Wednesday, May 13, 2026

Demi Yaki Lestari

Rekomendasi
- Advertisement -
Yaki monyet hitam sulawesi satwa endemik di Pulau Sulawesi yang terancam punah.
Yaki monyet hitam sulawesi satwa endemik di Pulau Sulawesi yang terancam punah.

Ketika orang-orang masih terbuai mimpi, Dwi Yandhi Febriyanti dan rekan sudah bangun dan bersiap memulai hari. Yandhi lazim bangun tidur pukul 04.15. Bahkan beberapa kawan sudah terjaga sejak pukul 03.30. Ia bangun lebih lambat dibanding kawan lain karena sudah mempersiapkan keperluannya sebelum tidur. Sementara rekan lain lebih awal bangun karena mesti menikmati kopi dan menyiapkan beberapa barang.

Cagar Alam Tangkoko salah satu habitat alami yaki di Sulawesi Utara.
Cagar Alam Tangkoko salah satu habitat alami yaki di Sulawesi Utara.

Pada pukul 05.00—05.15 Yandhi dan tiga rekan masuk ke hutan. Aktivitas itu Yandhi lakukan lima kali dalam sepekan pada 2009—2010. Lampu sorot yang terpasang di dahi memudahkan mereka menapaki lantai hutan. Harap mafhum kegelapan malam masih menyelimuti rimba. Setelah berjalan 500—3.000 m rombongan berhenti di dekat pohon rao Dracontomelon dao atau ara Ficus sp.

MNP mulai mengamati yaki sejak April 2006.
MNP mulai mengamati yaki sejak April 2006.

Jarak mereka dengan pohon setinggi 25 m itu sekitar 10—20 m. Perjalanan yang semula sunyi berubah sedikit gaduh. Dari atas pohon itu terdengar suara berisik. Selang beberapa menit sesosok tubuh setinggi 44—57 cm menuruni pohon besar itu. Lama-kelamaan puluhan sosok bertubuh kecil itu semakin banyak dan tersebar di bawah kanopi pohon. Hampir seluruh tubuh kawanan satwa itu tertutup rambut berwarna hitam.

Uniknya rambut di kepala mereka berjambul. Bantalan bokong fauna itu berwarna merah muda. Hewan yang dilihat Yandhi dan rekan itu adalah monyet hitam sulawesi Macaca nigra. “Jambul itu tidak memiliki fungsi khusus. Hanya penanda monyet hitam sulawesi dari spesies monyet lain,” kata perempuan kelahiran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu.

Tengkorak yaki dewasa (kiri) dan muda.
Tengkorak yaki dewasa (kiri) dan muda.

Bantalan bokong pada betina bisa membesar dan berkelir merah. Perubahan itu tanda sang betina sedang berahi atau menstruasi. Pada yaki—sebutan lokal monyet hitam sulawesi—jantan bantalan bokong tidak membesar. Sejatinya bantalan bokong itu adalah kulit yang menebal dan disebut ischial callosities. Yaki berekor sangat pendek hampir tidak tampak sehingga sering dianggap kera.

Padahal, yaki termasuk monyet karena berekor. Menurut penelitian rata-rata panjang ekor yaki 0,2 mm. Bandingkan dengan buntut monyet ekor panjang Macaca fascicularis yang mencapai 50—60 cm. Yaki menjadikan rao atau ara sebagai pohon tidur. Bobot tubuh jantan berkisar 10 kg, sedangkan betina 6 kg. Yaki jantan juga memiliki taring panjang. Monyet kerabat dige Macaca hecki itu termasuk frugivora alis pemakan buah-buahan.

Dwi Yandhi Febriyanti (paling kiri), Laura Martinez Inigo, Maura Tyrell, dan Dr Lisa Michelle Danish PhD (paling kanan) adalah peneliti di MNP.
Dwi Yandhi Febriyanti (paling kiri), Laura Martinez Inigo, Maura Tyrell, dan Dr Lisa Michelle Danish PhD (paling kanan) adalah peneliti di MNP.

Yandhi mengatakan sekitar 60% pakan yaki berupa buah-buahan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika aktivitas yaki selalu berkaitan dengan tumbuhan dalam hutan (baca “Yaki Penyebar Biji” halaman 94—95). Hutan tempat Yandhi dan rekan melihat yaki berada di Cagar Alam (CA) Tangkoko, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Ia dan tim tidak bermaksud memburu primata itu.

Malah sebaliknya, Yandhi dan rekan mengamati perilaku yaki demi lestarinya spesies itu. Ia dan tim tergabung dalam Macaca Nigra Project (MNP) yang terbentuk atas kerja sama antara Liverpool John Moores University (LJMU), Inggris; Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat; dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Sulawesi Utara. MNP bertujuan mempelajari ekologi, biologi reproduksi, dan sistem sosial yaki di habitat aslinya yaitu CA Tangkoko.

“Harapannya kami dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi dan mengawal upaya-upaya pelestarian Yaki dan habitatnya,” kata Yandhi yang kini menjadi Manajer Riset MNP sejak 2014. Macaque des célèbes—sebutan monyet hitam sulawesi dalam Bahasa Perancis—hidup berkelompok. Yandhi pernah mengamati 6—7 kelompok yaki di tempat itu. Kemungkinan terdapat kurang lebih 100 kelompok yaki yang tersebar di area seluas 3.196 hektare itu.

Irawan Halir pernah bergabung dengan MNP pada 2009—2014. Kini menjadi pemandu di CA Tangkoko.
Irawan Halir pernah bergabung dengan MNP pada 2009—2014. Kini menjadi pemandu di CA Tangkoko.

MNP mengamati 3 kelompok yaki yang diberi nama rambo 1, rambo 2, dan pantai batu. Rambo 1 dan 2 telah terhabituasi sehingga tidak merasa terganggu dengan kehadiran manusia. Yaki di Pantai Batu masih relatif liar sehingga bakal kabur jika ada manusia. Wilayah rambo 1 berada di hutan primer dan sekunder, sedangkan rambo 2 terletak di hutan sekunder. Sementara mayoritas yaki di wilayah Pantai Batu menghuni hutan primer.

Menurut pemandu di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara, Irawan Halir, rambo 1 dan 2 semula satu kelompok yakni rambo. “Kelompok rambo terpecah menjadi 2 grup pada 1994,” kata Irawan yang pernah bergabung dengan MNP pada 2009—2014. Jumlah rambo saat itu lebih dari 100 ekor. Iwan—sapaan akrab Irawan Halir—berpendapat kelompok yaki bisa terpecah jika jumlah satu kelompok lebih dari 100 ekor.

Namun, jumlah tidak jadi patokan baku. Iwan mencontohkan kelompok yaki di Pantai Batu terpecah meski jumlahnya belum 100 ekor. Kini keadaan berbalik. Jumlah anggota dan luasan daya jelajah rambo 1 lebih banyak ketimbang rambo 2. Rambo 1 terdiri atas lebih dari 100 individu, sedangkan rambo 2 berisi sekitar 83 yaki. Sebanyak 30-an yaki tergabung dalam kelompok Pantai Batu.

559_91Jumlah anggota di kelompok rambo 1 dan 2 berubah sejak 2006. Saat itu sekitar 85 yaki membentuk rambo 2 dengan daya jelajah 4 km x 1 km. Sementara rambo 1 beranggotakan 80 individu dengan wilayah kekuasaan 2 km x 1 km. Superiornya rambo 2 saat itu karena mereka memiliki jantan lebih banyak, yakni 12—14 ekor. Kemungkinan jumlah pejantan di rambo 1 lebih sedikit daripada rambo 2.

Sayang tidak diketahui jumlah pastinya. “Makin banyak jantan, semakin banyak daerah ekspansinya,” kata Yandhi. Hasil penelitian Saroyo Sumarto dari Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, menunjukkan faktor imigrasi berperan menentukan rasio jantan dan betina dalam satu kelompok. Faktor lain yang mempengaruhi perbandingan jantan dan betina yaitu filopatri betina dan emigrasi.

Dalam Berita Biologi Saroyo menjelaskan filopatri betina berarti yaki betina tetap berada di dalam kelompok tempat kelahiran. Berbeda dengan yaki jantan dewasa muda yang meninggalkan kelompok asal dan bergabung dengan kelompok lain. Yaki jantan dewasa muda akan menantang pejantan dominan dari grup lain untuk memperebutkan status ketua kelompok. Jika menang, jantan dewasa muda akan menjadi penguasa grup.

Kerusakan hutan akibat kebakaran pada 2015 mengganggu kehidupan satwa liar seperti yaki.
Kerusakan hutan akibat kebakaran pada 2015 mengganggu kehidupan satwa liar seperti yaki.

Ada 2 pilihan saat si jantan dewasa muda kalah yaitu rela menjadi pejantan dengan derajat lebih rendah atau bertarung lagi pada kesempatan lain. Tubuh besar tidak menjamin yaki dewasa menjadi pejantan dominan. “Yaki yang lebih bernyali dan berani juga menentukan,” kata Yandhi. Ia mencontohkan pergantian pejantan dominan pada rambo 2. Sebelumnya Aslan—nama penguasa di rambo 2—memimpin kelompok itu.

Pada akhir Maret 2016 Echo bertarung dengan Aslan dan berhasil menang. Sejak saat itu Echo yang menjadi alfa male. Padahal postur tubuh Echo lebih kecil ketimbang Aslan. Yandhi menuturkan setiap kelompok yaki pasti memiliki alfa male—sebutan pejantan dominan—dan alfa female untuk menyebut betina dominan. Lazimnya pejantan dominan mendapat akses lebih banyak ke betina dominan.

Itu sesuai dengan pengamatan ahli primata dari German Primate Center, Jerman, Dr Lisa Michelle Danish PhD, selama setahun di CA Tangkoko. Namun, “Kadang pejantan dominan tidak mendapatkan apa yang ia inginkan,” kata Lisa. Pejantan dominan pasti selalu berpasangan dengan betina dominan yang sedang berahi. Sementara jantan lainnya tidak mendapat akses ke betina dominan dan hanya mengikuti kedua pasangan itu. Pada waktu tertentu jantan yang derajatnya lebih rendah kadang bisa mengawini si alfa female.

Lisa menduga kesempatan itu datang di saat pejantan dominan lelah karena terus menjaga betina agar terhindar dari jantan lainnya. “Akivitas itu sangat menguras tenaga sehingga ia kelelahan,” kata Lisa yang berasal Amerika Serikat. Sistem sosial yaki memang mengenal hierarki. Ada jantan dan betina paling dominan yang menduduki posisi teratas, kelas menengah, dan kalangan bawah.

Rahul alfa male atau pejantan dominan dari kelompok rambo 2 bersosok kekar dan berambut rapi.
Rahul alfa male atau pejantan dominan dari kelompok rambo 2 bersosok kekar dan berambut rapi.

Yandhi mengatakan hierarki di kawanan jantan lebih tampak dibanding kaum betina. Menurut ahli primata dari Republik Ceko, Stanislav Lhota PhD, sistem sosial pada yaki berbeda dengan jenis lain seperti monyet ekor panjang Macaca fascicularis. Hubungan antara individu dalam kelompok yaki lebih toleran dibanding monyet ekor panjang. Misal sekelompok primata itu menemukan pohon berbuah, semua yaki dari kasta tertinggi sampai terendah bisa memanjat pohon itu bersama-sama.

Pada kelompok monyet ekor panjang hanya pejantan dominan yang boleh naik ke atas pohon. Lutung Trachypithecus auratus dan bekantan Nasalis larvatus juga toleran dalam kelompok, tapi tidak agresif dengan kelompok lain sejenis. Mengapa hubungan antarindividu dalam kelompok yaki lebih toleran? “Kemungkinan karena jantan harus mempertahankan teritorialnya sehingga mereka harus berteman,” kata Stanislav yang telah berkecimpung di dunia primata selama 20 tahun.

Perbedaan yaki dengan primata sejenis yakni sangat terestrial. Artinya kebanyakan aktivitas primata yang kali pertama diidentifikasi pada 1822 itu berada di atas tanah. Yaki menggunakan keempat anggota geraknya (quadropedal) untuk berjalan. Bandingkan dengan monyet ekor panjang yang menghabiskan waktunya di atas pohon. Stanislav menduga hampir 90% aktivitas yaki berada di atas tanah.

Iwan menguatkan prediksi Stanislav dengan mengatakan, “Jejak kaki yaki dapat ditemui di lantai hutan.” Monyet kerabat dare Macaca maura itu juga mengenal teritorial. Yaki akan berkelahi jika salah satu kelompok memasuki wilayah grup lain. Mahasiswi yang menempuh jenjang Doctor of Philosophy (PhD) di University of Lincoln, Inggris, Laura Martinez Inigo, meriset perkelahian antargrup yaki. Selama delapan bulan penelitian, Laura mendapati 200 perkelahian terjadi antara rambo 1 dan 2.

Perkelahian terbesar antara rambo 1 dan 2 yang menewaskan 3 monyet remaja dari kelompok 2.
Perkelahian terbesar antara rambo 1 dan 2 yang menewaskan 3 monyet remaja dari kelompok 2.

Artinya setiap pekan terdapat 6 kali perkelahian antarkelompok. Rambo 2 selalu memenangkan pertarungan. “Alasannya karena kelompok itu memiliki lebih banyak pejantan daripada grup pesaingnya,” kata perempuan alumnus magister Konservasi Dan Manajemen Biodiversitas di University of Barcelona, Spanyol itu. Hanya pejantan yang terlibat dalam “perang” itu.

Lazimnya yaki betina tidak terlibat dalam perkelahian. Laura menuturkan sebetulnya yaki betina bukan tidak mau bertarung. Yaki jantan lah yang melarang betina terjun ke medan laga. “Dugaan saya larangan itu muncul karena yaki jantan khawatir si betina dikawini jantan lain,” kata Laura. Pertempuran dahsyat antara rambo 1 dan 2 meletus pada Maret 2016. Saat itu sekitar 180 yaki saling serang di pantai dekat pos MNP.

Perseteruan itu menewaskan 3 yaki remaja dari kelompok rambo 2. Ketiga monyet itu diduga mati karena terseret ombak hingga 100 m dari bibir pantai. Kini yaki terancam punah di alam. Hasil penelitian Juan Francisco Gallardo Palacios dari University of Goettingen, Jerman dan rekan menunjukkan kepadatan populasi yaki berkurang 35% dari 68,7 individu per km² (1994) menjadi 44,9 individu per km² (2010).

Aktivitas manusia berupa penebangan dan perburuan liar penyebab menurunnya populasi crested black macaque. Iwan mengatakan sebenarnya penduduk memburu babi, tikus, dan kalong. Namun, “Mereka juga menangkap satwa lain seperti monyet dan burung jika ada,” kata bungsu dari enam bersaudara itu. Buktinya pada September 2014 seorang kawan mengirimi Iwan foto monyet endemik sulawesi itu. Sang kawan memotret monyet mati itu di Pasar Tomohon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Setiap Sabtu kemungkinan ditemui monyet yang dijual di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara.
Setiap Sabtu kemungkinan ditemui monyet yang dijual di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara.

Pasar Tomohon memang sohor menyediakan aneka daging “unik” seperti ular, kalong, dan anjing. “Dari rambut dan jambul saya yakin itu yaki,” kata pria kelahiran Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara, itu. Lebih lanjut Iwan menuturkan setiap Sabtu mesti ada daging monyet di Pasar Tomohon. Mengapa pada Sabtu? Lazimnya pada hari itu para pemburu pulang dari hutan membawa hasil buruan.

Iwan membuktikan sendiri hal itu. Kebetulan pada 20 Februari 2016 Iwan berkunjung ke pasar tradisional itu. Di tempat itu ia menyaksikan monyet mati yang tidak berambut alias gundul. “Saya tidak bisa memastikan jenis monyet itu karena sudah dibakar,” kata pria berumur 29 tahun itu. Sejatinya yaki adalah satwa yang dilindungi. Pemerintah melindungi fauna anggota famili Cercopithecidae itu melalui SK Menteri Pertanian 29 Januari 1970 No.421/Kpts/um/8/1970, SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No.301/Kpts-II/ 1991, dan undang-undang No.5 tahun 1990.

Pada 2008 organisasi lingkungan terbesar yang berkantor pusat di Swiss, International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukkan monyet kerabat hada Macaca ochreata itu ke dalam daftar merah dengan kategori critically endangered alias kritis. Kategori itu meningkat dibandingkan status sebelumnya. Pada 2000 IUCN memberikan status endangered atau genting. Perjanjian internasional antarnegara, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), mengkategorikan yaki ke dalam apendiks II.

Buah bugis hutan salah satu santapan yaki.
Buah bugis hutan salah satu santapan yaki.

Satwa yang diidentifikasi ahli zoologi asal Perancis, Anselme Gaëtan Desmarest, itu terancam punah jika perdagangan terus berlanjut. Oleh karena itu perburuan liar dan perusakan habitat harus dihentikan segara. Stanislav menyarankan agar pihak berwenang juga membuat koridor hutan antara CA Tangkoko dan tempat lain yang masih ada yaki seperti hutan di Gunung Klabat. Saat ini perkebunan kelapa memisahkan kedua tempat yang berjarak sekitar 32 km itu.

Harapannya kelompok yaki di CA Tangkoko dapat bermigrasi ke kelompok yaki lain di Gunung Klabat. Dengan begitu celebes makak—sebutan monyet hitam sulawesi dalam Bahasa Spanyol—tidak terisolasi di satu wilayah. “Selain populasi tidak berkembang, mutu genetik yaki menurun karena inbreeding jika habitatnya terpusat di satu wilayah,” kata peneliti primata di Faculty of Agrobiology, Food and Natural Resources, Czech University of Life Sciences Prague, Ceko, itu.

Habitat yang luas memungkinkan populasi monyet yang dapat berumur 20—25 tahun di hutan itu terus berkembang sehingga tetap lestari selama ratusan tahun. Stanislav menuturkan,” Tindakan itu mendesak dilakukan. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada yaki di masa depan. Sebab bencana alam, kebakaran hutan, atau penyakit, bisa mengurangi populasi yaki.” (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Pameran Tanaman Hias Internasional Terbesar FLOII Expo 2026 Resmi Diluncurkan

Kabar gembira bagi Anda para pencinta flora tanah air. Pameran tanaman berskala internasional, Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026,...

More Articles Like This