Saturday, December 3, 2022

Budidaya Udang Vaname dan Penyakit yang Kerap Menyerangnya

Rekomendasi

Trubus.id — Udang vaname tergolong salah satu komoditas unggulan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai produksinya yang cukup tinggi. Sayangnya, salah satu masalah dalam budidaya udang vaname adalah serangan penyakit yang masih menghantui.

Menurut Prof. Widanarni, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, untuk mencapai produksi yang tinggi ini, dilakukan intensifikasi. Udang dipelihara dengan kepadatan yang tinggi, diberikan pakan buatan, dan diaplikasikan disinfektan untuk memberantas mikroba.

“Dengan intensifikasi, memang produksi menjadi jauh lebih tinggi. Namun demikian, ada permasalahan di dalam sistem intensif ini yaitu penurunan kualitas lingkungan budidaya dan meningkatkan serangan penyakit,” terangnya, seperti dikutip dari laman IPB University.

Berdasarkan hasil survei The Global Aquaculture Alliance’s GOAL (Global Outlook for Aquaculture Leadership)2019, tantangan terbesar dalam budidaya udang adalah penyakit.

Menurut Widarnani, sampai saat ini penyakit udang akibat virus masih terus berkembang. Ia menjelaskan terdapat sistem ekologis penting dalam ekosistem alami dan akuakultur, yakni produksi, konsumsi dan dekomposisi.

Dalam sistem akuakultur dengan kepadatan rendah, sistem ini berjalan seimbang sehingga pada sistem ekstensif masalahnya tidak terlalu banyak.

Dengan intensifikasi dan meningkatkan padat penebaran, berdampak pada meningkatnya kebutuhan pakan dari luar dan membutuhkan disinfektan. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan sistem yang dapat mengancam keberlangsungan budidaya.

“Yang diharapkan pada akuakultur di masa depan, tentu kita tetap dituntut dengan produktivitas tinggi, tetap efisien dalam menggunakan sumber daya, namun harus menimbulkan dampak lingkungan yang minim,” imbuhnya.

Widarnani menyebut ada beberapa teknologi yang tergolong ramah lingkungan di antaranya bioflok, integrated multi trophic aquaculture (IMTA), serta resirkulasi dengan biofilter dan akuaponik. Menurutnya, penggunaan teknologi ini membutuhkan regulasi yang kuat dari pemerintah.

Selain itu, pencegahan penyakit udang bisa dengan memanfaatkan mikroba sebagai probiotik. Mikroba ini diisolasi dan diseleksi dari udang ataupun lingkungan. Seleksi ini disesuaikan dengan kebutuhan inang, kemudian dapat diproduksi massal serta aplikasinya mudah.

Menurutnya, probiotik ini memiliki beberapa kriteria wajib dan dianjurkan. Contohnya nonpatogen dan mampu bersifat antagonistik terhadap beberapa bakteri patogen.

Aplikasinya dapat dicampur pada pakan buatan atau langsung ke media budidaya. Penyediaannya tentu harus memenuhi persyaratan dalam aturan 1/Permen-KP/2019 tentang syarat penyediaan probiotik.

Sementara itu, lanjutnya, prebiotik dapat meningkatkan peran probiotik yang hanya bisa ditumbuhkan dalam jumlah sedikit pada media.

Prebiotik tidak dapat dicerna inang tapi memberikan efek menguntungkan bagi inangnya dan memberikan efek kesehatan. Bila probiotik dan prebiotik digabungkan, akan menjadi sinbiotik yang memiliki efek lebih baik pada kesehatan udang secara keseluruhan.

“Berbagai penelitian telah dilakukan untuk aplikasi sinbiotik pada udang dan menunjukkan hasil yang positif,” tutunya.

Hasilnya, kata Widarnani, mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistensi. Selain itu, penelitian probiotik pada manusia sebenarnya sudah advance sehingga bisa menjadi role model bagi pengembangan probiotik dalam akuakultur.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img