacardiaceae itu membanjiri pasar karena tengah panen raya. Begitu musim panen raya usai mangga pun langka dijumpai di pasaran. Kalau pun ada harganya melambung. Untuk mengisi kekosongan pasokan, pasar swalayan terpaksa mendatangkan mangga dari Thailand  yang bisa panen secara kontinu.

Ketergantungan pasokan pada musim itu membuat harga buah lokal fluktuatif. Konsumen hanya bisa menikmati buah lokal saat tengah panen raya karena harganya lebih terjangkau. Saat musim panen surut, harga buah lokal pun melambung. Konsumen pun kembali beralih mengonsumsi buah impor yang harganya lebih terjangkau.

Ceruk pasar yang masih menganga juga dimanfaatkan negara lain seperti Thailand untuk mempromosikan produk mereka di retail modern. Sejak 2 – 3 tahun silam, eksportir asal negeri Gajah Putih rutin menyelenggarakan pameran di retail modern tanahair. Ironisnya, buah yang mereka pamerkan beberapa di antaranya banyak tumbuh di tanahair seperti duku, rambutan, jambu cincalo, dan manggis. Mereka menyuguhkan keempat buah itu dengan kualitas dan kemasan yang sangat baik. Dengan begitu mereka berani menjajakan dengan harga tinggi.

Sejatinya benang kusut permasalahan buah lokal itu dapat diatasi jika pemerintah menetapkan standar kualitas buah lokal. Standar itu kemudian disosialisasikan kepada pekebun agar mereka berusaha menghasilkan buah yang sesuai standar pasar. Agar harga buah lokal mampu bersaing dengan buah impor, pemerintah harus turut andil dalam menekan harga sarana produksi seperti pupuk, pestisida, dan biaya transportasi. Kesadaran konsumen terhadap kualitas buah lokal pun perlu ditingkatkan dengan sosialisasi dan promosi secara kontinu.

Alangkah baiknya beragam solusi itu dibahas melalui sebuah forum komunikasi lintas sektor yang melibatkan peneliti, perguruan tinggi, pengusaha pemasok, petani, dan retailer. Jika berbagai permasalahan itu teratasi, tidak mustahil di masa mendatang buah lokal akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (Zoilus Sitepu, manajer fresh product sebuah perusahaan retail di Jakarta)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img