Trubus.id— Tingkat keberhasilan Joko Supriyanto memperbanyak aglaonema dengan metode cacah batang meningkat, dari yang semula 50% kini menjadi 70%.
“Saya menggunakan gelas plastik transparan sebagai wadah tanaman dan menjaga media tanam steril,” kata pehobi di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, itu.
Ia juga tak perlu repot-repot menyiram bibit aglaonema setiap hari. Paling sepekan sekali, kadang juga lebih. Hal itu karena Joko menggunakan tiga gelas plastik yang tersusun. Lapisan ketiga atau paling luar sebagai penampung air dari sisa penyiraman.
Air di gelas penampungan itulah yang menjaga kelembapan. Menurut Joko kelebihan menggunakan gelas plastik yaitu kondisi tanaman lebih mudah terpantau karena wadah penanaman transparan. Jadi, kalau ada gejala kegagalan bisa segera tertangani.
Bandingkan dengan wadah penanaman yang tidak transparan alias gelap. Pehobi lebih susah memantau pertumbuhan akar. Padahal kegagalan perbanyakan dan pertumbuhan aglaonema kerap disebabkan penyakit busuk akar.
Joko memisahkan cacahan yang menguning atau menghitam agar tidak menular ke tanaman lain. “Biasanya kita coba untuk sembuhkan, tapi kebanyakan tidak terselamatkan,” tutur pehobi tanaman hias sejak 2014 itu.
Namun, upaya itu efektif mencegah penyebaran penyakit. Tingkat keberhasilan perbanyakan aglaonema ala Joko lebih tinggi. Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Insitut Pertanian Bogor, Ir. Edhi Sandra, M.Si., keberhasilan teknik ala Joko tergantung dari beberapa faktor seperti kesterilan media tanam, jenis media tanam, dan kondisi lingkungan.
“Media tanam harus bersih atau steril, bisa menjaga kelembapan dan menyediakan sirkulasi udara yang baik,” tutur alumnus Jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor, itu.
Sementara lingkungan yang kondusif yakni tidak terlalu kering, tidak terlalu basah, dan stabil membuat pertumbuhan sel-sel baru optimal.
