Friday, January 16, 2026

Dua Sistem Budidaya Udang Ramah Lingkungan Bikin Panen Meningkat 50%

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Kombinasi sistem budidaya zero water discharge (ZWD) dan recirculating aquaculture system (RAS) bikin panen vannamei meningkat.  Hal itu berdasarkan riset Dr. Gede Suantika, ahli akuakultur di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia dan tim menerapkan sistem budidaya udang vannamei Litopenaeus vannamei superintensif. Meski padat tebar tinggi, sintasan atau kelangsungan hidup mencapai 78%. Ia menebar 500 benur per m3 . Para pembudidaya lazimnya hanya menebar 100—150 benur alias benih udang per m3.

Gede dan rekan membudidayakan udang di delapan kolam yang bervolume total 99,2 m3 di lahan 124 m2. Hasilnya? Gede memanen 298 kilogram udang vannamei setelah memelihara selama 60 hari.

Volume panen itu setara 2,7 kg udang per m3 pada salinitas rendah. Lazimnya 17,5 ton per hektare atau 1,75 kg per m3.

Gede membudidayakan si kaki putih itu di Kabupaten Gresik, Jawa Timur dalam rangka penelitian budidaya vannamei superintensif pada salinitas rendah.

Ia bekerja sama dengan pembudidaya dan penangkar udang di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Usman Zuhri. Lokasi budidaya berjarak 17—20 kilometer dari pantai.

Gede memang beternak satwa air anggota famili Penaeidae itu pada salinitas rendah 5—6 ppt, lazimnya 29—30 ppt.   Ia menggunakan benih PL10 yang dipelihara pada air bersalinitas 32 ppt.

Tim peneliti lalu mengadaptasikan benur itu agar mampu bertahan pada air bersalinitas 5 ppt. Caranya mereka menurunkan kadar salinitas air sekitar 2 ppt setiap hari selama 13 hari berturut-turut.

Periset itu menggunakan kombinasi sistem zero water discharge (ZWD) dan recirculating aquaculture system (RAS). Prinsip dasar RAS yaitu proses perawatan air dengan sirkulasi menggunakan beberapa komponen termasuk filter fisik dan biologi.

Adapun ZWD mengandalkan kehadiran beragam mikrob di kolam yang berperan dalam siklus nutrien, pemurnian air, pengontrol bakteri, dan sumber pakan. Gede mengisolasi bakteri itu dari perairan Indonesia.

Pada penelitian yang termaktub dalam Aquaculture Engineering 82 (2018) itu tim periset memakai ZWD ketika memulai budidaya. Sebelum itu mereka memastikan mikrob berkembang baik di kolam pemeliharaan.

RAS beroperasi jika kadar amonium dan nitrit lebih dari 0,5 ppm dan berhenti bekerja jika kedua ion itu menurun menjadi 0—0,5 ppm. Gede menuturkan perlu kajian ekonomi lanjutan jika ingin menerapkan hasil riset itu.

Hasil penelitian Gede dan rekan mungkin tidak sebesar tambak intensif. Namun, penggunaan sistem akuakultur tertutup—ZWD dan RAS—membuat industri udang lebih berkelanjutan. Selain itu kombinasi sistem itu juga ramah lingkungan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img