Friday, August 19, 2022

Buah Lokal untuk Pasar Global

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
GBN ke-6 salah satu upaya peningkatan daya saing serta konsumsi buah Nusantara di dalam dan luar negeri.

TRUBUS — Kolaborasi berbagai pihak perlu dilakukan agar ekspor buah lokal lebih optimal.

Buah lokal Nusantara berpotensi tinggi mengisi pasar ekspor. Menurut Corporate Affairs Director PT Great Giant Pineapple (GGP), Welly Soegiono, nanas Ananas cosmosus menjadi salah satu produk ekspor unggulan Indonesia. “Buah tanaman anggota famili Bromeliaceae itu mengisi pasar ekspor di 65 negara,” kata Welly saat menjadi pembicara Webinar Series III pada Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-6 2021.

Menurut Welly GGP mengekspor 17.554 metrik ton nanas ke Tiongkok pada 2018. Jumlah itu meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan 2017 (6.398 metrik ton). Sayangnya, lahan terbatas menjadi kendala untuk memenuhi permintaan yang terus melambung. Solusinya antara lain memberdayakan petani yaitu dengan pendampingan produksi dan pembinaan lembaga petani demi meningkatkan produksi.

Dukungan penuh

Pengembangan usaha berbasis kemitraan menjadi kekuatan menjalankan usaha ekspor produk pertanian. Tujuannya menciptakan produk petani dengan standar mutu sesuai sertifikasi perusahaan. Tentu standar ekspor produk pertanian memerlukan dukungan kebijakan dari berbagai pihak seperti kebijakan fiskal, perkembangan pasar, infrastruktur, hambatan nontarif, bantuan hukum, dan perlindungan usaha.

Perlu dukungan berbagai pihak agar ekspor buah lokal seperti nanas makin maksimal. “Konsumsi buah yang meningkat saat pandemi menjadi peluang besar bagi pelaku ekonomi untuk berinvestasi di bidang hortikultura,” kata Welly. Ia berharap upaya mendorong produksi, investasi agribisnis, dan peningkatan konsumsi buah harus ditingkatkan di dalam dan luar negeri. Produksi yang meningkat mendorong pelaku usaha agribisnis untuk berinvestasi dan menanamkan modal pada pengembangan usaha buah.

Nanas salah satu buah andalan ekspor Indonesia.

Peluang investasi untuk pengembangan buah Nusantara menjadi tema utama Webinar Series III GBN ke-6 yang berlangsung pada Agustus 2021. Keunggulan buah lokal yang eksotis dan beragam memang memiliki tantangan mulai dari hulu hingga hilir. Menurut Ketua Komite Tetap Pengembangan Horikultura, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Karen S. Tambayong, buah domestik belum sesuai preferensi pasar dari aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan daya saing dengan buah impor.

Permintaan buah lokal pun belum terpenuhi. Karen berharap terjalin kolaborasi para pelaku agribisnis dari perguruan tinggi, industri, pemerintah, masyarakat, maupun media demi mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Harap mafhum, petani kadang tidak mendapatkan laba yang layak dari tingginya harga buah berkualitas ekspor.
Plt Direktur Perencanaan Industri Agribisnis dan Sumber Daya Alam (SDA) Lainnya, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Moris Nuaimi, mengatakan, investasi bidang hortikultura masih di bawah bidang usaha lain seperti pangan, perkebunan, dan peternakan berdasarkan produk domestik bruto (PDB). Perbedaan investasi dalam dan luar negeri tidak begitu signifikan pada bidang hortikultura.

Permodalan

Pada konteks investasi perkebunan buah secara umum, daerah di luar Pulau Jawa masih mendominasi. Menurut Moris ekspor buah pada 2020 kalah jauh dibandingkan dengan produk pertanian lain seperti kopi, teh, dan rempah. Biaya produksi tinggi menjadi momok bagi para pelaku agribisnis, khususnya petani untuk mengembangkan tanaman buah. Alasannya perputaran laba budidaya tanaman buah lebih lama daripada budidaya tanaman sayur.

Salah satu solusi permodalan datang melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Menurut anggota staf Small Sales Management, Setiyarta, petani buah bisa mendapatkan pinjaman untuk meningkatkan usaha. Setya mengungkapkan BRI telah mengakomodir 196.834 debitur pelaku agribisnis buah dengan total biaya Rp5.284 miliar. Akses pembiayaan disesuaikan untuk para petani dengan membawa tiga pilar kredit usaha rakyat (KUR) yaitu mikro, kecil, dan khusus.

Pendampingan dan pengembangan usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) oleh BRI membantu petani untuk mengadakan pelatihan. Dengan begitu wawasan para petani meningkat sehingga usaha mereka berkembang. BRI juga memasarkan produk pertanian serta menjadi konsultan bagi nasabah UMKM khususnya bidang hortikultura. (Nadya Muliandari)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img