
Bawang merah, bawang putih, dan nasi menghalau cendawan penyebab busuk batang.
Trubus — Sulur tanaman vanili yang lazimnya hijau segar berubah menjadi cokelat muda. Makin lama batang menjadi hitam lalu membusuk. “Waspadai perubahan warna sulur karena itu gejala penyakit,” kata periset Kelompok Penelitian Pemuliaan dan Genetika Tanaman di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Drs. Cheppy Syukur. Penyakit paling menakutkan bagi pekebun vanili adalah busuk batang akibat serangan cendawan Fusarium oxysporum.

Pria kelahiran 58 tahun silam itu menyatakan, tidak ada fungisida yang bisa memulihkan vanili terserang. Pilihannya hanya mencabut lalu memusnahkan sulur terserang. Kalau sulur terjangkit dijadikan bibit, otomatis tanaman baru yang tumbuh langsung terjangkit fusarium. Pekebun yang membeli bibit, menanam, merawat, dan menunggu hanya bisa gigit jari akibat ulang fusarium.
Jangan berlebih
Lukman Wijaya justru sebaliknya. “Tidak pernah ada pembeli bibit saya yang mengeluh terjangkit fusarium,” kata pekebun di Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu. Sudah begitu, tingkat keberhasilan pembibitan yang ia lakukan mencapai 99%. Keluarga Lukman turun-temurun menanam vanili. Pria berumur 39 tahun itu rutin membibitkan sejak vanili kembali menggeliat pada 2013.
Ia mengandalkan ilmu pembibitan warisan dengan racikan sendiri. Rahasianya hanya rempah dapur berupa bawang putih dan bawang merah. Namun, “Jangan berlebih karena justru bisa membuat bibit gagal tumbuh,” kata Lukman. Buat racikan sesuai dosis (lihat boks Bawang Antifusarium) untuk memperoleh hasil terbaik.

Menurut pegiat pertanian organik di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Dr. Nugroho Widiasmadi, bawang merah kaya hormon pertumbuhan asam indol-3-asetat (indole-3-acetic acid, IAA) yang sohor dengan nama auksin. Kelebihan maupun kekurangan auksin efeknya sama-sama buruk. Sementara itu bawang putih mengandung alisin dan aliin yang memiliki gugus sulfur sehingga efektif mematikan semua jenis patogen.
Kimiawi dan fisik
Selain bibit, Lukman juga memperhatikan media tanam dan lahan. Ia mengandalkan cendawan hijau trikoderma Trichoderma harzianum untuk mengendalikan semua macam patogen. Anak ketiga dari lima bersaudara itu memanfaatkan nasi untuk mengundang trikoderma. Syaratnya, “Gunakan nasi bebas residu pestisida maupun bahan pengawet,” katanya. Nasi itu menjadi media tumbuh cendawan trikoderma dari akar dan daun bambu (lihat boks Trikoderma Nasi).

Pembuatan trikoderma rumahan itu mudah dan efektivitasnya setara produk komersial berbentuk butiran. “Semprotkan ke media tanam atau lahan pada sore hari karena dia tidak tahan sinar matahari,” kata ayah satu anak itu. Menurut Lukman cukup sekali penyemprotan sebelum tanam untuk mengendalikan fusarium. Lukman juga menggunakan trikoderma nasi untuk mensterilkan kompos asal pupuk kandang.
Menurut periset di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusatenggara Barat, Anas Baihaqi, trikoderma efektif menyingkirkan fusarium dengan cara kimiawi dan fisik. Secara kimiawi, trikoderma menyerang fusarium dengan 2 cara. Cendawan hijau itu memproduksi enzim glukonase dan kitinase yang menghancurkan dinding sel fusarium.
Cara kedua, cendawan protagonis itu melepaskan zat trikodermin yang mematikan spora dan hifa fusarium. Secara fisik, trikoderma tumbuh memenuhi media tanam vanili sehingga fusarium tidak mendapat tempat. Selain Lukman, pegiat vanili di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Nur Ali dan pembibit di Kabupaten Kebumen, Fais Chaniffudin juga mengandalkan trikoderma nasi. Ampuh dan mudah dibuat, racikan bumbu dapur dan trikoderma nasi basi menjadi “pusaka” wajib pekebun atau pembibit polong harum itu. (Argohartono Arie Raharjo)
