Monday, August 8, 2022

Denyut Sepanjang Daendels

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Hamparan lahan pasir itu bertahun-tahun bagai merindukan datangnya para pekebun untuk menggarap. Namun, orang-orang datang ke lahan-lahan itu hanya untuk mengambil daun pandan, lalu menganyam menjadi tikar. Mereka juga memanfaatkan akar tanaman anggota famili Pandanaceae itu menjadi tali yang kuat untuk menghela kuda atau binatang ternak. Masyarakat di pesisir membiarkan lahan merana terpanggang sinar surya pada siang nan terik. Malam pun berlalu begitu saja di sana.

Jika mereka memanfaatkan lahan, itu pun terbatas sebagai ladang penggembalaan kambing. Gulma yang tumbuh liar di lahan menjadi pakan satwa ruminansia kecil. Itu gambaran wilayah pesisir di Kabupaten Kebumen hingga Kabupaten Purworejo – keduanya di Provinsi Jawa Tengah – hingga Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta, pada 1980-an. Semula tak terbersit di benak mereka untuk mengolah lahan pasir yang berjarak beberapa meter dari pantai. Namun, lihatlah kini, rindu lahan pun terlampiaskan ketika para pekebun menanam beragam komoditas seperti pepaya, semangka, dan buah naga.

Gara-gara rami

Masyarakat di pesisir Kebumen tergerak mengolah lahan pasir pada pengujung 1990-an. Menurut Sarengat, warga Desa Kaibon, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, ketika itu seorang pengusaha membudidayakan rami Boehmeria nivea di lahan dua hektare (ha). Di lahan pasir tepi pantai itu ternyata rami tumbuh subur. Masyarakat terpukau dan “tersadar” bahwa tanaman anggota famili Urticaceae itu mampu tumbuh di lahan pasir yang selama ini mereka abaikan.

Sejak itulah mereka memanfaatkan ladang di tepi Samudera Indonesia menjadi lokasi budidaya beragam komoditas hortikultura dan tanaman pangan seperti semangka dan jagung. Belakangan mereka juga mengebunkan pepaya kalifornia. Kartono, pekebun di Desa Tambakmulyo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, misalnya, mengelola 2 ha pepaya – masing-masing seluas satu ha berumur 7 bulan dan 3 tahun. Itu untuk kali kedua ia menanam pepaya kalifornia.

Lahan itu hanya berjarak 200 meter dari pantai selatan – relatif “jauh” daripada kebun-kebun lain yang berjarak 10 meter. Suara ombak yang berkejaran dan pecah di pantai terdengar jelas dari kebun itu. Ketika wartawan Trubus berkunjung ke kebun seluas 1 ha milik Kartono, 1.600 tanaman pepaya tengah sarat buah. Posisi buah-buah terbawah menyentuh tanah karena tinggi tanaman berumur 7 bulan itu rata-rata 100 cm. Satu ha kebun pepaya lain berumur 3 tahun dan masih produktif.

Kartono mengatur jadwal penanaman sedemikian rupa sehingga panen berkelanjutan. Purwo Suseno juga mengebunkan 1.500 tanaman buah anggota famili Caricaceae itu di lahan 1 ha. Ia mencabut 100 tanaman karena berbuah bulat, bukan lonjong. Hingga 3 Oktober 2011, ia 13 kali panen. Menurut Purwo dan Kartono, volume panen perdana ketika tanaman berumur enam bulan, hanya 100 kg per ha. Bobot rata-rata 1,5 – 2 kg per buah. Interval panen 3 – 4 hari sehingga pekebun dua kali memetik dalam sepekan.

Keruan saja, produksi cenderung meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Pada panen pertama hingga ke-9, Kartono menuai rata-rata 100 kg; panen ke-10 – 70, mencapai 1 ton per ha per sekali panen. Setelah itu produksi menurun, setiap panen hanya 500 – 600 kg per ha hingga panen terakhir. Pekebun pada umumnya mempertahankan pepaya kalifornia hingga tiga tahun. Selama itu pekebun 232 kali panen pepaya yang mengalami 3 siklus produksi masing-masing terdiri atas 50 – 100 buah.

Primadona lain

Soal pasar, para pekebun pepaya tak menghadapi kesulitan meski kian banyak yang yang membudidayakan pepaya kalifornia. “Saya malah kekurangan barang,” kata Purwo. Para pengepul datang langsung ke kebun. Harga jual pada September 2011 mencapai Rp2.300 – Rp2.400 per kg. Artinya jika bobot sebuah pepaya 1,5 kg, pekebun memperoleh Rp3.450 – Rp3.600. Para pengepul memasarkan pepaya kalifornia itu ke Jakarta, Tangerang, dan Bekasi berjarak 540 km dari lahan.

Harga itu menggairahkan para pekebun sehingga penanaman pepaya makin meluas. Pemandangan kebun pepaya yang terawat tampak di sana-sini. Pepaya kalifornia termasuk komoditas baru bagi para pekebun di pesisir selatan itu. Semula mereka lebih kerap menanam kacang tanah Arachis hypogaea. Namun, tanaman anggota famili Papilionaceae itu memberikan omzet tak seberapa.

Itulah sebabnya begitu tersiar kabar, pepaya kalifornia memberikan laba memadai, banyak pekebun menanam komoditas itu. Jadilah pesisir selatan itu menjadi sentra pepaya kalifornia. Pekebun masih berani menanam pepaya terus-menerus hingga 3 kali periode budidaya, tanpa komoditas selingan. Sebaliknya, para pekebun semangka hanya sekali menanam dalam setahun. Setelah itu mereka menanam jagung atau kacang tanah. Semangka kini juga menjadi primadona sehingga banyak pekebun mengembangkan di sana.

Di Kecamatan Puring, Kebumen, misalnya, semula hanya seorang pekebun yang coba-coba membudidayakan tananam kerabat mentimun itu. Namun, lihatlah kini tak jauh dari pantai sambung-menyambung dari Kebumen bagian barat hingga Purworejo menjadi sentra penanaman Citrullus lanatus. Puryanto dan Sarengat, pekebun di Kaibon, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, berhasrat mengebunkan semangka karena tergiur laba besar. Mereka menanam 3.600 bibit per ha. Populasi memang rendah karena pola tanam tanpa ajir akibat bobot buah yang mencapai 13 kg.

Sarengat mengeluarkan biaya maksimal Rp6-juta per ha. Setelah tanaman berumur 60 hari, ia memetik hanya satu buah per tanaman berbobot rata-rata 6 kg atau total mencapai 20 ton per ha. Harga jual di tingkat pekebun Rp2.500 per kg. Seperti halnya pepaya, para pekebun semangka juga sangat mudah memasarkan. Kartono yang juga berperan sebagai pengepul mampu mengirimkan rata-rata 2 ton semangka per hari ke Jakarta. Namun, jumlah itu belum mencukupi tingginya permintaan yang mencapai 2 – 3 kali lipat.

Bahan organik

Menurut Sarengat, kunci budidaya semangka dan pepaya di lahan berpasir adalah menambahkan rata-rata 2 ton pupuk kandang per ha. Oleh karena itu para pekebun lazimnya mengelola 2 – 3 sapi. Menurut Sarengat, ketika Jalan Daendels di wilayah pesisir selatan itu masih senyap, warga banyak yang beternak kambing. “Satu orang bisa memelihara 20 – 25 kambing,” kata Sarengat. Wajar jika untuk menyeberangkan puluhan kambing ketika hendak menggembala di tepian pantai itu, perlu waktu relatif lama. Sejak jalan yang namanya mengabadikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels itu ramai, warga memilih beternak sapi.

Mereka tak perlu menggembalakan sapi, cukup menyediakan pakan. Lagi pula lahan penggembalaan kambing juga sudah “hilang” setelah warga ramai-ramai memanfaatkannya untuk budidaya hortikultura. Mereka memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk kandang. Bahan organik seperti kotoran ternak yang telah terdekomposisi memang begitu penting di lahan berpasir. Sebab, lahan pasir tak mampu mengikat air untuk pertumbuhan tanaman. Berkat pupuk kandang itulah, lahan budidaya di tepi pantai mampu mengikat air.

Periset di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, mengatakan bahwa setiap gram bahan organik menyerap 4 ml air. Selain itu bahan organik menyelaraskan muatan ionik dalam tanah. Tanaman mampu menyerap hara, jika nutrisi berbentuk ion. Sebab, tanaman tidak mengonsumsi bahan organik atau pupuk. Mikroorganisme berperan menguraikan bahan organik atau pupuk kimia menjadi ion-ion.

Selain bahan organik, kunci sukses mereka adalah air. Para pekebun mengebor hingga kedalaman 8 – 12 meter untuk memperoleh pasokan air tawar. Biaya pengeboran sumur Rp200.000. Supriyanto, pekebun semangka dan jagung di Desa Geparang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, memerlukan 14 pipa polivinil khlorida (PVC) berdiameter 2,5 inci. Panjang sebuah pipa mencapai 4 meter. Ketika menyiram, ia menyambung beberapa pipa – jumlah tergantung jarak dari sumur bor.

Akibat aktivitas budidaya di tepi pantai itu, para pekebun mendirikan bangunan sederhana untuk menginap. Menjelang musim panen, para pekebun biasanya menginap di lahan untuk menjaga semangka. Pada awal penanaman, mereka juga bermalam di pesisir untuk menjaga pompa air. Itulah sebabnya lahan pasir di tepi pantai itu tak lagi senyap bila malam tiba. Kini muncul kehidupan di sana. Jalan Daendels itu pun ingar bingar.

Sarengat yang juga pengurus Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan, mengatakan pesisir selatan kini menjadi urat nadi bagi para pekebun hortikultura. Itulah sebabnya, menurut Sarengat, para pekebun mati-matian mempertahankan lahan ketika terjadi konflik dengan militer belum lama ini. Spanduk berisi penolakan terhadap rencana penambangan pasir besi oleh investor juga terdapat di beberapa lokasi di Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen. Para pekebun menyandarkan harapan pada ladang pasir itu. Harapan mereka seperti ombak pantai selatan yang tak pernah letih terus bergulung. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img