Monday, January 26, 2026

Stevia, Pemanis Alami Rendah Kalori dengan Potensi Ekonomi Tinggi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat mendorong meningkatnya minat terhadap pemanis alami. Salah satu yang kini menarik perhatian adalah stevia, tanaman yang dikenal memiliki rasa manis alami tanpa kalori tinggi.

Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) telah lama digunakan sebagai pemanis alami di berbagai negara. Di Indonesia, potensi pengembangannya mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk peneliti dan pelaku industri.

Dalam webinar EstCrops_Corner#14 bertema “Potensi Pengembangan Stevia Sebagai Pemanis Alami Rendah Kalori” pada Selasa (20/05), Bambang Heliyanto dari Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN memaparkan berbagai keunggulan stevia. Ia menyebutkan bahwa stevia memiliki kemanisan hingga 300 kali lipat dibandingkan gula biasa.

“Keunggulan stevia sebagai pemanis alami rendah kalori menjadikannya pilihan utama. Tingkat kemanisannya mencapai hingga 300 kali lipat dibandingkan gula, sekaligus menawarkan manfaat kesehatan luar biasa dengan 8 sifat anti,” ujarnya melansir pada laman BRIN.

Sifat anti tersebut meliputi anti-hiperglikemia, anti-hipertensi, antioksidan, antibakteri, antivirus, antiinflamasi, antifungi, dan antimikroba. Stevia juga mudah dibudidayakan dan memiliki adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi agroklimat.

“Tak hanya itu, stevia juga mudah dibudidayakan, memiliki adaptasi tinggi, serta menawarkan potensi ekonomi yang menjanjikan,” ujar Bambang. Saat ini, stevia tersedia dalam bentuk bubuk maupun cair dan telah digunakan di banyak produk minuman dan makanan sehat.

Ekstrak stevia berkualitas tinggi seperti Reb A, Reb D, dan Reb M menawarkan rasa manis yang lebih bersih dan ringan. “Keunggulan ini menjadikannya bahan ideal untuk produk farmasi, kesehatan, serta kosmetik. Kemudian, memperkuat posisinya sebagai pemanis alami serbaguna dengan nilai tambah yang besar,” tambahnya.

Bambang juga menyoroti pentingnya varietas unggul dalam budidaya stevia di Indonesia. “Dalam dunia budidaya tanaman, varietas unggul adalah garda terdepan bagi petani, memberikan kemudahan dalam proses budi daya serta efisiensi yang tinggi,” jelasnya.

“Kontribusinya dapat mencapai lebih dari 20%, bahkan hingga 100% dapat menentukan keberhasilan dalam produksi tanaman yang optimal,” lanjut Bambang. Ia dan timnya tengah melanjutkan penelitian adaptasi dan kandungan kimia dari 11 klon stevia.

Mereka juga mendorong riset pendukung untuk pengembangan metode perbanyakan massal, seperti teknologi nano bubble. “Stevia merupakan pemanis alami rendah kalori yang multiguna dan memiliki prospek besar untuk dikembangkan,” tegas Bambang.

Dalam sambutannya, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menyatakan bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan menciptakan peluang pengembangan stevia. “Tentunya hal ini membuka peluang bagi industri untuk memproduksi stevia,” ujarnya.

“Hampir semua bagian tanaman stevia memiliki rasa manis kecuali pada bagian akarnya, dengan kadar manis tertinggi terdapat pada bagian daun,” kata Puji. Kandungan glikosida steviol inilah yang menjadikan stevia pemanis alami ideal untuk kalori rendah.

“Stevia sangat potensial dikembangkan sebagai pemanis alami, pendamping gula tebu dan pengganti gula sintetis. Kadar manis (glikosida steviol, GS) tanaman stevia ini mencapai 300 kali gula, sehingga banyak digunakan sebagai pensubstitusi gula,” tambahnya.

Untuk mendukung budidaya, dibutuhkan perakitan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia. Selain itu, penyediaan bahan tanaman secara massal dan murah juga menjadi aspek penting.

Pengelolaan lingkungan budidaya seperti pemupukan, pengairan, dan pemanfaatan mikoriza juga menjadi bagian dari strategi peningkatan produktivitas. Hal ini ditujukan untuk menghasilkan produk stevia dengan mutu tinggi yang kompetitif di pasar global.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto, menambahkan bahwa permintaan terhadap pemanis alami terus meningkat. Pengembangan stevia dapat mendukung diversifikasi pemanis dan memperkuat sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Beberapa penelitian terkait tanaman stevia sudah dilakukan di Pusat Riset Tanaman Perkebunan, namun demikian masih banyak pekerjaan kita untuk menjadikan stevia ini bisa menjadi bahan substitusi kebutuhan gula baik pada aspek on farm maupun off farm,” ungkap Setiari.

Dengan sinergi antara peneliti, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan, pengembangan stevia di Indonesia diyakini dapat menjadi komoditas unggulan. Tak hanya berkontribusi pada kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang agribisnis bernilai tambah tinggi bagi petani lokal.

Foto: Tanaman stevia. Dok. Widi Tria Erliana

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img