
Buncis kenya menjadi pilihan baru pekebun. Produktivitas tanaman dua kali lebih tinggi daripada buncis biasa. Pekebun pun menuai untung berlipat.
Ulus Pirmawan, memanen 7—10 ton buncis dari lahan 1 hektare (ha) miliknya di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Jumlah produksi itu lebih tinggi daripada hasil panen buncis lain yang hanya 5—7 ton dari luasan sama. Ia menjual hasil panen dengan harga Rp15.000 per kg. Artinya, Ulus meraup omzet hingga Rp105 juta—Rp150 juta per musim tanam. Harga jual itu 2—3 kali lipat lebih mahal ketimbang harga jual buncis yang lazim ditanam para pekebun lain yang rata-rata hanya Rp5.000—Rp7.000 per kg.
Ulus memanen buncis lebih banyak dan mendapat harga jual tinggi setelah menanam buncis kenya. Menurut Ulus, varietas itu disebut buncis kenya karena berasal dari negara di bagian timur Benua Afrika itu. Ia menanam buncis kenya karena memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya jumlah produksi yang lebih tinggi dibandingkan buncis lokal.

Genjah
Ulus juga memanen buncis kenya lebih cepat, yakni pada umur 45—60 hari setelah tanam, sedangkan buncis biasa panen pada umur lebih dari 60 hari. Itu karena Ulus memanen buncis kenya berukuran baby, yakni pada 7 hari pascaberbunga. Panjang buncis pada umur itu 13—15 cm. Rasanya lebih manis, bertekstur renyah, dan gurih, sehingga ideal mendampingi steak atau sebagai lalapan. Adapun buncis lokal biasanya dipanen pada umur 14 hari setelah berbunga. Ukuran buncis lokal bisa mencapai 15—20 cm. Harga jual buncis kenya lebih mahal karena diminati pasar ekspor, sedangkan harga di pasar lokal berkisar Rp11.000—Rp12.000 per kg.
Keunggulan lain, buncis kenya tumbuh tegak, tak merambat seperti buncis lokal. Dengan begitu pekebun tak perlu memasang ajir sehingga menghemat biaya investasi. Pekebun buncis rambat di dataran tinggi biasanya memerlukan hingga 30.000 ajir bambu setinggi 2,5—3 m per hektare untuk rambatan. Seandainya harga sebatang ajir bambu Rp250, berarti Ulus menghemat biaya investasi hingga Rp7,5 juta.
Budidayanya pun relatif mudah. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembang Agri yang juga pekebun buncis kenya, Dodih, menanam buncis kenya pada guludan dengan lebar 1 m, panjang 7 m, dan tinggi 35—40 cm. “Beberapa pekebun ada yang memakai mulsa, ada juga yang tidak,” katanya. Ia menanam Phaseolus vulgaris dengan jarak tanam 45 cm x 50 cm. Ia membenamkan 2 butir benih setiap lubang tanam. Dengan jarak tanam itu Dodih memerlukan 20 kg benih untuk sehektar lahan.

Menurut Peneliti Pemuliaan dan Plasma Nutfah Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Nurmalita Waluyo, jarak tanam saat kemarau sejatinya bisa lebih rapat, yakni 30 cm x 40 cm. Jika musim hujan jarak tanam lebih longgar, yaitu 40 cm x 50 cm, agar tidak terlalu lembap. “Kondisi terlalu lembap dapat mengundang penyakit,” tuturnya. Sebagai sumber nutrisi, Dodih memberikan 400—600 kg pupuk NPK per ha. “Pupuk pertama jumlahnya 0,5 bagian, 0,25 bagian saat tanaman berumur 1 bulan, dan sisanya setelah 40 hari,” ujarnya. Buncis siap panen pada umur 45—60 hari. Nurmalita menuturkan, keunggulan lain buncis kenya lebih tahan penyakit rebah, tapi rentan penyakit karat daun dan antraknos.
Tambah luas
Dengan berbagai keunggulan itu, pantas bila jumlah pekebun buncis kenya di Lembang terus bertambah. Menurut Dodih, pada 2012 luas areal tanam buncis kenya hanya 3 ha dengan total produksi 30 ton. Kini luasnya bertambah menjadi 10 ha. Luas tanam para pekebun bervariasi, dari mulai 0,5—2 ha.

Dari total luas tanam itu Dodih dan pekebun mitra baru mampu memasok 100 kg per hari atau 700—1.000 kg buncis kenya per pekan. Dari jumlah hasil panen itu sebanyak 300—400 kg di antaranya untuk memenuhi pasar ekspor ke Singapura setiap pekan. “Untuk ekspor saya masih melalui perusahaan swasta yakni PT. Alamanda Sejati Utama dan Amazing Farm,” kata alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung, itu. Adapun sisanya untuk memasok pasar lokal, yaitu Jakarta, Bogor, dan Bandung yang permintaanya terus meningkat sejak lima bulan terakhir.

Umur: 60 hari
Tinggi tanaman: 40—50 cm
Panjang polong : 15—18 cm
Lebar polong : 1 cm
Periode berbunga: 40—45 hari
Bobot per polong: 8—10 gram
Potensi hasil: 8—12 ton per ha
Gapoktan Lembang Agri membeli hasil panen dari para pekebun mitra dengan harga lebih tinggi dari harga pokok produksi (HPP) petani. Menurut Dodih, HPP buncis kenya Rp6.000—7.000 per kg. Dodih membelinya dengan harga Rp11.000—Rp13.000 per kg untuk buncis berkualitas standar dan Rp12.000—15.000 per kg untuk buncis berkualitas ekspor. Buncis untuk ekspor ukurannya harus seragam. Panjangnya tidak boleh lebih dari 12 cm dan berpolong mulus. Menurut Dodih, hasil panen selama ini belum memenuhi seluruh permintaan. “Permintaan pasar lokal saja mencapai 1 ton per pekan,” tutur pria kelahiran 1981 itu. (Tiffani Dias Anggraeni)
