Friday, August 12, 2022

Cemara Udang Tercantik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kimeng, milik Vincent Wang, best in show kelasregional
Kimeng, milik Vincent Wang, best in show kelas
regional

Cemara udang menyabet peringkat pertama di kelas utama Kontes Nasional Bonsai dan Suiseki 2013.

Cemara udang berumur 20 tahun itu mengalahkan anting putri milik M. Farid dari Jakarta yang menempati peringkat kedua. “Secara keseluruhan penampilan cemara udang nyaris sempurna dan memiliki tingkat kematangan terbaik,” ujar Toni Effendi, ketua tim juri kontes yang berlangsung di Sunter, Jakarta Utara, itu. Cirinya antara lain tanpa alat bantu baik seutas kawat maupun tali yang menempel di tubuh cemara udang.

Struktur anatomi tanaman pun seimbang mulai dari akar, batang, cabang, dan ranting. Dimensi tanaman anggota keluarga Casuarinaceae itu juga sangat kuat. Begitu pula dengan tekstur kulit batang yang menonjol sehingga terkesan tua. Setelah melewati proses penjurian selama sehari, tim juri sepakat menabalkan cemara udang milik Freddy Susanto itu sebagai best in show pada lomba yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia Pusat (PPBI Pusat)  pada 6 April 2013.

Langganan juara

Beringin milik Honggo JS berhasil mendapatkan emas di kelas bintang
Beringin milik Honggo JS berhasil mendapatkan emas di kelas bintang

Freddy mengatakan persaingan kontes kali ini cukup berat. “Bonsai yang turun arena memiliki kualitas di atas rata-rata,” ungkapnya. Meski demikian, koleksinya mampu menjadi kampiun. Ia menuturkan pada kontes-kontes sebelumnya cemara udang itu kerap menggondol gelar best in show di kelas regional dan madya. Pada kontes bonsai nasional yang diselenggarakan oleh PPBI cabang Bekasi (April 2012), cemara udang itu meraih juara di kelas madya. “Kontes ini pertama kalinya ia diterjunkan di kelas utama dan langsung merebut peringkat pertama,” kata pehobi bonsai dari Jakarta Timur itu. Bonsai cemara udang itu merebut prestasi gemilang lantaran Freddy rutin merawatnya dibantu trainer dari Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Freddy memberikan asupan berupa pupuk organik setiap pekan. Ia juga rutin memotong percabangan setiap bulan. Penyiraman cuma dua kali sehari saat cuaca panas. Cuaca mendung atau hujan, cukup sekali sehari. Cemara udang itu ia letakkan di tempat yang cukup cahaya matahari dan sirkulasi udara lancar. Dua bulan menjelang kontes, ia membenahi posisi tanaman dalam pot dan menambahkan lumut di atas media agar tampil menarik.

Kontes bertajuk “Hijau dan Indah Jakarta-ku” itu juga mempertandingkan kelas madya dan regional. Di kelas madya, anting putri milik M Farid dari Jakarta berhasil membetot hati tim juri. Maya Rusmayadi, ketua tim juri, menuturkan persaingan kontes kali ini berlangsung sangat ketat. “Juri harus hati-hati dan teliti menilai karena semua tanaman tampil nyaris tanpa cacat,” katanya.

Anting putri milik M Farid, best in show kelas madya
Anting putri milik M Farid, best in show kelas madya

Anting putri Wrightia religiosa bergaya natural seolah malu-malu memamerkan liuk tubuhnya yang tertutup dedaunan. “Dengan tampilan seperti itu terlihat jelas anatomi tubuhnya mulai dari batang hingga cucu ranting,” kata Maya Rusmayadi, asal Bandung. Kematangan tanaman juga mendekati sempurna

Karakter itu yang membawa tanaman anggota famili Apocynaceae itu mampu mengalahkan pesaing dari berbagai kota yang juga tampil cantik. Pantas, bila bonsai itu mampu melesat ke peringkat pertama mengalahkan 60 bonsai saingannya. Sebut saja sinensis dan sianchi asal Bandung serta beringin elegan asal Jepara. Saingan terberat datang dari sinensis milik Eri Eriadi dari Bandung. Namun, dari segi kematangan anting putri lebih unggul.

Kelas bintang

Sementara itu, kimeng milik Vincent Wang dari Tangerang, Provinsi Banten, menjadi yang terbaik di kelas regional. “Penampilannya alami menyerupai sosok asli di alam. Gerak dasar dari pangkal batang hingga cucu ranting terbentuk sempurna,” kata S Wahyudi, ketua tim juri asal Surabaya. Serupa dengan anting putri milik M Farid, kimeng juga tampil sangat berani memperlihatkan seluruh anatomi tubuhnya. “Kalau tanaman itu tidak sempurna, pemilik tidak akan berani menujukkan detail bagian tubuh tanamannya,” kata Wahyudi.

Panitia mencatat terdapat 134 bonsai yang turun di kelas regional, 61 bonsai di kelas madya dan 29 bonsai di kelas utama. “Dari total peseta yang turun arena, 50% peserta tergolong pemula. Namun, bonsai yang diikutsertakan tak perlu diragukan kualitasnya,” kata Yayat Hidayat, ketua pelaksana. Kontes semakin meriah dengan hadirnya 14 bonsai di kelas bintang dan 32 bonsai di kelas prospek. Pada kelas bintang, bonsai beringin milik Honggo JS dari Ponorogo berhasil mendapat peringkat emas.

Menurut anggota dewan juri, Gunawan Wibisono, kontes kali ini seolah adu kualitas bonsai terbaik dari seluruh tanahair. Peserta luar kota datang dari Madura, Lampung, Palembang, Medan, Jambi, dan Bali. Setiap pehobi bonsai menurunkan klangenan terbaiknya di acara yang berlangsung hingga 14 April 2013 itu. “Jadi yang terbaik di masing-masing daerah itu adu cantik di sini,” ujar Gunawan. (Andari Titisari).

522-Mei-2013-53

FOTO:

  1. Kimeng, milik Vincent Wang, best in show kelas regional
  2. Cemara udang milik Freddy Susanto, best in show kelas utama.
  3. Anting putri milik M Farid, best in show kelas madya
  4. Beringin milik Honggo JS berhasil mendapatkan emas di kelas bintang
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img