Trubus.id — Saat panen raya, harga cabai kerap anjlok. Namun, ketika pasokan langka, harga cabai melambung. Salah satu solusi mengatasi fluktuasi harga cabai adalah menerapkan pengawetan cabai.
Lazimnya, cabai pascapanen hanya mampu bertahan 6–7 hari di suhu ruang. Padahal, faktanya, terdapat inovasi yang bisa membuat cabai bertahan lebih lama. Cabai bisa diawetkan hingga 120 hari.
Ir. Dede Martino, M.P., dosen di Fakultas Pertanian Universitas Jambi, salah seorang yang membuktikannya. Ia menyimpan cabai selama 4 bulan lamanya. Hasilnya, cabai masih berkulit segar dan berwarna merah terang. Apa rahasia yang dilakukan Dede sehingga cabai bisa awet?
Dede mengawetkan cabai dengan menggunakan mesin rakitannya sendiri. Sebelum melakukan teknis pengawetan ke mesin rakitannya, ia terlebih dahulu membuang tangkai buah, kemudian memotong cabai melintang menjadi 3 bagian. Pemotongan cabai bertujuan mempercepat proses penguapan air yang terkandung dalam daging buah.
Selanjutnya, ia mencuci bersih, menyusun cabai bersih di 10 rak dalam mesin. Dede Martino mengeringkan cabai pada suhu ruang di bawah 40°C selama 32 jam. Sebelum pengeringan, kadar air cabai rata- rata 90,9%, setelah pengeringan hanya 18,18%.
Itulah sebabnya bobot cabai pun berkurang hingga 80%. Martino mengatakan, biaya pengeringan hanya Rp20.000 per kilogram. Ia mengeluarkan cabai kering dan mengemas dengan botol plastik.
Ketika ingin mengonsumsi cabai segar, konsumen tinggal merendam cabai dalam air bersih selama 10 menit. Seketika cabai kembali segar seperti sebelum pengeringan.
Lalu bagaimana cara Dede merakit mesin itu, mulai dari desain, cara kerja mesin membuat cabai awet?
Anda bisa membaca lebih lanjut terkait inovasi pengawetan cabai hingga 120 hari, di Majalah Trubus Edisi 635 Oktober 2022. Di situ dijelaskan lebih detail metode perakitan mesin dan total biaya yang dibutuhkan untuk membuat mesin pengawet cabai.
Segera dapatkan Majalah Trubus Edisi 635 Oktober 2022 di Trubus Online Shop atau melalui WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.
