Tulisan yang terpampang pada sepot anggrek di stan nurseri Anggrek Mas pada Pameran Flora dan Fauna 2011, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu keruan saja membuat banyak orang penasaran. Maklum, selama ini anggrek identik dengan habitat hutan yang lembap, seperti di pedalaman Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Yang disebut anggrek gurun itu berdaun kaku, muncul dari pseudobulb seukuran telur ayam. Pseudobulb menyembul di permukaan media tanam berbalut pot keramik. Dari salah satu pseudobulb juga muncul tangkai bunga setinggi 1,5 m. Sayangnya sebagian bunga sudah rontok. Hanya beberapa kuntum yang masih bertahan.
Menurut Frankie Handoyo, pakar anggrek di Jakarta, sebutan anggrek gurun melekat pada spesies Eulophia petersii dan E. paniculata. Disebut demikian karena anggota famili Orchidaceae itu mampu bertahan hidup di padang pasir di beberapa negara Afrika seperti Kenya dan Tanzania, hingga Saudi Arabia. Anggrek teresterial itu biasanya tumbuh di habitat ekstrem seperti pasir yang asam dan bebatuan.
Buat pemula
Agar mampu bertahan hidup di lingkungan kering dan miskin hara, E. petersii dan paniculata memiliki pseudobulb yang relatif besar, berdiameter 3 – 4 cm. Pada anggrek bulbophyllum, yang juga memiliki pseudobulb, ukurannya rata-rata hanya 0,5 – 2 cm. Kedua anggrek itu juga berdaun tebal seperti keluarga anggota genus Aloe dan Sansevieria. Frankie menuturkan pseudobulb berfungsi untuk menyimpan cadangan air dan karbohidrat.
Keunikan itulah yang membuat Brilliantoro kepincut mengoleksi anggrek gurun E. paniculata. “Selain unik paniculata juga lebih langka ketimbang petersii,” ujarnya. Ia memperoleh paniculata dari salah seorang rekan sesama hobiis anggrek 2 tahun silam. “Saya mendapatkan tanaman dewasa sehingga dalam setahun sudah mulai berbunga,” katanya. Pada April 2011, Brilliantoro menikmati anggrek gurun yang penuh bunga.
Anggrek kesayangan itu kerap mencuri perhatian kolega atau pengunjung yang bertandang ke nurserinya di Ragunan, Jakarta Selatan. Brilliantoro menanamnya dalam pot dengan media tanam campuran pasir malang dan arang sekam. Anggrek jenis lain biasanya menggunakan media arang atau papan pakis. “Banyak yang menduga paniculata bukan anggrek,” kata Brilliantoro.
Frankie menuturkan tidak semua anggrek bergenus Eulophia memiliki karakter seperti petersii dan paniculata. Yang lainnya kebanyakan dijumpai di kawasan hutan hujan atau padang rumput. Penyebarannya sebagian besar di Afrika.
Beberapa di antaranya juga tumbuh di Indonesia seperti Eulophia graminea yang dikoleksi Dian Rachmawaty, kolektor anggrek di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Yang paling banyak dijumpai adalah E. spectabilis. Spectabilis tumbuh di kawasan hutan semak atau tanah di sekitar rawa.
Berbeda dengan anggrek gurun, graminea dan spetabilis memiliki umbi untuk menyimpan cadangan makanan. Umbi itu terpendam di dalam tanah. Dari umbi muncul daun yang strukturnya lunak. Pada anggrek gurun umbi tidak muncul, tapi tumbuh pseudobulb yang keras di permukaan tanah. Dari pseudobulb itu muncul daun yang juga berstruktur keras dan kaku. Di tanahair eulophia tersebar di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
Cantik
Menurut Frankie, dengan kemampuan beradaptasi di lingkungan miskin hara, E. petersii dan paniculata cocok bagi hobiis anggrek pemula yang sibuk dan tinggal di kota besuhu panas seperti Jakarta. Keduanya tidak perlu perawatan intensif. “Tidak disiram seminggu pun tetap bertahan hidup,” ujar Frankie.
Toh penampilan bunganya elok. Ciri khas eulophia memiliki labelum alias lidah yang lebih lebar ketimbang sepal dan petal. Pada labelum terdapat guratan-guratan cokelat menyerupai urat. Meski bunga berukuran mungil, berdiameter kurang dari 4 – 5 cm, tapi terlihat cantik karena tumbuh bergerombol pada tangkai yang tingginya mencapai 2 m. Sayang, yang Trubus jumpai di stan Anggrek Mas sebagian bunganya sudah rontok. Anda terlalu sibuk? Anggrek gurun bisa menjadi salah satu pilihan. (Imam Wiguna/Peliput: Dahlia)
