Burung Hantu dan Pengendali Hama Tikus di Sawah

Rekomendasi
- Advertisement -

Pendekatan pengendalian hama di sektor pertanian kini semakin mengedepankan prinsip ekologi. Petani mulai beralih ke metode alami yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu metode yang yakni penggunaan burung hantu jenis Tyto alba. Burung ini dikenal sebagai predator alami tikus yang menjadi momok di lahan pertanian.

Tyto alba mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam. Keberadaannya membantu menjaga keseimbangan populasi hama secara alami.

Burung ini mudah beradaptasi dengan iklim tropis dan tidak bersifat agresif terhadap manusia. Hal ini menjadikannya cocok diterapkan dalam sistem pertanian berkelanjutan.

Menurut Yudhistira Nugraha, Peneliti Ahli Madya dari BRIN dilansir pada laman BRIN Tyto alba efektif berburu tikus di alam terbuka. Kemampuannya menjadi solusi penting dalam pengendalian hama tikus.

Meski begitu, Yudhistira mengingatkan bahwa predator alami belum cukup jika terjadi ledakan populasi. Dalam kondisi ini, perlu pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai metode tambahan.

Metode seperti pengemposan sarang, grobyokan, dan pemasangan trap barrier system menjadi langkah pencegahan. Strategi ini membantu menekan populasi tikus sebelum predator alami mengambil alih.

“Pendekatan terpadu ini penting agar penurunan populasi tikus terjadi secara efektif,” kata Yudhistira. Ia menyarankan kombinasi strategi agar hasilnya maksimal.

Pemanfaatan burung hantu juga perlu pengelolaan yang berkelanjutan. Jika tikus sebagai sumber makanan utama langka, burung bisa memangsa hewan kecil lain.

Hal ini berisiko mengganggu keseimbangan ekosistem di sekitar lahan. Maka dari itu, pemantauan populasi burung hantu menjadi langkah penting.

Salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan petani adalah dengan menyediakan Rubuha. Rubuha merupakan rumah burung hantu berupa kotak sarang di atas tiang.

Karena Tyto alba tidak membuat sarang sendiri, Rubuha sangat penting dalam program konservasi. Fasilitas ini juga membantu burung untuk berkembang biak di lahan pertanian.

Biasanya Rubuha dipasang setiap 100 hingga 200 meter tergantung luas lahan. Tujuannya agar area jelajah burung yang mencapai 12 hingga 25 hektar tidak tumpang tindih.

Sebelum dilepas, burung hantu bisa ditangkarkan lebih dulu di kandang karantina. Di sana, mereka dilatih mengenal tikus hidup sebagai mangsa utama.

Proses adaptasi ini penting agar burung bisa berburu secara mandiri. Setelah terbiasa, mereka dilepas ke alam dan mulai menjalankan peran pengendali hama.

Pemantauan rutin tetap dibutuhkan untuk memastikan keseimbangan tetap terjaga. Langkah ini penting agar burung tidak memangsa hewan lain ketika tikus berkurang.

Kesuksesan program ini sangat bergantung pada keterlibatan petani dan dukungan kebijakan. Edukasi dan penyediaan fasilitas seperti Rubuha harus terus didorong.

“Konservasi yang terintegrasi dengan strategi pengendalian hama adalah masa depan pertanian,” tutup Yudhistira. Pendekatan ini membuka jalan menuju sistem pertanian yang sehat dan berkelanjutan.

foto: Dok. BRIN

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Ngobrolin Sukun: 1 Hektare Untung Ratusan Juta

Sukun bukan cuma sekadar gorengan! Siapa sangka, warisan budaya yang sudah ada sejak era Borobudur ini ternyata menyimpan potensi industri...

More Articles Like This