Friday, December 9, 2022

Durian Enak Jawa Tengah

Rekomendasi

 

Ini kali ke-4 Trubus datang ke Mbrayo. Pada kunjungan sebelumnya, waktu itu Destika Cahyana yang berburu bersama Prakoso, hasilnya selalu nihil. Tak ada subur yang konon durian terlezat untuk dicicipi. Alasannya, buah kosong lantaran telanjur tandas diborong pembeli.

Peruntungan pada akhir Januari itu pun bukan tanpa usaha. Semula Sumarni mengaku tak memiliki durian subur. Namun, perjalanan jauh dari Jakarta-Semarang-Kendal meluluhkan hati perempuan penebas durian itu. Satu buah dari pohon milik Subur dikeluarkan dari dalam rumah. Ukurannya kecil, bobot paling hanya 2 kg.

Pohon kontrak

Begitu buah dibelah terlihat daging berwarna kuning muda dengan aroma tajam menggiurkan. Langsung saja Trubus menjepret subur dalam berbagai posisi. Aksi itu rupanya mendorong Sumarni untuk mengeluarkan sebuah lagi-juga berukuran kecil-dan 2 buah berbobot 3 kg. Puas mengabadikan subur, saatnya mencicipi kelezatan raja buah asal Mbrayo itu.

‘Ini durian paling enak yang pernah saya makan. Rasanya mak nyus,’ kata Sukobudi Prayogo, pekebun buah di Semarang yang ikut berburu durian. Rasanya manis, sedikit asam, pahit alkohol, dan gurih. Teksturnya pulen dan lengket dengan kadar air rendah. Daging buah tebal dengan ukuran biji sedang. Selesai menyantap, rasa subur masih tersisa di lidah lantaran daging lengket. Prakoso yang mesti menanti 6 musim untuk menikmati subur pun tersenyum puas.

Dari Mbrayo Trubus melanjutkan perjalanan ke Desa Ngabean, Kecamatan Boja-masih di Kendal. Lima tahun silam, durian merica yang tersohor di sana sempat dicicipi, tapi kelezatan buah membuat rombongan kembali datang.

Mitsubishi hitam yang membawa Trubus berhenti saat Arif Budiman-warga Ngabean yang kerap mengantar para mania mencari durian-menunjuk pohon setinggi 20 m. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Di kejauhan terlihat 3 merica matang pohon menggantung pada tali rafia.

Nurcholis-penebas-langsung memanjat pohon yang sudah ia kontrak 10 tahun itu. Enam buah diturunkan-di antaranya 3 yang matang pohon. Buah matang pohon memang enak: rasanya manis bercampur sedikit pahit. Jika disimpan 1-2 hari, rasa pahitnya lebih kuat. ‘Banyak yang suka rasa pahit durian ini,’ kata Arif waktu menyodorkan buah yang dipanen kemarin kepada Trubus. Daging buah tebal dan biji kecil-makanya disebut merica karena ukuran bijinya diibaratkan hanya sebesar merica.

Kalah pulen

Setelah mencicipi merica, Arif merekomendasikan ketan sebagai target selanjutnya. Lokasi hanya 5 menit dari tempat merica. Sayang, tak ada buah matang tersisa. Namun, durian-durian di tempat Suliman-berjarak tak lebih dari 20 m-jadi penggantinya. Ada 3 durian andalan miliknya: kumbokarno, bagong, dan blueband legit.

Kumbokarno pernah menjadi pemenang ke-3 Lomba Buah Unggul Nasional Trubus 2003. Rasanya yang manis dipadu pahit dengan penampilan raksasa berduri besar pantas mengantarkan jadi juara. Sayang, waktu Trubus datang kumbokarno habis. Durian bagong rasanya tak sempurna, kurang manis, dan lembek. Mestinya pulen dan manis.

Musim kali ini hasil panen memang buruk. ‘Jumlah panen turun drastis,’ kata Sumarni. Pelanggan subur dari Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Madura tak semua terlayani. Panen tahun lalu didapat 400 buah. Kali ini maksimal hanya 200 buah. Malah jenis lain, karman-durian Jepara yang Trubus sambangi hari berikutnya-hanya menghasilkan 30 buah. Padahal, lazimnya mencapai 200 buah. Seorang pelanggan karman di Jakarta pun mesti kecewa hanya mendapat 2 buah dari 100 buah yang dipesan. Kualitas buah pun merosot.

Sobir, PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropis (PKBT) IPB, menyebut hal itu lumrah. Karena sifatnya yang annual bearing, tanaman buah memberikan hasil bagus pada panen tahun tertentu, tapi tahun berikutnya jelek. ‘Itu terjadi karena saat berbuah baik cadangan makanan terkuras habis, sehingga tanaman kekurangan cadangan nutrisi untuk panen tahun berikutnya,’ kata Sobir. Namun, risiko gagal berbuah tahun berikutnya bisa diminimalisir dengan cara penjarangan buah saat panen besar.

Beruntung Suliman masih punya blueband legit. Julukan itu disematkan lantaran daging buah selembut mentega. Rasanya manis, gurih, dan legit. Penampilan daging buah kuning, teksturnya lembut, dan aromanya wangi. Trubus dan rombongan sepakat, blueband durian enak, ‘Posisinya di tempat ke-2 setelah subur,’ kata Sukobudi. Ia cuma kalah pulen.

Menemukan durian enak di Kendal memang terbilang mudah. Maklum, Kendal-terutama bagian selatan-punya kondisi agroklimat tepat sebagai sentra durian. Kendal selatan berketinggian di atas 350 m dpl dengan iklim sejuk bersuhu rata-rata 25oC. Pantas durian yang dibeli di Pasar Mijen, sebelum memasuki Kecamatan Boja, juga tak kalah enak. Sebut saja bajul berbentuk oval berbobot 4 kg. Teksturnya lembut, daging kuning, tebal, dan rasa manis.

Sekepal tangan

Perburuan hari berikut dilanjutkan ke sentra lain: Jepara. Seperti kunjungan sebelumnya, Nur Mualief-pengusaha furnitur yang mania durian-menemani. Dari pusat kota, Trubus meluncur selama sekitar 15 menit ke arah selatan menuju Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan. Pohon setinggi 20 m dengan lingkar batang 2 kali pelukan orang di halaman sebuah rumah jadi sasaran. Umurnya diperkirakan lebih dari 100 tahun.

Ada 5 buah matang yang disimpan Sukarman-pemilik pohon-di dalam rumah. Trubus mencicipi 2 di antaranya. Teksturnya kering dengan rasa manis dan pahit yang pas. Lapisan terluar daging buah kering dan keriput. Trubus memasukkan satu pongge durian karma ke saku selama lebih dari 3 jam. Ternyata buah tidak hancur dan tidak menyebabkan lengket. Di balik kulit luar yang kering itu terbungkus daging buah yang sangat lembut dan biji kempes. Pantas karman membuat penyantapnya ketagihan.

Puas dengan karman, perjalanan berlanjut ke Desa Rengging. Di sana ada Hartatik yang punya durian sumarni. Sayang, saat tiba tinggal satu buah tersisa, itu pun kondisinya tidak optimal. Musim pancaroba membuat rasa sumarni hambar. Mestinya manis, pulen, dan wangi. Menurut Drs Jawal Anwaruddin Syah, MS, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, kualitas buah sangat dipengaruhi kondisi iklim dan lingkungan, di samping faktor genetis. Perubahan kondisi lingkungan drastis, misal adanya hujan di tengah-tengah kemarau, membuat tanaman stres. Akibatnya, produksi dan kualitas buah tidak optimal.

Sebagai pelipur kecewa, Hartatik menyodorkan durian berdaging kuning. Aroma tajam menguar begitu buah dibelah. Citarasa manis dan pulen terasa begitu daging buah tercecap di lidah. Meski tanpa nama, buah anggota famili Bombaceae itu istimewa.

Dari Jepara Selatan, rombongan bertolak menuju Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, di utara. Yang dituju lapak khusus penyedia durian bercitarasa pahit. Namun, rupanya bukan hanya Trubus serta Nur Mualief dan Wahyu yang mengincar durian di tempat itu. Di lapak itu cuma tersisa 5 buah, yang lain telah ludes terjual. Sri Widayati-penjual-menyodorkan durian mini seukuran kepalan tangan. Nyatanya, si mini dengan daging sangat kuning itu memang tidak mengecewakan. Citarasa paduan pahit dan manis, serta teksturnya tidak terlalu lembek.

Perjalanan berakhir di kediaman Gipah di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan. Garasi rumahnya terlihat tumpukan buah berduri. Sayang, itu bukan dari pohon juara yang telanjur habis. Sebagai pengganti, Gipah menyodorkan jenis lain. ‘Memang ini belum pernah ikut lomba, tapi rasanya tak kalah enak,’ katanya. Durian tanpa nama itu berbobot 3 kg. Tekstur daging lembut dan rasanya paduan manis, sedikit asam, dan pahit.

Raja buah enak juga kebetulan ditemukan Trubus saat mampir ke kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Bersama Fani Arifian dan Susanto, Trubus mencicip durian tanpa nama yang bentuk dan rasanya sempurna. Dagingnya tebal, teksturnya pulen dan rasanya manis. Di tengah musim pancaroba, ternyata masih ada durian enak yang memanjakan mania durian di berbagai tempat. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img