Tujuh bulan lalu Yunika Sari tergolek di rumahsakit dengan muka, leher, dan kaki bengkak karena mengalami ginjal bocor.
Semua berawal pada Juli 2011. Yunika mengalami sakit kepala luar biasa. “Kepala rasanya berat sekali seperti membawa batu. Inginnya tiduran saja,” kata istri dari Hanugraha Limanta. Sang suami mengantar Yunika berobat ke dokter. Hasil pemeriksaan darah, kadar kolesterol Yunika mencapai 500 mg/dl; normal, 150-220 mg/dl. Dokter memberi obat penurun kolesterol.
Satu bulan mengonsumsi obat dokter, Yunika tak merasakan perubahan. Kepala masih terasa berat bahkan kondisi tubuh perempuan kelahiran Sidoarjo itu berubah. Kaki, paha, dan leher bengkak. Wajah pun terlihat sembap. Yunika kembali memeriksakan diri ke dokter di rumahsakit berbeda. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar protein urine 300 mg/dl, normalnya kurang dari 30 mg/dl. Total protein darah 2,8 g/dl, albumin 1,8 g/dl, dan kolesterol total 487 mg/dl. Pada kondisi normal masing-masing berada pada kisaran 6,4-8,3 g/dl; 3,8-5,1 g/dl; dan 150-220 mg/dl. Dokter mendiagnosis perempuan berdomisili di Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung, itu menderita ginjal bocor.
Sindrom nefrotik
Dokter Danarto, SpB SpU, dari Pusat Pelayanan Urologi Rumahsakit Khusus Bedah An-Nur, Yogyakarta, menuturkan ginjal bocor-dalam istilah medis disebut sindrom nefrotik-merupakan penyakit gangguan kekebalan tubuh atau autoimun antibodi. Penyebabnya infeksi kuman atau bakteri. Ginjal tak bisa menyaring protein albumin dalam darah sehingga bocor atau keluar melalui urine. Pemicu lain konsumsi makanan berpengawet.
Menurut Danarto albumin berhubungan dengan tekanan onkotik plasma. Tekanan onkotik berperan mencegah air keluar dari pembuluh darah. Bila kadar protein albumin turun maka tekanan onkotik ikut turun. Tekanan hidrostatik meningkat sehingga cairan intravaskuler terdorong masuk ke cairan interstisial-cairan di sekitar sel tubuh dan limfa. Terjadilah edema alias meningkatnya volume cairan di luar sel (ekstraseluler) dan di luar pembuluh darah (ekstravaskular) disertai dengan penimbunan di jaringan serosa. Akibatnya bagian tubuh seperti kaki dan tangan bengkak, muka sembap, dan perut buncit. “Selain pembengkakan, pasien biasanya merasa lemas karena tubuh kekurangan protein,” kata dokter spesialis urologi alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Tubuh pun melakukan penyesuaian dengan cara memecah cadangan lemak di seluruh tubuh sehingga kadar kolesterol tubuh naik. Pantas kadar kolesterol darah Yunika di atas normal. Menurut dr Ni Made Hustrini, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta, jika penderita ginjal bocor tidak ditangani dengan baik lebih dari tiga bulan, dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis seperti kelainan struktur ginjal.
Albumin rendah
Yunika beruntung karena langsung mendapat perawatan di rumahsakit. Selama 5 hari ia mendapat asupan 5 botol albumin. Menurut Danarto pemberian albumin melalui infus untuk mencukupi kadar albumin dalam darah. Selama dirawat kondisi Yunika memang sedikit membaik. Hasil pemeriksaan terakhir total protein dan albumin meningkat masing-masing menjadi 4,7 g/dl dan 2,6 g/dl. Sayang, pemeriksaan tes urine masih menunjukkan positif 4. Artinya, Yunika masih menderita sindrom nefrotik.
Meski diperbolehkan pulang Yunika masih merasa lemah sehingga untuk beraktivitas berat seperti mencuci dan mengepel lantai ia tidak sanggup. Demi kesembuhan sang istri, Hanugraha pun rajin mencari informasi di dunia maya.
Dari hasil penelusuran itu Hanugraha memperoleh informasi tentang Ning Harmanto, herbalis di Rawabadak, Jakarta Utara. “Ketika pertama kali menelepon Yunika menangis,” kata Ning. Yunika memang merasa tertekan dengan penyakitnya. “Saya selalu memikirkan anak-anak dan suami. Bagaimana kondisi mereka jika saya tak ada, siapa yang akan mengurus mereka?” kata ibu 3 anak itu.

Berdasarkan komunikasi via telepon dan surat elektronik-termasuk semua hasil tes laboratorium-Ning meresepkan daun sukun untuk mengatasi keluhan itu. “Secara tradisional daun sukun dimanfaatkan untuk mengobati penyakit ginjal,” kata perempuan kelahiran Yogyakarta 8 Mei 1957 itu. Ning mengombinasikan daun Artocarpus altilis dengan sekitar 15 herbal lain. “Tujuannya agar diperoleh hasil maksimal dan menetralisir efek samping,” kata pemilik nama lengkap Mikhael Wuryaning Setyawati itu. Konsumsi daun sukun secara tunggal bisa mengganggu fungsi lambung. Untuk menetralisir efek negatif itu, Ning menambahkan daun salam dan pegagan.
Porsi daun sukun dominan, sekitar 50%. Pemilik klinik Mahkota Dewa itu meramu ke-15 herbal itu dalam bentuk teh celup. Yunika menyeduh satu kantong dalam satu gelas air dan mengonsumsinya 2 kali sehari, pagi dan malam. Yunika juga mengonsumsi 3 kapsul mahkotadewa per hari serta tapakliman dan temulawak masing-masing 1 kapsul per hari.
Tiga minggu pascakonsumsi Yunika melakukan pengecekan urine. Kadar protein dalam urine berkurang jadi positif 1, sebelumnya positif 4. Selang seminggu, 26 September 2011, ia memeriksakan diri kembali. Hasilnya sangat menggembirakan. “Kadar protein dalam darah negatif,” kata perempuan berusia 35 tahun itu. Artinya, fungsi ginjal kembali normal. Hingga Maret 2012, enam bulan pascapemeriksaan terakhir, Yunika tidak pernah mengalami gejala ginjal bocor lagi.
Putus sekolah
Khasiat daun amo-sebutan sukun di Maluku Utara-mengatasi ginjal bocor juga dialami Bayu Agus Supriyanto. Tiga tahun silam, remaja berusia 15 tahun itu bak seorang bayi. Hari-harinya hanya dihabiskan di tempat tidur. Ia terpaksa tak melanjutkan pendidikan formalnya di SMPN 1 Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Keluar-masuk rumahsakit sudah menjadi agenda rutin Bayu. Itu semua akibat kadar hemoglobin rendah, 4 g/dl. Normalnya, 11-13 g/dl. Hasil pemeriksaan urine juga menunjukkan protein positif 4 dan leukosit 50 g/dl. Normalnya, masing-masing negatif. Menurut Danarto bila kadar leukosit dalam urine tinggi, artinya ginjal bocor disertai infeksi. Pengobatan harus disertai pemberian antibiotik.
Sejak Januari 2012 Bayu rutin mengonsumsi seduhan satu kantong teh daun sukun 3 kali sehari. Hasil pemeriksaan terakhir, 19 Maret 2012, kadar hemoglobin meningkat menjadi 9,5 g/dl. Kandungan protein dan leukosit dalam urine masing-masing positif 3 dan 25 g/dl. “Badan mulai terasa segar,” kata Bayu yang saat ini sudah bisa bermain dengan teman sebayanya.
Perkara daun kerabat nangka itu mengatasi ginjal bocor memang belum terbukti secara ilmiah. Riset justru menyebutkan daun sukun mampu mengatasi batu ginjal. Daun sukun mengandung saponin, polifenol, asam hidrosianat, kalium, asetilcolin, tanin, riboflavin, dan phenol. Kalium membuat batu ginjal berupa Ca oksalat tercerai berai. Endapan batu ginjal akhirnya larut dan keluar bersama urine.
Meski belum terbukti secara ilmiah, toh indikator perbaikan kondisi penderita ginjal bocor seperti bengkak hilang, dan kandungan protein dalam urine berkurang bahkan negatif terjadi pada Bayu dan Yunika.
Pelindung hati
Secara tradisional, daun sukun banyak dimanfaatkan herbalis untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan hati, seperti hepatitis. Niken Ariyani, penderita hepatitis B di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dengan kadar Serum Glutamic Piruvic Transaminase (SGPT) di atas 35 U/L. Ia mengambil selembar daun sukun tua, kuning, dan jatuh dari pohon lalu memotong kecil dan merebusnya dengan 8 gelas air hingga tersisa 2 gelas. Ia mengonsumsi 3 kali sehari sesudah makan.
Menurut dr Arijanto Jonosewojo, SpPD, ketua program studi Pengobatan Tradisional, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, bila tidak mendapat penanganan tepat hepatitis B bisa menjadi hepatitis kronis. ”Hepatitis kronis aktif lama-kelamaan menjadi sirosis hati dan selanjutnya menjadi kanker hati,” kata kepala Poli Obat Tradisional RSUD Dr Soetomo, Surabaya, itu.
Selang dua bulan konsumsi, keluhan perut kaku yang sering Niken alami sirna. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar SGPT Niken kembali normal, di bawah 35 U/L. Ia pun dapat menikmati kelezatan kolang-kaling dan daging yang sebelumnya pantang dikonsumsi.
Khasiat daun sukun mengatasi hepatitis itu sesuai dengan riset Mardhiyah Binti Rusdi, dari Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat. Mardhiyah menggunakan 15 tikus galur wistar berbobot 150-180 g yang dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok pertama (kontrol negatif) dan kelompok kedua (kontrol positif) masing-masing hanya diberi air dan pelet. Sementara kelompok ketiga (perlakuan) diberi air, pelet, dan 4,75% infusa daun sukun. Pada hari ke-6 kelompok kedua dan ketiga diinjeksi CCl4 8 ml/kg bobot badan (BB). Hasilnya, kadar SGPT kelompok III yang diberi infusa daun sukun lebih rendah (85,40 IU/L) daripada kelompok II (329,80 IU/L).
Tangkap radikal bebas
Dr Abdul Munim, ketua program Pascasarjana Herbal Fakultas Farmasi UI, menuturkan daun sukun mengandung senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Flavonoid berfungsi menangkap senyawa radikal bebas di hati sehingga tidak terjadi stres oksidatif. Dengan begitu sel hati terhindar dari kerusakan. Radikal bebas dapat bersumber dari logam berat, pestisida, dan bahan pengawet.
Penderita penyakit lain seperti jantung, diabetes, osteoporosis, hipertensi, dan osteoatritis juga bersandar pada daun sukun. Herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, Wahyu Suprapto (Batu), dan Lina Mardiana (Yogyakarta) meresepkan daun sukun untuk mengatasi beragam penyakit degeneratif.
Amankah mengonsumsi rebusan daun sukun? Hasil penelitian Fita Dwi Amira dari Fakultas Farmasi, UI menunjukkan ekstrak daun sukun yang terdiri dari flavonoid 30% bersifat tidak toksik. Pemberian ekstrak daun sukun dalam dosis tinggi 16,67 gram ekstrak/kg bobot badan tidak menimbulkan kematian terhadap hewan uji.
Khasiat daun sukun dalam mengatasi berbagai penyakit kian terkuak. Daun yang semula banyak terabaikan kini mulai bernilai ekonomis. Ning Harmanto, misalnya, bekerjasama dengan masyarakat di Cireundeu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, mengumpulkan daun sukun. Kemudian mengolah menjadi teh. “Kami mendapat permintaan 50.000 kotak daun sukun dari Malaysia untuk dipasarkan ke China,” kata Ning. Satu kotak berisi 20 kantong daun sukun.
Untuk memenuhi kebutuhan itu Ning membutuhkan 2 ton daun sukun kering yang dihasilkan dari 20 ton daun segar. Alumnus sebuah Akademi Bahasa Asing di Yogyakarta itu sudah menandatangi kontrak pemesanan dengan pengiriman pertama pada April 2012.
Permintaan itu bermula pada Januari 2012 saat ia menerima tamu dari Malaysia. Di tempat Ning, tamu yang berprofesi sebagai bagian pemasaran sebuah perusahaan perniagaan herbal itu mendapat suguhan teh daun sukun. Keesokan hari, Ning mendapat telepon dari tamu asal Malaysia itu. Ia mengidap asam urat hingga tak bisa membuka telapak tangan kirinya lebar-lebar. Konsumsi teh daun sukun membuat tangannya tidak kaku lagi dan bisa diregangkan. Di tanahair Yunika dan banyak pasien lain juga merasakan faedahnya. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andari Titisari, Bondan Setyawan, Desi Sayyidati, Riefza Vebriansyah, Susirani Kusumaputri, dan Tri Istianingsih)
Keterangan foto
- Dahulu masyarakat hanya memanfaatkan buah, tetapi kini daunnya pun berfaedah
- Selain berkhasiat sebgai obat, sukun juga indikator keberadaan mata air
- Kandungan flavonoid daun sukun muda: 87,03 mg/g
- Daun sukun tua: 100,68 mg/g
- Daun sukun sudah gugur: 42,89 mg/g
- dr Arijanto Jonosewojo SpPD, hepatitis B bisa menjadi kanker hati bila terlambat ditangani
- Selain daun, buah sukun juga berkhasiat mengobati penyakit tekanan darah tinggi
- Konsumsi teh daun sukun dapat meningkatkan daya tahan tubuh
