Friday, January 16, 2026

Dosen dan Mahasiswa STEI ITB Pasang Panel Penerangan untuk Petani Rotan Sumpur Kudus

Rekomendasi
- Advertisement -

Tim dosen dan mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) memasang panel penerangan di jalur rotan yang digunakan masyarakat Desa Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut berlangsung selama enam hari, mulai 2–7 Oktober 2025.

Program ini dipimpin oleh Dr. Bryan Denov, S.T., M.T. dari Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan STEI ITB. Sejumlah dosen turut terlibat, di antaranya Prof. Ir. Syarif Hidayat, MT, Ph.D.; Dr.Eng. Ir. Infall Syafalni, S.T., M.Sc.; Dr. Lenny Putri Yulianti, S.T., M.T.; Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D.; serta Sumedi, teknisi laboratorium STEI ITB.

Kolaborasi juga melibatkan aktivis pengelolaan rotan lestari “Jelajah Rattan”, Muhammad Alfath Kurniadi, serta warga setempat. Enam mahasiswa STEI ITB ikut berpartisipasi, yaitu Gregorius Yoga Robianto, Habibie Muhammad Ghifari, Hilary Evelyn Tjandra, Muhammad Luthfii Alghazali, Rafie Naufal Halimi, dan Taqidito Ilham Pratama.

Lanjutan Program Pikohidro

Pemasangan panel penerangan merupakan lanjutan dari program pembangkit listrik tenaga pikohidro (PLTPH) yang dilakukan tahun 2024. Upaya ini kembali diinisiasi karena masyarakat mengeluhkan minimnya penerangan di jalur rotan yang curam serta rawan hewan liar. Kondisi itu menyulitkan para petani saat bekerja, terutama pada malam hari.

Panel yang dipasang bekerja menggunakan aki sehingga tidak memerlukan kabel panjang. Selain itu, perangkat dilengkapi sensor otomatis yang menyala ketika ada orang melintas dan terhubung dengan sistem internet of things (IoT). Panel penerangan tersebut dipasang pada empat titik strategis di jalur rotan.

Tantangan Lapangan

Proses instalasi panel tidak mudah. Jalur yang terjal dan akses internet yang terbatas membuat pemasangan memerlukan usaha tambahan. Meski demikian, seluruh perangkat berhasil dipasang sesuai rencana.

Selain panel penerangan, tim juga membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Fasilitas itu diharapkan dapat menyuplai listrik bagi lampu pos, mengisi daya aki panel penerangan, serta memenuhi kebutuhan listrik para petani.

Kurangi Pengeluaran Hingga Rp6 Juta per Bulan

Kehadiran panel penerangan mendapat sambutan positif dari warga. Sebelum program ini, petani hanya mengandalkan headlamp untuk bekerja malam hari, dengan biaya penggantian baterai dan peralatan yang bisa mencapai Rp6 juta per bulan.

Masyarakat berharap program energi terbarukan di desa mereka terus berlanjut. “Pengmas tempat menerapkan ilmu kita secara langsung. Jangan ragu mencoba karena manfaatnya dirasakan banyak pihak, khususnya masyarakat Desa Sumpur Kudus,” ujar Habibie, salah seorang mahasiswa yang terlibat melansir pada laman ITB.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img