Masyarakat Buntok, Provinsi Kalimantan Tengah, demam rumah walet.

Gang Melati di Kota Buntok, ibukota Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah, tak seberapa panjang, hanya 150 meter. Namun, di kiri dan kanan gang itu berdiri 15 rumah walet yang cukup besar. Beberapa di antaranya bersebelahan sehingga mirip rumah toko atau ruko. Bedanya dinding rumah walet itu hanya bercat putih, bahkan tanpa cat sama sekali. Bangunan itu pun tanpa jendela, tetapi dilengkapi sebuah pintu kecil tempat walet masuk- keluar bangunan.
Ada juga yang memasang rumah monyet—sebutan untuk bangunan kecil di atas rumah walet. Di Buntok pembangunan rumah walet memang marak. Di berbagai sudut kota, bangunan untuk Collocalia fucifaghus terus bermunculan. Ada yang membangun rumah walet berukuran kecil, 4 m x 6 m berlantai dua. Ada pula yang membangun hingga ukuran 10 m x 20 m dengan 8—10 tingkat.
Walet gua
Selain itu banyak rumah walet yang sedang dibenahi, terlihat dari bambu-bambu yang menempel di dinding, layaknya hunian yang diperbaiki. Masyarakat kota yang terletak di pinggir Sungai Barito itu sudah lama membangun rumah walet. Menurut tokoh walet di Buntok, Aheng, rumah walet pertama dibangun pada 1993 oleh Oyong. Asrani dan H. Firman kemudian mengikuti jejak Oyong membangun rumah walet. Mereka bertiga sesepuh warga Buntok.

Namun, perkembangan saat itu masih lambat lantaran ilmu budidaya walet belum secanggih kini, terutama cara memikat lewat suara dari audio. Potensi Buntok dan sekitarnya untuk menghasilkan sarang walet memang cukup besar. Iklim Kalimantan Tengah yang lembap mendukung untuk berkembang biaknya walet. Apalagi dari luas wilayah Kabupaten Barito Selatan, 8.830 km², sebanyak 377.395 ha berupa hutan hujan tropis.

Hutan rawa di provinsi itu mencapai 271.550 ha, sungai dan danau 44.623 ha, serta pemanfaatan lain 189.432 ha. Dengan hutan, rawa, dan sungai yang cukup luas sehingga ketersediaan serangga melimpah. Walet memanfaatkan serangga-serangga kecil itu sebagai pakan. Ketika pertambangan batu bara marak dibuka dan kebakaran hutan melanda daerah itu, walet-walet meninggalkan tempat tinggalnya di gua dan mencari sarang baru.
Akhirnya burung anggota famili Apodidae itu memanfaatkan rumah walet di Buntok dan sekitarnya sebagai tempat tinggal baru sehingga menjadi walet rumahan. Pembangunan rumah walet sangat banyak dibangun masyarakat pada 2008—2011. Saat itu harga sarang mencapai Rp15-juta per kg. Masyarakat Buntok membangun rumah walet hingga daerah pelosok kabupaten yang lebih mudah ditempuh dengan perahu.
Salah bangun

Ada yang membangun rumah baru, tetapi tidak sedikit yang memanfaatkan rumah tinggal, atau tempat usaha. Warga Jl. Panglima Batur, Kota Buntok, Rahmat Hidayat, terpaksa merelakan ruko untuk berniaga suku cadang kendaraan bermotor menjadi rumah walet demi mengharap liurnya. Ia kemudian meninggalkan ruko itu. Warga lain, Firdaus, memanfaatkan kamarnya untuk hunian walet. Ia merombak kamar 4,60 m x 8,50 m dengan dana Rp20-juta, menjadi rumah walet pada 2011.
Adapun Supriyadi, warga Muarapuning, Kecamatan Dusun Hilir—3 jam perjalanan dari Buntok—membangun rumah walet baru. Ia menghabiskan dana Rp300-juta untuk membangun rumah walet 3 lantai seluas 8 m x 12 m. Kurangnya pengetahuan akan budidaya walet membuatnya menghabiskan dana besar karena melakukan bongkar pasang.

Menurut pakar walet di Tangerang, Provinsi Banten, Hendry Mulia, kurangnya pengetahuan mereka, membuat rumah yang dibangun harus menunggu waktu lama agar walet masuk rumah. Hendry mengatakan masyarakat melakukan berbagai kesalahan ketika membangun rumah walet. Ia mencontohkan membangun rumah beberapa tingkat, tetapi lubang antarlantai sangat kecil.
Lubang itu hanya 100 cm x 100 cm sehingga menyulitkan walet untuk bermain-main di lantai di bawahnya. Masalah suara pun masih banyak yang kurang tepat peruntukan atau penempatannya. Akibat salah pembangunan rumah walet, warga pun acap kali membongkar untuk memperbaiki. Tujuannya agar si liur emas merasa nyaman menghuni rumah itu. (Syah Angkasa)
