Thursday, August 11, 2022

Akhir Kisah Radang Sendi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kebahagiaan Ida Farida di hari tua bisa menggendong cucu. Sayang, sejak 2009 ia sulit melakukannya karena osteoartritis.

 

Itulah sebabnya setiap kali mengunjungi rumah Ida Farida, Irfan Anshari Nabil-salah satu cucu-hanya bisa duduk di samping sang nenek. Ida Farida tak mampu menggendong cucu kesayangannya itu. “Saya hanya bisa berujar untuk memintanya duduk di dekat saya,” ujar Ida. Satu setengah tahun sudah, perempuan 61 tahun itu  mengeluhkan nyeri lutut. Ketika berjalan ia menahan nyeri. Bahkan, bangun setelah duduk pun amat sulit.

Nyeri itu ia rasakan sejak awal 2009 ketika tak mampu menoleh. “Rasanya kaku dan sakit bila menengok,” ujarnya. Rasa nyeri perlahan menjalar ke pinggang sampai akhirnya ke kedua kaki. Hasil pemeriksaan di Poliklinik Saraf dan Penyakit Dalam sebuah rumah sakit di Jakarta Timur, membuktikan bahwa Ida terkena osteoartritis. Namun, hasil rontgen Ida tidak menampakkan adanya penyempitan ataupun guratan-guratan halus yang lazim ditemui pada pasien osteoartritis.

Lanjut usia

Menurut Dr dr Lukman Shebubakar SpOT, dokter spesialis ortopedi di Rumahsakit Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk mengetahui jaringan lunak di bagian leher perlu pemeriksaan magnetic resonanse imaging (MRI). “Leher merupakan pusat saraf pengatur anggota gerak. Bila terjadi penyempitan saraf di tulang leher, bisa berakibat pada terganggunya anggota gerak di seluruh tubuh,” tuturnya.

Menurut Lukman, osteoartritis merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada manusia lanjut usia. “Deteksi dini osteoartritis bisa berupa rasa sakit pada sendi terutama saat berjalan atau ditekan. Indikasi lain sendi juga terasa kaku yang disertai bunyi di area sendi. Bila itu terjadi maka harus segera diperiksa. Apalagi jika pasien sudah lanjut usia,” tutur Lukman.

Keluhan biasanya muncul saat usia menginjak 40 tahun dan didominasi pada pasien berusia di atas 60 tahun. “Perkembangannya terjadi secara perlahan. Sebagian besar penderitanya kaum perempuan,” tutur dokter bedah ortopedi alumnus Universitas Indonesia itu. Osteoartritis juga disebut-sebut sebagai penyakit nomor dua penyebab disabilitas setelah penyakit kardiovaskular.

Jose´ M. Quintana, MD, PhD dan rekan dari Hospital de Galdaka, Spanyol, melakukan survei pada warga yang tinggal di wilayah urban Provinsi Bizkaia, Spanyol, pada 2002-2003. Sekitar 23,6% penduduk di daerah itu berusia 60 tahun keatas. Hasil survei membuktikan 7,4% dari total populasi 7.577 penduduk mengidap osteoartritis pinggang.

Sementara kasus osteoartritis pada lutut 12,2%. Untuk kedua kasus itu tercatat pasien wanita lebih dominan dan kian meningkat seiring pertambahan umur. Penyebabnya beragam, pada manusia lanjut usia kadar air dalam rawan sendi menyusut sehingga jaringan tak lagi kenyal. Akibatnya, jaringan rentan mengalami kerusakan dan penurunan kualitas, misalnya pada sendi lutut.

Selain faktor usia, inflamasi alias peradangan akibat kegemukan, aktivitas sendi berlebihan, dan bentuk lutut abnormal-berbentuk huruf O atau X-juga memicu osteoartritis. Pada kasus Ida, aktivitas sendi yang berlebihan menjadi salah satu pemicu. Harap mafhum, rutinitas pekerjaan di salah satu rumahsakit di Jakarta Timur mengharuskan ibu 5 anak itu naik-turun tangga hingga lantai ke-3 setiap 3 kali sepekan.

Daun sukun

Saran dokter untuk operasi dan injeksi cairan sendi Ida tolak. Akhirnya Ia memilih fisioterapi secara rutin untuk mengatasi osteoartritis. Fisioterapi tiap Senin-Sabtu hingga 40 kali pertemuan. Namun, “Saya bosan jika tiap hari bolak balik ke rumahsakit. Lagi pula, saat hari Ahad rasa nyeri kerap muncul lagi,” ujar Ida. Ia pun meminta diberikan obat pereda sakit. Namun, obat itu justru mengakibatkan komplikasi pada mag sekalipun sudah diberi obat pereda untuk mengatasinya. Menurut Lukman, untuk pengobatan osteoartritis penggunaan obat-obatan sudah dibatasi karena berakibat pada komplikasi ke organ lain.

Pada awal Januari 2011, nenek tujuh cucu itu tengah duduk santai di rumah sang anak. Di sana ada pohon sukun setinggi 5 m dan tengah berbuah. Ia pun berujar, “Tolong Ibu dipetikkan satu daun sukun yang sudah menguning tapi belum jatuh ke tanah,” ujar aktivis lembaga swadaya masyarakat itu. Lantas, Ida merebus selembar daun sukun dalam 1 liter air hingga mendidih dan tersisa 2,5 gelas. Ida rutin meminum rebusan daun sukun selama 5 hari berturut-turut. “Satu daun bisa direbus hingga 5 kali,” ujarnya.

Setelah meminum rebusan daun Artocarpus altilis itu, Ida merasa tubuhnya jadi lebih segar. Rasa nyeri saat berjalan pun perlahan-lahan menghilang. Bangkit usai duduk jauh lebih nyaman.

Juli 2011, Ida harus ke luar kota selama beberapa pekan. Ia pun tidak bisa membawa rebusan sukun, “Repot dan susah merebusnya,” ujar Ida. Tetapi, kondisinya tetap sehat, bahkan ia mampu ikut lomba tarik tambang. “Sesuatu yang mustahil mengingat sebelumnya untuk berjalan saja saya sulit,” ujar ibu lima anak itu.

Selama meminum rebusan daun kerabat nangka itu Ida kerap kali merasa haus. Untuk mengatasinya ia banyak minum sehingga secara otomatis Ida pun sering bolak-balik ke peturasan. “Mungkin penyakit dalam tubuh turut terbuang melalui urine. Yang perlu diperhatikan walau saya cocok belum tentu orang cocok menggunakan daun sukun untuk penyakit osteoartritis,” ujarnya.

Bai-Luh dan rekan dari National Taitung University, Taiwan mengungkap, daun sukun mengandung senyawa artocarponen. Senyawa itu mencegah dan mengobati inflamasi. Itu sejalan dengan kebiasaan masyarakat di Karibia, Amerika Selatan memanfaatkan daun sukun untuk mengurangi sakit. Berkat rebusan daun sukun pula, Irfan Anshari Nabil riang karena dapat bermain bersama neneknya. (Tri Istianingsih)

 

Hambat Radikal Beracun

Hasil riset Bai-Luh Wei dan rekan dari Institute of Life Science, National Taitung University, Taiwan, menunjukkan senyawa artocarpanone hasil ekstraksi daun sukun mampu menghambat produksi nitrogen monoksida (NO) di makrofag. NO dan superoksida (O2) merupakan radikal beracun yang diproduksi oleh makrofag untuk membunuh mikroorganisme saat terjadi inflamasi.

Produksi NO berlebih mengakibatkan rusaknya jaringan normal saat inflamasi. Pada penderita osteoartritis terjadi peningkatan kadar interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α)-penginduksi produksi NO dan metaloproteinase. Di dalam kartilago, bila IL-1, TNF-α, serta interleukin-6 berikatan, akan mengakibatkan sendi rusak.



Hambat Radikal Beracun

Hasil riset Bai-Luh Wei dan rekan dari Institute of Life Science, National Taitung University, Taiwan, menunjukkan senyawa artocarpanone hasil ekstraksi daun sukun mampu menghambat produksi nitrogen monoksida (NO) di makrofag. NO dan superoksida (O2) merupakan radikal beracun yang diproduksi oleh makrofag untuk membunuh mikroorganisme saat terjadi inflamasi.

Produksi NO berlebih mengakibatkan rusaknya jaringan normal saat inflamasi. Pada penderita osteoartritis terjadi peningkatan kadar interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α)-penginduksi produksi NO dan metaloproteinase. Di dalam kartilago, bila IL-1, TNF-α, serta interleukin-6 berikatan, akan mengakibatkan sendi rusak.

 

  1. Konsumsi rutin rebusan daun sukun mampu mengatasi nyeri pada penderita osteoartritis
  2. Ida Farida kini mampu menjalani aktivitas kembali berkat rebusan daun sukun
  3. Dr dr Lukman Shebubakar SPOT, manula dan wanita memiliki risiko terserang osteoartritis lebih besar

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img