Friday, December 2, 2022

Berpadu Jerat Jerawat

Rekomendasi
dr Willy Perdana Setyabhakti SpKKmenduga Rosa mengalami aknekoblongata
dr Willy Perdana Setyabhakti SpKK menduga Rosa mengalami akne koblongata

Kondisi Rosa Sariwati—nama samaran—membaik dari jerawat konglobata berkat kombinasi tapak liman, pegagan, dan sambiloto.

Jerawat hampir memenuhi seluruh wajah Rosa. Ukuran jerawat itu satu kali lebih besar dibanding jerawat normal. Benjolan pada wajah pun menimbulkan nyeri luar biasa. Penderitaan Rosa kian bertambah karena menguar aroma tak sedap akibat kumpulan jerawat itu. Sekali waktu jerawat pecah dan nanah mengalir. Kondisi itu meruntuhkan rasa percaya diri sehingga ia terpaksa menarik diri dari pergaulan.

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin di Klinik Willy Skin Centre di Jakarta Barat, dr Willy Perdana Setyabhakti SpKK, jerawat pada kasus Rosa tergolong acne conglobata. Sebab, “Jumlah jerawat lebih dari 30 dan berukuran lebih besar daripada ukuran jerawat normal serta menyebar hampir ke seluruh wajah,” tutur dr Willy.

Menurut Willy acne conglobata sebetulnya jarang terjadi. Dokter alumnus Universitas Padjadjaran itu mengatakan penanganan jerawat lebih mudah jika diketahui lebih awal. Waspadai keberadaan jerawat yang berukuran di luar normal dan berjumlah relatif banyak. “Jika terdapat gejala tersebut segera periksakan diri ke dokter,” kata dr Willy.

Jerawat biasa

522-Mei-2013-41Akne konglobata yang Rosa alami berawal dari jerawat biasa. Pada Desember 2012 muncul sekitar 5 jerawat di kening kiri. Ia menganggap biasa kehadiran jerawat itu. Ternyata benjolan kecil itu awal dari penderitaan Rosa. Lima hari berselang, jerawat itu tak kunjung pergi. Padahal, 3 hari berikutnya ia mesti melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN).

Untuk mengatasi jerawat itu Rosa mengunjungi tempat perawatan kulit di Semarang, Jawa Tengah. Petugas yang memeriksa mengatakan Rosa terkena acne vulgaris atau jerawat biasa. Menurut   dr Willy jerawat biasa terjadi karena adanya sumbatan pada kelenjar minyak di kulit. Minyak berlebih dalam tubuh mestinya dikeluarkan lewat pori-pori kulit. Namun, minyak tertahan dan makin lama semakin banyak. Akibatnya Propionibacterium acne—bakteri penyebab jerawat—pada kulit berkembang biak sehingga menimbulkan radang.

Dari tempat perawatan kulit itu ia mendapat obat berbentuk krim dan kapsul. Demi kesembuhan perempuan berusia 40 tahun itu patuh mengonsumsi obat. Namun, sepekan berselang tidak ada perubahan berarti. Itu mendorong Rosa memeriksakan diri ke sebuah rumahsakit di Semarang. Hasil diagnosis dokter spesialis kulit sama dengan pemeriksaan sebelumnya: jerawat biasa. Dokter yang memeriksa menyarankan melakukan facial dan laser. Menurut   dr Willy penyinaran dengan laser bertujuan mengeringkan jerawat dan mematikan bakteri.

Rosa yang berharap sembuh pun menuruti saran dokter. Sayangnya, kesembuhan bagai api jauh dari panggang. Setelah melakukan perawatan itu kondisi Rosa tak berubah. Jerawat yang mestinya sirna, malah terus bermunculan dan memenuhi wajah Rosa. Herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi, menduga jerawat merajalela karena perlakuan facial. “Kemungkinan jerawat itu tersentuh saat facial dan bakteri menyebar ke bagian wajah lain,” kata Lukas.

Sejatinya jerawat bukan masalah kulit masa kini. Menurut ahli homeopati dari Uttaranchal, India, Dr Rajneesh Kumar Sharma MD(Hom), jerawat sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Pada masa pemerintahan Tutankhamun (1333—1324 SM) penduduk negeri piramida itu sudah terkena jerawat. Pada abad ke-4, dokter pengadilan Kaisar Roma Theodosius I (379—395 M), Marcellus Bordeaux, menyarankan penderita menghapus jerawat saat melihat bintang jatuh.

Hari-hari yang dilalui Rosa sungguh berat. Ia sulit tidur karena nyeri dan sakit akibat jerawat itu. “Saya baru bisa memejamkan mata menjelang subuh,” ujar perempuan kelahiran Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, itu. “Jerawat satu saja menimbulkan nyeri. Apalagi jerawat yang berjumlah banyak,” kata dr Willy. Saking nyerinya Rosa sesekali menusukkan jarum ke jerawat itu. Akne konglobata pun semakin membatasi aktivitas Rosa. Untuk sementara waktu ia absen kuliah. Aktivitasnya sebagi pengajar di TK pun rehat sejenak. Keluarga Rosa berusaha mencari alternatif penyembuhan lain.

Pegagan

Di tengah keterpurukan itu, seorang kerabat menyarankan Rosa berobat ke Lukas. Kebetulan saat itu Lukas berkunjung ke rumah adiknya, dekat rumah Rosa. Herbalis itu menduga jerawat Rosa muncul karena alergi kosmetik. “Kemungkinan selama ini Rosa menggunakan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri. Lalu ia menghentikan penggunaan kosmetik dan menggantinya dengan yang lain,” tutur Lukas.

Herbalis itu memberikan krim dan minuman herbal serta kapsul  sambiloto kepada Rosa. Krim terbuat dari daun pegagan, daun mimba, dan daun dewa. Pegagan Centella asiatica berperan merevitalisasi kulit dan mengurangi peradangan. Ji xue cao—sebutan pegagan di Cina—juga berefek mendinginkan kulit. Lukas menganjurkan Rosa menggunakan krim 3 kali sehari. Sayang, Rosa hanya sanggup memakai krim tersebut sehari sekali. Sebab, “Sebelum krim dipakai seluruh wajah mesti dibersihkan dengan alkohol. Nah, itu memakan waktu hingga 4 jam,” kata Rosa.

Selain krim, Lukas memberikan herbal dalam bentuk minuman instan terdiri atas tapak liman, jahe, temulawak, pegagan, dan kunyit. Rosa mencampur 2 sendok teh serbuk itu dan mencampurnya dengan setengah gelas air panas. Lalu setelah hangat ia menyaring dan meminum herbal itu 2 kali sehari. Tapak liman Elephantopus scaber mendominasi kandungan minuman herbal itu. Tanaman anggota famili Asteraceae itu berkhasiat membuang racun dalam tubuh. Herbal lainnya berupa jahe, kunyit, temulawak, pegagan, akar alang-alang, dan biji selasih. Untuk mengurangi radang dan infeksi Lukas juga meresepkan kapsul sambiloto. Rosa mengonsumsi 3 kapsul Andrographis paniculata itu 3 kali dalam sehari.

Selang 2 minggu khasiat gabungan herbal itu membuahkan hasil. Hampir 80% jerawat di wajah mengering dan mengempis. Tidak ada lagi benjolan besar bernanah yang menguarkan aroma tak sedap dari wajah Rosa. Kondisi kulit mahasiswi di sebuah universitas swasta di Semarang itu membaik. Pengobatan sebelumnya tidak menunjukkan perkembangan seperti ini. Rosa pun senang dan harapan sembuh semakin besar. Untuk mencapai kesembuhan maksimal ia masih rutin mengonsumsi resep herbal sesuai dosis yang ditentukan. (Riefza Vebriansyah)

 

FOTO:

  1. dr Willy Perdana Setyabhakti SpKK menduga Rosa mengalami akne koblongata
  2. Pegagan terbukti empiris merevitalisasi kulit yang terkena jerawat
  3. Menurut Lukas Tersono Adi konsumsi cokelat saat berjerawat menyebabkan gatal
Previous articleKirim Anggrek Panen Dolar
Next articleAnggur Cegah Tuli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img