Monday, January 26, 2026

Daun dan Kulit Batang Berenuk Berpotensi sebagai Antikanker

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Daun dan kulit batang berenuk secara ilmiah memiliki potensi sebagai obat kanker. Sebetulnya, pemanfaatan berenuk (Crescentia cujete) beragam dan tersebar di dalam dan luar negeri.

Dalam Plant Resorces of South East Asia, masyarakat di Sumatra memanfaatkan rebusan kulit kayu berenuk untuk membersihkan luka. Sementara itu, masyarakat Afrika Barat mengandalkan abu dari buah panggang berenuk sebagai pencahar ringan.

Riset terbaru menunjukkan daun berenuk bersifat antikanker. Itulah hasil penelitian Fatimah, S.Si., M. Biotech dan Rahma Diyan Martha, S.Si., M.Sc. Keduanya merupakan dosen STIKes Karya Putra Bangsa Tulungagung, Jawa Timur.

Fatimah dan Rahma menggunakan daun bagian pucuk dengan panjang cabang sekitar 30 cm. Daun dipilih sebagai bahan penelitian karena lebih efektif, praktis, dan efisien dibanding bagian tanaman lainnya seperti buah dan kulit batang.

Daun

Fatimah mengekstrak daun berenuk menggunakan metode perendaman (maserasi) dengan pelarut metanol akuades 3:1 pada 100 gram sampel daun. Hasil penarikan simplisia (maserat) kemudian disaring dan dikentalkan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak pekat.

Selanjutnya, tim peneliti menganalisis ekstrak pekat untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, saponin, tanin, dan fenolat.

Setelah pengujian analisis fitokimia, dilakukan uji toksisitas dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT) menggunakan larva udang artemia salina berumur 48 jam.

Rahma mengatakan, metode BSLT merupakan metode skrining yang berfungsi untuk toksisitas ekstrak yang digunakan. Penelitian Fatimah dan Rahma menggunakan ekstrak dengan 5 konsentrasi ekstrak, yakni 500, 400, 300, 200, dan 100 ppm.

Pada tiap konsentrasi digunakan 10 larva udang. Kematian larva udang pada tiap konsentrasi ekstrak kemudian dianalisis probit untuk menentukan nilai LC50.

Menurut Fatimah lethal concentration (LC)50 merupakan perhitungan untuk menentukan dosis ketika suatu hewan uji (larva udang) mati 50% dari jumlah awal. Ekstrak dapat dikatakan toksik dan berpotensi dikembangkan sebagai antikanker karena memiliki nilai LC50<1.000 ppm.

Adapun hasil pengujian nilai LC50 ekstrak metanol daun berenuk yakni pada dosis 642,877 ppm. Sejatinya, penelitian yang dilakukan pada April sampai September 2021 itu merupakan riset awal untuk mengetahui kandungan daun berenuk yang berpotensi sebagai antikanker.

“Riset daun berenuk dengan analisis toksisitas dan potensi antikanker ekstak metanol masih pada tahap praskrining awal dan masih butuh penelitian lanjutan,” kata Fatimah.

Lebih lanjut Fatimah mengatakan, riset lanjutan menggunakan senyawa pada penelitian pertama untuk uji toksisitas dengan uji in silico.

Hasilnya menunjukkan, daun berenuk bersifat sitotoksik pada sel kanker ovarium, jaringan limfoid, kanker paru, kanker sel plasma (myeloma), kanker kulit (melanoma), leukimia, dan kanker hati (hepatoblastoma).

Kulit batang

Selain daun, hasil penelitian Fatimah dan rekan menunjukkan kulit batang berenuk juga berpotensi antikanker. Terdapat 12 senyawa flavonoid dalam kulit batang berenuk.

Senyawa kaempferol-3-O-rhamnoside merupakan flavonoid dengan komposisi terbesar dengan nilai 4,072%. Seluruh flavonoid yang teridentifikasi memiliki potensi sebagai antikanker kecuali acetoin dan fortunellin.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img