Trubus.id—Setiap empat bulan sekali, Nur Rendiyanto, memanen sekitar 200 kg alpukat dengan kualitas premium. Pekebun alpukat di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur itu melakukan budi daya intensif pada 40 pohon alpukat miliknya.
Sekitar 90% atau setara dengan 180 kg hasil panen masuk dalam kategori kategori A. Buah memiliki ciri-ciri di antaranya berbobot 500 gram per buah dan memiliki kulit yang mulus dan mengilap. Buah berbentuk bulat sempurna yang merupakan khas dari jenis miki.
Selain tampilan luar, tekstur daging juga pulen dan kering. Warna daging buah kuning cerah mirip dengan mentega dan bercita rasa gurih sedikit manis. Sementara sisanya masuk dalam kategori B dan C.
Alpukat yang masuk dalam kategori B dan C memiliki bobot kurang dari 500 gram per buah dan terdapat sedikit goresan pada kulit buah.
Lantas apa rahasia Rendi? “Kuncinya pada pemupukan yang intensif akan menghasilkan buah alpukat dengan kualitas prima,” ujar bapak 2 anak itu.
Rendi menanam pohon alpukat jenis miki. Sebelum memulai fase tanam, ia memberikan 1 kg kapur pertanian dan 40 kg kotoran kambing fermentasi per lubang tanam sebagai pupuk dasar.
Aplikasi pupuk dasar itu sekali dalam setahun, yakni saat musim kemarau di bulan Juni ia menaburkan lagi 40 kg pupuk kotoran kambing terfermentasi. Pemberian secara merata pada bagian bawah tajuk pohon.
Tidak lupa Rendi juga menyemprotkan asam humat untuk memperbaiki kondisi tanah yang mengalami penurunan produktivitas dan mencegah penguapan mutrisi pupuk.
Dosis yang diberikan 5 liter larutan per tanaman. Dalam 5 liter larutan itu berisi 1 sendok makan asam humat. Aplikasi pemberian hanya setiap 2,5 tahun sekali.
Berkat hasil produksi alpukat prima, Rendi memperoleh pendapatan lebih besar. Harga alpukat kategori A Rp25.000 per kg. Bandingkan dengan kategori B yang hanya Rp18.000 per kg.
Sekali panen alias setiap 4 bulan sekali ia memperoleh pendapatan sebesar Rp4,8 juta. Ia menjual hasil panennya ke pengepul di Kabupaten Jember.
