Menyajikan kopi spesialti kelas kafe dengan gerobak keliling.

Trubus — Nikolas Deni Saputra memboyong kopi kelas kafe ke tepi jalan. Ia menyebutnya Koling—akronim dari kopi keliling. Nikolas memarkir gerobak di tepi jalan dan menyajikan kopi arabika atau robusta single origin, latte lengkap dengan latte art, atau es kopi susu ala kafe. Sasarannya pusat keramaian di Yogyakarta. Gerobak itu berkeliling poros Jembatan Gondolayu—perempatan Pingit, poros Tugu Pal Putih—kantor pos pusat, serta jalan kecil di sayap-sayap kedua poros itu.
Pelancong yang menikmati suasana malam mengantre kopi berkelas seharga Rp5.000—Rp15.000 per cangkir itu. Ketika memulai usaha pada 2013, Nikolas baru memiliki satu gerobak. Kini ada 35 gerobak kopi keliling yang berseliweran tidak hanya di Yogyakarta tapi merambah ke Jakarta, Cirebon, Surabaya, Jember, dan Sumenep. Penjualan per malam minimal 20 cangkir per gerobak sehingga dalam sebulan ia mengantungi omzet sedikitnya Rp87,5 juta.
Enggan sewa tempat
Nikolas memperkuat legalitas kopi gerobak itu dengan mendirikan PT Koling Agra Parama pada 2017. Dengan badan usaha yang berkantor di Kebonjeruk, Jakarta Barat, itu ia memperluas jangkauan pasar dengan cara waralaba. Ia membeli kopi langsung dari pekebun untuk memangkas harga. Begitu pun proses pemanggangan, ia melakukannya sendiri. Omzet terpantau real time lantaran ia membekali semua gerobak dengan kasir berbasis aplikasi yang menerapkan sistem pembayaran point of sale (POS).
Jenis kopi yang disajikan berubah-ubah tergantung pasokan yang tesedia. Layaknya segmen kopi tepi jalan, penjualan terbanyak adalah jenis kopi hitam tubruk. Nikolas “mengakrabi” bisnis kopi secara tidak sengaja ketika menempuh pendidikan di Jurusan Agroteknologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta pada 2013.

Pemuda dari Kalianda, Lampung Selatan, itu memiliki banyak waktu luang usai kuliah. Oleh karena itu, ia menjalani kerja paruh waktu di sebuah kafe. Sejak bekerja di sana, Nikolas yang terbiasa minum kopi sejak SMP, lebih paham seluk-beluk kopi. Sialnya, ketika berniat membuka kafe sendiri, ia terhalang biaya sewa tempat. “Tempat yang ramai tidak terjangkau, yang sewanya terjangkau tempatnya sepi,” katanya mengenang.
Berbekal pengalaman singkat menjadi barista, ia tertantang menyajikan kopi kelas kafe di pinggir jalan. Bersama sang kakak kandung, Dayu Pratama, Nikolas memboyong kayu-kayu tua di rumah nenek mereka di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Jadilah gerobak berkonsep artistik yang menarik perhatian. Sebelum mewujudkan idenya, lajang berusia 24 tahun itu melakukan tes pasar dan tes mental.
Uji mental dengan menjual kopi gerobak di sebuah kampus swasta di Yogyakarta. Selanjutnya uji pasar dengan menjual susu murni dengan gerobak, persis di perempatan Tugu Yogyakarta. Berada di jantung ikon sekaligus ring 1 Yogyakarta, area Tugu dan sekitarnya rutin disambangi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Itulah tantangan terbesar yang ia hadapi setiap malam. Bergeser ke Malioboro, ia juga harus pasang mata terhadap kedatangan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro.
Meski demikian, tidak jarang ia harus merelakan gerobaknya diangkut ke truk Satpol PP. Lalu ia harus menebus pada esok harinya.
Busana jawa

Perubahan paling terasa terjadi pada 2017. Setelah presentasi di depan Dinas Pariwisata Provinsi DIY, ia mendapatkan saran untuk memperkuat merek dengan mengenakan jarik dan surjan khas Yogyakarta lengkap dengan blangkon menutupi rambut. Penampilan mencolok itu membuat pembeli berbondong-bondong datang sampai antre. Penjualan melonjak 5 kali lipat dari 20 cangkir menjadi 100 cangkir per malam.
Setelah itu masalah kembali muncul. Upaya Nikolas berwirausaha mendapat tentangan dari orang tua. Ia menyatakan bahwa kedua orang tuanya ingin ia hanya fokus belajar. Namun, diam-diam ia bergeming dan konsisten di Koling.
Ia menyimpan uang kuliah dan biaya hidup kiriman dari orang tuanya. Rencananya ia kembalikan setelah lulus. Sampai suatu hari kedua orang tuanya datang ke Yogyakarta tanpa mengabari. “Beliau berdua justru kaget mengetahui saya sudah mempunyai perusahaan bahkan sampai menyewa kantor,” ungkapnya.
Meski berangkat dari berkeliling, Nikolas berniat mengubah konsepnya menjadi mangkal. “Kalau keliling banyak pelanggan yang kesulitan mencari. Apalagi yang datang jauh-jauh dari luar kota,” katanya. Di Yogyakarta, konsumen yang enggan beranjak tapi ingin menyecap kopi enak memanfaatkan jasa ojek online (ojol). Menurut Nikolas pasar itu lumayan besar. Dengan mangkal, ojol mudah mencari dan mendongkrak penjualan. (Argohartono Arie Raharjo)
