Thursday, January 8, 2026

Dirjen Hortikultura: Indonesia Berpeluang Mengambil Pangsa Pasar Florikultura Internasional

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Peluang bisnis tanaman hias atau florikultura sangat besar. Bukan hanya kebutuhan pasar domestik, melainkan pangsa pasar internasional tanaman hias juga tinggi.

Menurut Prihasto Setyanto, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, secara global industri florikultura mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Pertumbuhan industri florikultura di pasar domestik rata-rata mencapai 21,8%. Itu mencakup beragam produk industri florikultura seperti komoditas bunga potong, tanaman daun, tanaman hias, dan aneka tanaman untuk rangkaian bunga.

“Saya berharap industri florikultura dapat berkembang lebih besar lagi, apalagi Indonesia memiliki kekuatan seperti sumber daya alam, agroklimat, dan sumber daya manusia sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal,” kata Prihasto, saat memberi sambutan pada pembukaan Floriculture Indonesia International Convex (FLOII) 2022, di Hall A, Jakarta Convention Center, Jumat (14/10).

Menurutnya, hal itu sangat memungkinkan Indonesia dapat mengambil pangsa pasar florikultura internasional, sekaligus memperkuat pasar domestik. Dirjen Hortikultura telah mengupayakan untuk mewujudkan hal itu. Salah satunya dengan program penumbuhan Kampung Florikultura yang sudah dimulai sejak 2020.

“Sampai saat ini sudah ada 100 lebih Kampung Florikultura yang dikembangkan,” jelasnya.

Hal itu menjadi salah satu langkah strategis guna meningkatkan daya saing florikultura nasional dan internasional. Pelaku utama tanaman hias terus didorong untuk meningkatkan mutu, produktivitas, dan efisiensi produksi.

Ia mengaku beberapa kali melakukan kunjungan ke berbagai daerah di Indonesia. Perkembangan industri florikultura di berbagai daerah itu dinilai telah mengalami perkembangan yang pesat.

Salah satu daerah seperti Bogor, Jawa Barat, menurutnya belakangan ini telah menginisiasi ekspor bunga krisan ke Jepang. Daerah lain, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, geliat industri florikultura juga meningkat.

Meskipun geliat florikultura pesat, menurutnya untuk mencukupi kebutuhan tanaman hias seperti bunga krisan di Tomohon belum tercukupi. Permintaan bunga krisan lazimnya untuk kegiatan-kegiatan ritual keagamaan.

“Untuk memenuhi kebutuhan permintaan itu, salah satu caranya dengan melakukan berbagai inovasi. Kebersamaan berinovasi haruslah dibangun sehingga industri florikultura berkembang ke skala besar,” paparnya.

Lebih lanjut, menurutnya harapan itu akan sulit terwujud jika pelaku utama florikultura seperti petani dan pelaku usaha florikultura bekerja secara sendiri-sendiri.

Ia mengimbau kepada petani florikultura di Indonesia untuk berkorporasi atau bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan. Artinya, tingkat kesejahteraan bisa diukur dari tingkat pendapatan petani.

Artikel Terbaru

Aksi Yayasan Bina Trubus Swadaya (YBTS) untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatra

Hujan deras yang mengguyur wilayah Sumatra pada akhir 2025 bukan sekadar angka curah hujan di laporan cuaca. Di lapangan,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img