Saturday, January 24, 2026

ChickenZ Hadirkan Model Peternakan Modern Berbasis Smart Farming untuk Gen Z

Rekomendasi
- Advertisement -

Di Desa Trayeman, Pleret, Bantul, lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta menghadirkan inovasi peternakan modern melalui usaha ChickenZ. Mereka mengembangkan produksi telur omega-3 dan ayam DOC berbasis smart farming sebagai upaya menghadirkan pangan fungsional sekaligus mendorong regenerasi peternak muda.

Tim terdiri atas Muhammad Naufal Khoirul Imamilhaq Alhifdi sebagai CEO, Adel Syah Aldita yang menangani quality control dan operasional, Eka Nadia Listiyana Putri di bagian keuangan, Ananta Dafa Isna Saputra sebagai penanggung jawab teknis dan desain, serta Ananda Brian Vicky yang membidangi pemasaran. Mereka berkolaborasi di bawah bimbingan Dzul Fadli Rahman, S.Kom., M.Sc.

ChickenZ berangkat dari dua persoalan utama yang dihadapi peternak saat ini: biaya pakan yang terus meningkat dan minimnya pemahaman masyarakat mengenai pangan fungsional seperti telur omega-3. Produk bernutrisi tinggi itu sebenarnya digemari, namun kehadirannya di pasaran masih terbatas dan cenderung dijual dengan harga premium.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ChickenZ mengembangkan pakan sirkular berbahan limbah organik rumah tangga yang difermentasi serta memanfaatkan budidaya azolla. Formulasi itu menekan biaya produksi sekaligus menghadirkan sistem pemeliharaan yang lebih ramah lingkungan.

Teknologi smart farming menjadi tulang punggung sistem produksi. Sensor berbasis Internet of Things (IoT) dipasang pada kandang dan inkubator untuk memantau suhu, kelembapan, dan performa ayam secara real time. Pendekatan itu membuat manajemen produksi lebih presisi dan efisien.

“Generasi muda dekat sekali dengan teknologi. Kami ingin menunjukkan bahwa peternakan bisa modern dan memberikan nilai ekonomi tinggi,” ujar Muhammad Naufal melansir pada laman UNY.

Foto: Dok. UNY

Dari sisi produk, ChickenZ memfokuskan pada telur omega-3, DOC, serta ayam usia 1–2 bulan. Telur omega-3 dihasilkan dari ayam yang mendapat pakan kaya DHA dan EPA, sehingga memberikan manfaat bagi kesehatan otak, imunitas, dan jantung. Mereka juga menyiapkan bibit ayam unggul guna mendukung keberlanjutan peternak lokal.

Dalam pemasaran, ChickenZ membidik jaringan lokal DIY, seperti Burjo dan Warmindo, warung sayur, toko kelontong, distributor telur, hingga pedagang pasar tradisional. Kanal digital melalui Instagram @chickenz.id, marketplace, dan WhatsApp turut dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan konsumen.

“Kami ingin telur omega-3 bisa diakses lebih banyak keluarga, bukan hanya kalangan premium,” ujar Eka Nadia Listiyana Putri.

Selain menjual produk, ChickenZ mengusung misi pembangunan peternakan masa depan dengan mendorong lahirnya peternak muda. Mereka aktif membagikan edukasi mengenai teknologi peternakan, pakan alternatif, dan peluang usaha bagi Gen Z.

Upaya tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama SDG 2, SDG 3, dan SDG 8. ChickenZ bukan hanya menawarkan produk bergizi, tetapi juga menjadi model pemberdayaan ekonomi lokal.

Dengan inovasi teknologi, pendekatan keberlanjutan, dan keberanian mahasiswa muda untuk terjun ke sektor pangan, ChickenZ menjadi gambaran bahwa peternakan dapat tampil lebih modern, efisien, dan relevan bagi generasi baru.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img