Peningkatan produksi itu gara-gara ia mengombinasikan pemupukan. Selain pupuk anorganik, ia memakai 2 macam pupuk organik cair berbahan ikan laut. Dosis pupuk organik masing-masing 140 ml dan 300 ml untuk tangki semprot bervolume 14 l. Dosis pupuk anorganik 1 kuintal; hanya separuh dosis yang biasa dipakai.
Hasilnya produksi meroket dan kualitas umbi moncer. Umbi berukuran besar dan berwarna merah mengilat. Umbi pun tahan simpan hingga 5 bulan, biasanya hanya 3 bulan. Dua kilo umbi yang dijadikan bibit juga menunjukkan hasil luar biasa. Saat ditanam di lahan 1/4 ha berdampingan dengan umbi asal pembibit lain, umbi produksi sendiri lebih subur. Pada umur 25 hari umbi itu sudah menghasilkan 7 – 10 rumpun atau calon umbi. Bibit pembanding 2 – 3 rumpun.
Hemat biaya
Wibisono juga pernah memakai pupuk organik berbahan ikan laut pada budidaya mentimun. Dengan dosis seperti pada bawang merah, ia memanen 2 hari lebih cepat. Sebanyak 80% buah diterima pasar swalayan. Itu karena sosok mentimun lurus-lurus dan ukuran besar dengan bobot 125 g per buah. ‘Sebelumnya hanya 50% buah yang lolos masuk pasar swalayan,’ kata pria yang biasa memanen mentimun pada umur 28 hari setelah tanam.
Nun di Jember, Jawa Timur, Muhammad menggunakan pupuk cair berbahan ikan laut pada jagung hibrida. Dosis 3 l per ha. Bedanya ia masih memakai Urea dan pupuk majemuk lengkap dengan dosis standar. Masing-masing 400 kg per ha dan 200 kg per ha. Tambahan biaya yang ia keluarkan untuk membeli pupuk cair berbahan ikan laut sebesar Rp200.000. ‘Memang saya menambah biaya, tetapi tidak seberapa dibanding hasil panennya,’ ujarnya.
Dengan kombinasi itu, Muhammad memanen 5 hari lebih cepat. Produksinya 2 ton lebih banyak dibanding hanya menggunakan pupuk anorganik. Dengan harga 1 ton jagung gelondongan Rp1,5-juta, ia mendapat tambahan Rp3-juta atau Rp2,8-juta setelah dikurangi biaya pupuk cair.
Banyak pekebun lain merasakan manfaat serupa. Contohnya Michael Nandra di Bukittinggi, Sumatera Barat. Di pekarangan seluas 15 m x 2 m ia menanam sawo, jeruk, dan rosella. Ia membenamkan pupuk rumput laut sebanyak 20 – 50% volume lubang tanam per tanaman, setiap 3 bulan. ‘Tanah menjadi lebih gembur dan pertumbuhan tanaman lebih cepat,’ ujar Michael. Hasilnya, baru sebulan ditanam rumpun rosela sudah berbunga. Pohon sawo berbuah sepanjang tahun.
Di Semarang, Jawa Tengah, Cairul membuktikan panen padi yang dipupuk dengan pupuk berbahan dasar rumput laut itu juga bisa meningkat. Sebanyak 700 kg per ha pupuk ditaburkan di lahan setelah sawah dibajak. Pupuk anorganik yang biasa digunakan 1 ton per ha ditinggalkan. Hasilnya, rumpun padi lebih rimbun dan malainya lebih panjang.
Belakangan limbah rumput laut juga dimanfaatkan untuk media tanam. Rudy Liong, penangkar tabulampot di Kelapagading, Jakarta Utara, menggunakannya sebagai campuran tanah hitam alias top soil untuk media tabulampot. Perbandingannya 1 bagian pupuk rumput laut dan 2 bagian tanah hitam. Hasilnya, dengan kombinasi media tanam itu, ditambah pupuk tinggi N dan P, serta racikan pupuk cair buatan sendiri tabulampotnya berbuah tanpa mengenal musim.
Kaya mineral
Prof Dr Dedik Budianto, ahli tanah dari Universitas Sriwijaya, menduga pupuk organik asal samudera lebih kaya mineral ketimbang pupuk asal daratan. ‘Laut kaya mineral antara lain kalsium, potassium, magnesium, dan sodium,’ ujar Dedik. Salah satunya karena laut merupakan ‘terminal’ terakhir dari mineral-mineral yang terbawa dari daratan. Aliran sungai dari hulu membawa mineral yang berkumpul di laut. Selain itu, kerangka atau tulang ikan jenis apa pun juga kaya kalsium. Kandungan kaya mineral membuat tanaman tumbuh lebih baik.
Dr Linawati Hardjito, ahli bioteknologi laut dari Institut Pertanian Bogor (IPB ) membuktikan peran limbah rumput laut mendongkrak kualitas tanaman. Ia mencampur 20% limbah rumput laut dan topsoil sebagai media tanam caisim dan selada. Sebagai pembanding digunakan campuran media 10% kompos. Hasilnya dengan media campuran limbah rumput laut pertumbuhan caisim dan selada lebih subur. Daun lebih lebar dan berwarna hijau.
Meski proporsi limbah rumput laut lebih banyak dibanding kompos, tetapi harganya jauh lebih murah. Limbah murni Rp150/kg sementara kompos Rp25.000/kg. Linawati menyarankan pekebun untuk mencampur limbah rumput laut dengan limbah ikan. ‘Kadar nitrogen limbah rumput laut tergolong rendah, sementara limbah ikan kaya protein,’ katanya. Protein bisa terurai menjadi asam amino yang tersusun dari nitrogen. Agar segera terurai, campuran itu mesti dikomposkan terlebih dulu. Hasilnya, nitrogen lebih mudah diserap tanaman sehingga tanaman tumbuh subur, produktivitasnya pun meningkat. (Tri Susanti/Peliput: Herdita Ardiana)
Daur Ulang Media
Jangan buang media tanam yang sudah lama dipakai. Rudy Liong di Kelapagading, Jakarta Utara, mendaur ulang bekas media tanam yang sudah mengeras dengan menambahkan pupuk limbah rumput laut. Caranya, jemur media tanam yang sudah 2 – 3 tahun dipakai itu hingga kadar air 20 – 30%. Cirinya saat disentuh media tidak lengket. Lalu tambahkan limbah rumput laut dan pupuk kandang dengan komposisi 1:1 dengan persentase 50% dari media tanam. Penambahan keduanya mendongkrak kandungan hara media dan menambah kemampuan media memegang air. Ia pun siap dipakai kembali. (Tri Susanti)
Selada yang ditanam di media limbah rumput laut tumbuh subur
Ikan dan rumput laut kaya mineral yang bagus untuk pertumbuhan tanaman
Dok. PT Agarindo Bogatani
Pupuk rumput laut juga bisa dipakai sebagai campuran media tanam
Tabulampot jambu air berbuah tanpa mengenal musim berkat kombinasi media tanam dan pupuk
Foto-foto: Tri Susanti & Evy Syariefa F
