Monday, January 26, 2026

Domba Blasteran Australia

Rekomendasi
- Advertisement -
Domba silangan dorper dan lokal (kanan) dengan domba peranakan lokal (kiri).

Persilangan domba lokal dan introduksi menghasilkan domba unggul baru.

Trubus — Dua domba itu berumur relatif sama, yakni 1,5—2,5 bulan. Namun, sosok keduanya bagaikan kakak adik dengan selisih 2—3 bulan. Dua domba itu berada di kandang Didik Suhartono di Desa Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Domba yang besar itu silangan domba lokal dengan domba dorper. Yang ukurannya lebih kecil itu anakan domba lokal,” ujar Didik.

Indukan betina domba dorper.

Menurut Didik bobot domba lokal berumur 3 bulan sekitar 12 kg, sementara domba silangan itu mencapai 25 kg. “Padahal saya memberi perlakuan yang sama, yaitu kandang yang sama plus pakan yang sama,” kata lelaki kelahiran 14 Januari 1977 itu. Setiap hari ia memberikan 1,5 kg tebon atau batang jagung dan 300 g konsentrat untuk per domba. Namun, selisih bobot keduanya signifikan.

Asal Australia

Didik mendapatkan domba itu dari Martinus Alexander, peternak kambing dan domba di Malang, Jawa Timur. Alex bekerja sama dengan Didik untuk mengamati perkembangan domba introduksi itu. “Saya ingin, domba-domba berkualitas bisa dinikmati semua kalangan peternak. Namun, sejauh ini kami uji coba secara tertutup, karena belum dilepas sebagai domba ras baru Indonesia,” ujar Alex.

Domba-domba berkualitas tinggi itu memang bukan asli Indonesia. Alex mendatangkannya pada 2015 dari Australia. Alex mendatangkan tiga jenis domba pedaging yaitu dorper, awassi, dan van rooy. “Total ada 9 pejantan dan 10 betina untuk semua jenis itu,” ujarnya. Umur pejantan berkisar 12 bulan. Ia mendatangkan domba-domba introduksi itu karena melihat keunggulannya adaptif di Asia khususnya Indonesia.

Martinus Alexander (bertopi) dan Didik Suhartono.

Selain itu domba juga bersosok besar dan pertumbuhan cepat. “Kenaikan bobotnya mencapai 150 gram per 5% pakan dari bobot tubuh,” ujarnya. Menurut peneliti utama dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ir. Bambang Setiadi, M.S., domba dorper salah satu ras unggul. “Pertumbuhannya cepat dibandingkan dengan domba lokal. Sosoknya lebih besar. Bobot domba dorper berumur tiga mencapai 80 kg, sedangkan domba lokal 50—60 kg.

Pejantan domba awassi asal Australia.

Hasil persilangan dorper dan lokal juga mampu menghasilkan domba unggul baru. “Domba dorper heterosisnya tinggi mencapai 30—50%. Heterosis adalah efek perubahan pada penampilan keturunan persilangan (blaster) yang secara konsisten berbeda dari penampilan kedua tetuanya.  Artinya, jika pejantan dorper bobot dewasa 80 kg, induk betina lokal 50 kg, maka bobot anakannya bisa mencapai 60—70 kg saat dewasa,” ujarnya.

Menurut Bambang domba dorper cocok sebagai tetua untuk menghasilkan domba unggulan. Selain sosok dan bobot, anakan dari ketiga domba ras baru itu mencapai 1,5. Artinya jumlah anakannya kadang 1 dan kadang 2. “Kalau domba lain misalnya domba merino, rata-rata 1 ekor,” ujar Alex.

Murni

Domba van rooy (tengah) adaptif di Indonesia.

Alex mendatangkan domba introduksi dari Australia karena jarak yang relatif dekat dengan Indonesia dan kualitas terbukti bagus. Sejauh ini domba-domba asal Australia terbukti berkualitas baik dari segi penampilan fisik dan kemurnian genetikanya.

Alex sedang mengamati domba-domba hasil kawin silang antara dorper, awassi, van rooy, dengan domba lokal, baik domba ekor gemuk maupun domba ekor tipis. “Sampai hari ini ada sekitar 200-an hasil kawin silang itu,” ujarnya. Dengan pejantan umur 12 bulan lebih dan betina bobot 25—30 kg, anakan-anakan domba ras baru itu menjadi unggul saat disilangkan dengan domba lokal.

Hasil persilangan pun memiliki kelebihan yang bervariasi. Misalnya hasil kawin silang van rooy dengan domba lokal menghasilkan anakan berpostur tubuh tinggi, dan punggung lebar. Hasil perkawinan domba dorsip dan domba lokal menghasilskan domba berkarakter pendek, tetapi berbadan besar dan berbobot. Adapun perkawinan domba awassi dan domba lokal menghasilkan anakan berbobot besar pula dan dapat diambil susunya.

“Semuanya memiliki keunggulan masing-masing dan memiliki bobot yang tinggi,” ujarnya. Alex akan mengawinsilangkan domba-domba ras baru itu dan domba lokal untuk mencari kombinasi terbaik dan terunggul. “Hasil silangannya akan saya beri nama domba dorsip. Singkatan dari domba ras sip,” ujar Alex mantap. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img