Tuesday, April 28, 2026

Bukan Lagi Pembatas Lahan

Rekomendasi
- Advertisement -
Prospek ekonomi yang bagus mendorong para petani membudidayakan matoa secara intensif.
(foto : Dr. Rosmaina,)

TRUBUS — Matoa banyak tumbuh secara alami di Kota Pekanbaru. Peminat yang banyak perlahan-lahan dibudidayakan secara intensif.

Banyak rasa di satu buah. Ada cita rasa kelapa, rambutan, bahkan durian di buah matoa. Keragaman warna, rasa, dan aroma matoa itu antara lain terdapat di sentra Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Musim berbuah matoa di Pekanbaru dua kali setahun, yakni Mei—Juni dan September—Oktober. Pada kurun waktu itu amat mudah menjumpai buah-buah matoa di pekarangan rumah penduduk, pedagang di tepi jalan, hingga pasar swalayan.

Penampilan matoa di Pekanbaru amat beragam. Ada yang berkulit kuning menandakan itu matoa berkah. Matoa madani berwarna merah atau matoa tobekgodang yang hitam pekat. Semua matoa berkulit hijau ketika masih muda. Buah berubah warna ketika matang fisiologis. Ciri buah siap panen sangat tergantung jenis, tetapi sangat mudah dibedakan. Pada awal perkembangannya berwarna hijau, lalu berubah menjadi merah.

Sama seperti matoa merah, matoa hitam pada awalnya juga berwarna hijau, kemudian berubah warna menjadi merah, Lama-kelamaan kulit buah menjadi merah marun hingga akhirnya menjadi hitam dan siap konsumsi. Ketika buah matoa hitam berwana merah gelap, rasanya sepat atau kelat. Cita rasa buah manis dan legit ketika kulit buah berwarna hitam. Pada Juni 2021 hampir seluruh wilayah di Kota Pekanbaru memanen matoa. Bumi Lancang Kuning “tidak sengaja” menjadi sentra matoa.

Pembatas lahan

Pada awalnya petani menjadikan pohon matoa hanya sebagai pembatas lahan. Mereka menanam beberapa pohon anggota famili Sapindaceae itu. Kebiasaan bermula pada 2003. Kemudian pohon berbuah, rasanya lezat, dan banyak permintaan. Prospek ekonomi yang bagus itu mendorong mereka membudidayakan secara intensif. Secara alami petani melakukan seleksi dengan memilih pohon yang memiliki cita rasa enak. Ada petani yang semula menanam 170 batang.

Setelah pohon berbuah, mereka menyeleksi dengan membuang pohon yang buahnya kurang bagus—daging buah tipis, rasa kurang manis, dan daging buah lembek. Harap mafhum, petani memperbanyak tanaman melalui biji. Akibatnya kualitas buah tidak stabil. Petani itu menebang 30 pohon sehingga poulasi menjadi 140 pohon. Akhirnya pohon-pohon yang bertahan di pekarangan menghasilkan buah unggul, dagung buah tebal, manis, dan legit.

Bobot buah sangat tergantung pada jenis dan umur pohon. Bobot matoa rata-rata 18—30 gram per buah atau setara dengan 40—50 buah per kilogram. Setelah panen buah bertahan hingga 15 hari bila disimpan di lemari pendingin atau suhu rendah. Namun, kebanyakan, hail panen langsung diambil oleh konsumen atau pengepul. Sejauh ini belum ada inovasi pengolahan matoa, karena konsumen sangat menyukai konsumsi buah segar.

Petani setempat memasarkan matoa melalui pasar swalayan, pasar tradisional, pasar buah, dan toko daring. Adapun pengepul yang mengambil buah dari para petani, akan menjual matoa keluar kota, yakni Kota Padang, Medan, Aceh, dan Batam. Sementara itu petani yang mengebunkan matoa secara intensif akan mengekspor hasil panennya ke Malaysia dan Singapura.

Umumnya pohon berbuah setelah 3 tahun. (foto : dok. Dr. Rosmaina)

Populasi matoa produktif di Kota Pekanbaru tidak dapat diperkirakan, pasalnya matoa bukan tanaman utama. Jika mengebunkan intensif, jarak tanam 10 m x 10 m. Satu pohon rata-rata menghasilkan 100—150 kilogram sekali panen. Umur pohon memengaruhi produktivitas. Pada umur 7 tahun lazimnya produksi optimal.

Pemangkasan

Di Pekanbaru harga matoa 25.000—Rp50.000 per kg. Harga sangat tergantung pada jenis. Sekadar contoh harga matoa hijau saat panen raya Rp25.000 per kg. Di luar panen raya, Rp50.000 per kg. Jenis yang paling banyak dikembangkan adalah matoa merah, tetapi matoa hijau paling banyak populasinya (tumbuh secara alami).

Ketika matang matoa hijau biasanya berwarna hijau gelap, hijau kekuningan, atau hijau semburat merah. Panen dilakukan bersamaan dengan pemangkasan. Jadi, ranting buah dipotong sekaligus agar cabang baru tumbuh. Petani yang menanam matoa di pekarangan, cenderung merawat pohon sekadarnya. Pohon matoa tumbuh alami tanpa pemupukan. Oleh karena itu, petani berpeluang meningkatkan pro duksi jika memberikan pupuk.

Karena pertumbuhannya cepat umumnya 3 tahun sudah mulai berbuah. Pemangkasan sangat penting dilakukan, selain mempermudah proses pemanenan, pemangkasan juga akan meningkatkan jumlah cabang yang berdampak pada peningkatan jumlah buah. Beberapa petani memberikan 80—120 kg pupuk kandang per tahun. Interval pemberian 2 kali setahun.

Adapun kendala dalam budidaya matoa adalah kelelawar, lalat buah, dan kera. Hama mengambil buah masak. Lalat buah mengakibatkan matoa kuning gagal panen. Karena warna kulit yang disukai oleh serangga famili Tephritidae itu. (Dr. Rosmaina, S.P., M.Si.,  dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Kemegahan Macfrut 2026: Pameran Buah dan Sayur Internasional Resmi Dibuka, Soroti Daya Saing dan Kemitraan Global

Pameran internasional rantai pasok buah dan sayuran, Macfrut 2026, akhirnya resmi membuka pintu untuk edisi ke-43. Berlokasi di Rimini...

More Articles Like This