Trubus.id— Berita buruk acap kali menyambangi perokok. Tak hanya pemberlakuan kenaikan cukai rokok dan aturan pembatasan merokok di tempat umum. Hasil penelitian yang memperkuat bukti rokok dapat meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit degeneratif pun semakin banyak. Perokok harus waspada.
Sederet penyakit maut siap mengintai para perokok. Sebut saja kardiovaskuler, kanker paru-paru, dan emfisema kronis—melebarnya gelembung paru-paru. Kematian perokok akibat penyakit-penyakit itu kian meningkat.
Tidak merokok tidak berarti terbebas penyakit-penyakit maut itu karena asap rokok juga mengancam jiwa perokok pasif. Akibatnya tak main-main, mereka terancam penyakit mematikan: pertumbuhan paru-paru lambat, mudah terkena bronchitis serta infeksi saluran pernapasan, telinga, dan asma.
Mengapa begitu mudah penyakit maut membayangi perokok? Biangnya kondisi yang disebut stres oksidatif karena ketimpangan prooksidan dan antioksidan dalam tubuh. Keadaan itu dapat disebabkan kurangnya antioksidan atau kelebihan produksi radikal bebas.
Cara praktis dan murah untuk mendapatkan asupan harian multiantioksidan yakni melalui konsumsi harian buah, sayuran, dan herbal. Buah dan sayuran terutama baik sebagai sumber vitamin C yang larut air. Contoh jeruk, tomat, nanas, anggur, kubis, bayam, dan asparagus.
Selain itu banyak yang kaya vitamin larut minyak seperti beta karoten (provitamin A) dan vitamin E. Sayang penyerapannya dalam tubuh relatif rendah hanya 30—40%. Oleh karena itu, herbal lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian vitamin A dan vitamin E.
Minyak buah merah salah satunya. Di dalamnya terkandung 350—500 ppm tokoferol. Lebih tinggi 12—25 kali daripada alpukat dan bayam yang memiliki kandungan alfa-tokoferol tertinggi dalam kelompok buah dan sayuran.
Buah merah memang sohor sangat kaya antioksidan. Terutama dalam bentuk karotenoid, flavonoid, vitamin C, dan tokoferol. Keberadaan berbagai antioksidan dalam buah merah sangat menguntungkan. Antara antioksidan satu dan lainnya berkaitan erat dan bekerja sinergis.
Fenomena kerja multiantioksidan dalam buah merah bukan sekadar teori atau isapan jempol belaka. Ada bukti sahihnya. Penelitian efek proteksi ekstrak buah merah terhadap stres oksidatif dalam eritrosit tikus yang terpapar asap rokok kretek dilakukan Syamsulina Revianti di Universitas Airlangga, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Kesimpulannya pemberian ekstrak buah merah mengurangi terjadinya stres oksidatif dalam eritrosit tikus yang terpapar asap rokok kretek. Itu ditandai dengan menurunnya kadar malondialdehid (MDA) dan meningkatnya aktivitas antioksidan superoksida dismutase (SOD) dan glutathione (GSH)—anseluler utama yang sangat penting untuk fungsi normal paru-paru—dalam eritrosit hewan perlakuan dibandingkan dengan kontrol.
Pemberian ekstrak buah merah itu tidak memengaruhi kadar Hb eritrosit serta meningkatkan bobot tubuh tikus. Kebutuhan alfa tokoferol harian orang dewasa sehat mencaai 2,6—15,4 mg.
Sementara beta karoten sebanyak 4,5 mg/hari dan vitamin C dosis 500—2.000 mg/hari umumnya dianggap cukup memadai. Kebutuhan itu dapat terpenuhi melalui konsumsi harian buah dan sayuran serta konsumsi 1—2 sendok makan buah merah per hari. Namun demikian, berhenti merokok adalah cara terbaik mencegah penyakit akibat radikal bebas itu.
