Monday, August 15, 2022

Kirim Anggrek Panen Dolar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Aranthera new azima, jenis baru incaranpehobi
Aranthera new azima, jenis baru incaran
pehobi

Hari ini panen, dua hari kemudian anggrek potong produksi nurseri Thai Orchid Corporation (TOC) terpajang di gerai bunga di Jepang, Korea, Australia, Amerika Serikat, dan Kanada.

Para pemetik anggrek potong di nurseri (TOC)  itu berduyun-duyun ke ruang sortir. Mereka meletakan anggrek potong di atas meja panjang. Di ruang itu para petugas sortir mengamati satu per satu hasil panen. Mereka bekerja sangat teliti. Kadang-kadang mereka menggunakan kaca pembesar atau senter kecil untuk mendeteksi kehadiran serangga yang berukuran tak sampai seujung kuku. Jika menemukan makhluk liliput itu, mereka segera membuangnya.

“Satu saja kutu kecil lolos, pembeli akan menolak dan mengembalikan seluruh bunga dalam kemasan,” kata Jade Meyanyieam, direktur eksekutif TOC. Perusahaan juga bisa terkena denda. Belum lagi kerugian akibat biaya kirim yang relatif mahal. Dampak terburuk, pemutusan kontrak oleh pembeli di mancanegara. Meski dituntut harus teliti, para penyortir itu bekerja cepat. Maklum, dalam 2—3 jam, bunga segar itu mesti segera dikirim ke bagian pembuatan rangkaian.

Rp14,5-triliun

Dalam waktu hanya 2 jam, seorang penyortir mesti menyeleksi lebih dari 100 tangkai anggrek. Setelah selesai sortir, TOC lantas membuatnya menjadi aneka rangkaian bunga seperti rangkaian buket, kalung, dan korsase,  tergantung permintaan importir. Rangkaian itu terbuat dari aneka jenis anggrek berbagai warna dan juga aneka jenis bunga lain seperti bunga anthurium serta helikonia. Menurut wakil direktur TOC,  Sritip Meyanyieam, perpaduan dengan kedua jenis bunga itu untuk melahirkan karakter rangkaian.

“Anggrek menggambarkan karakter dinamis, tapi lembut. Sementara anthurium bunga dan helikonia memberi kesan santai,” kata Sritip. TOC menjual sebuah rangkaian bunga itu US$3—US$6 setara Rp28.000—Rp57.000. Meski membanderol harga terjangkau, nurseri anggrek terbesar di Thailand itu mampu meraup omzet tahunan US$1,5-miliar setara Rp14,5-triliun. Penyumbang omzet terbesar Jepang, yakni US$500-juta—US$600-juta per tahun atau 34—40% dari total omzet.

Anggrek potong dalam kemasan, siap kirim
Anggrek potong dalam kemasan, siap kirim

Sementara Amerika Serikat menyumbang omzet hingga US$400-juta setara Rp3,9—triliun per tahun. Omzet lainnya datang dari Cina, Korea, dan negara-negara di Eropa. Menurut Sritip, permintaan dari Jepang paling tinggi karena warga di sana mempunyai tradisi menghias altar pemujaan di setiap rumah dengan  rangkaian bunga. “Permintaan dari Jepang mengalir sepanjang tahun, tidak tergantung musim,” kata perempuan yang menjabat direktur pelaksana Thai Orchids Exporter Association itu.

Untuk memenuhi permintaan dari berbagai negara itu, TOC membutuhkan lebih dari 20-juta batang anggrek berbagai jenis setiap tahun. Semua pasokan anggrek potong itu hasil produksi sendiri di lahan 400 rai—sekitar 244 ha—yang tersebar di Provinsi Ranchaburi (213 ha), Nakhorn Pathom (25 ha), dan Samut Sakhorn  (6 ha). TOC paling banyak membudidayakan dendrobium dan aranthera karena paling cocok dengan iklim di sana. Menurut manajer pembibitan TOC, Duangporn Bonchai, kedua anggrek itu menghendaki suhu 25—350C dan kelembapan rata-rata 80%.

“Di sini pertumbuhannya optimal,” kata Duangporn. Kedua tanaman anggota famili Orchidaceae itu mampu berbunga sepanjang tahun atau berbunga setahun sekali, tapi langsung menghasilkan banyak bunga. Keunggulan lain, anggrek potong dendrobium dan aranthera lebih tahan layu ketimbang anggrek jenis lain seperti cattleya, catasetum, atau jenis-jenis anggrek dengan kelopak tipis.

Cuaca

Salah satu tempat pembibitan Thai OrchidsCorporation di Provinsi Ranchaburi seluas 214 ha.
Salah satu tempat pembibitan Thai Orchids
Corporation di Provinsi Ranchaburi seluas 214 ha.

Untuk mengelola nurseri seluas 300 kali lapangan bola itu, TOC hanya mempekerjakan 180 pegawai. “Kebanyakan untuk tenaga petik dan sortir,”  kata Duangporn. Maklum, perusahaan itu mengatur perawatan secara otomatis. Nurseri anggrek yang berdiri pada 1989 itu menggunakan sprinkler untuk menyiram, memupuk, dan mengatasi organisme pengganggu tanaman. Pada budidaya aranthera, tidak memerlukan penyiraman lantaran akarnya menjulur panjang ke bawah rak tanam.

TOC cukup mengalirkan air dalam wadah sampai menggenangi akar. Pemberian pupuk dan pestisida cukup dengan cara ditaburkan langsung ke genangan air di kolong rak tanam. TOC bukan hanya mengandalkan pendapatan dari hasil ekspor rangkaian bunga dan anggrek potong. Mereka juga memproduksi bibit anggrek dalam botol dan penyewaan tanaman. Salah satu pengguna jasa TOC adalah bandara internasional Suvarnabhumi.

Anjungan masuk, ruang tunggu penumpang, hingga terminal kedatangan di bandara itu semarak oleh berbagai jenis anggrek. “Penggantian setiap pekan karena tanaman diletakkan dalam ruang dan berpendingin udara,” kata Sritip. Sebagai pencinta anggrek, Jade dan Sritip juga rajin melahirkan anggrek-angrek  silangan baru seperti aranthera new azima yang dominan warna merah. Jenis silangan lain yang banyak diminati kolektor antara lain jenis anne kool dan aomyai jingga yang merupakan hasil persilangan aranthera dengan mokara.

Pasangan suami-istri itu juga menghasilkan silangan dendrobium yang banyak dikoleksi pencinta anggrek, antara lain charming white pink, diana green, dan lady white. “Semua anggrek hibrida itu untuk koleksi sehingga harganya berbeda dengan anggrek untuk bunga potong,” kata Jade. Semakin tua umur anggrek koleksi harganya semakin mahal karena dapat menjadi indukan. Menurut Sritip, kadang ia sengaja memasang harga setinggi-tingginya agar orang tidak membeli.

Meski dilengkapi teknologi tinggi, budidaya anggrek di TOC tetap saja mengalami beberapa kendala, terutama ketersediaan sinar matahari. Pada 2012, produksi bunga potong sempat melorot 20% lantaran musim hujan berkepanjangan. “Puncak bulan basah lazimnya hanya  3 bulan,  ketika itu sampai 5 bulan. Perbedaan suhu antara siang dan malam yang ekstrem juga menyebabkan bakal bunga menjadi layu kekuningan,” kata Duangporn. Akibatnya, bunga afkir. Untungnya mereka menjalin kerja sama dengan beberapa petani mitra walaupun harus membeli dengan harga lebih mahal. Dengan begitu, omzet pun terus mengalir tanpa putus.  (Argohartono Arie Raharjo)

 

FOTO:

  1. Aranthera new azima, jenis baru incaran pehobi
  2. Salah satu tempat pembibitan Thai Orchids Corporation di Provinsi  Ranchaburi seluas 214 ha.
  3. Anggrek menjadi ornamen di ruang terbuka umum seperti bandara
  4. Proses penyortiran dan pemisahan berdasarkan warna
  5. Anggrek potong dalam kemasan, siap kirim
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img