Trubus.id—Cendawan Phytophthora berbahaya bagi tanaman pepaya. Musababnya sebagai patogen tular tanah. Mereka dapat bertahan lama di dalam tanah yang mengandung banyak bahan organik.
Menurut Dosen di Departeman Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Sobir, M.S., cara terbaik membongkar sumber penyakit. Bagi pekebun berorientasi bisnis, biaya penanganan penyakit akan jauh lebih besar daripada memulai penanaman tanaman baru.
Pekebun di Desa Korelet, Kecamatan Curug, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Tatang Halim pun pernah membongkar batang tanaman pepaya yang sakit parah. Tatang kembali menanam pepaya di lahan yang sama.
Cara budidaya pepaya ala Tatang terbukti mampu mencegah serangan layu. Cara budidaya ala Tatang yakni dengan meninggalkan penggalian lubang tanam. Sebagai gantinya, pria berkacamata itu membuat guludan dari tanah setinggi 30 cm dan lebar 50 cm sebagai tempat tumbuh tanaman.
Ia menanam benih di guludan dengan kedalaman sekitar 5—10 cm dari permukaan tanah. Ia menaburkan pupuk kandang di permukaan tanah di sekeliling tempat penanaman benih. Dengan begitu nutrisi masuk ke dalam tanah secara lambat urai, karena tahap pertumbuhan benih lebih membutuhkan ketersediaan air yang cukup.
Pemenuhan kebutuhan air pada lahan juga harus memperhatikan pengaturan drainase. Menurut Tatang, saluran pembuangan air yang masuk ke lahan penting dibuat supaya tanah tidak jenuh air.
“Kalau tanah sudah jenuh air, teksturnya berubah menjadi padat dan saat kering permukaannya pecah-pecah. Kondisi seperti itu tidak mendukung untuk tumbuhnya tanaman apa pun,” kata Tatang.
Pekebun harus memberi jalan air misal parit kecil supaya tidak berada di lahan terlalu lama. Tatang mengatakan, itu salah satu fungsi penanaman benih di guludan. Posisi benih dan pupuk tidak terendam air sehingga terhindar dari busuk dan perkembangan cendawan.
Tatang menuturkan bahwa kelembapan faktor penting dalam menanam pepaya. Jika kelembapan termasuk tinggi dapat memangkas tanaman supaya sirkulasi udara kembali lancar dan lingkungan tidak didominasi udara yang mengandung banyak uap air.
Tatang mengatakan tanaman pada musim hujan sebetulnya tidak rentan penyakit busuk akar. “Menurut pengalaman saya, kondisi justru sebaliknya. Cendawan mulai berkembang pada akhir musim hujan,” ujar Tatang.
Ketika intensitas dan frekuensi hujan berkurang, suhu hangat, menyebabkan iklim mikro di sekitar tanaman (kelembapan) justru meningkat.
