Tuesday, August 9, 2022

Durian Sepanjang Waktu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Namanya Resto Duren Harum. Lokasinya di Jalan Raya Panjang, persis di simpang empat Pos Pengumben, Kebonjeruk, Jakarta Barat. Sejauh mata memandang, durian yang terlihat. Dari luar tampak jajaran buah utuh terbungkus jala-jala kuning berbaris di rak. Begitu masuk, aroma durian tercium kuat. Aroma itu datang dari belasan durian kupas disimpan dalam lemari pendingin. Bau khas buah berduri juga keluar dari lempok, es krim, dan olahan durian lain.

Ketika Trubus ke sana, belum banyak pengunjung datang. Maklum waktu itu Senin pukul 11:00 WIB, kebanyakan orang masih sibuk bekerja. Namun, dalam hitungan menit suasana mulai ramai. Awalnya datang seorang wanita bersama cucunya. Mereka pelanggan setia yang datang berbelanja durian hampir setiap minggu. Pasangan nenek dan cucu itu singgah sebentar. Setelah memilih-milih, langsung pulang dengan 500 g durian kupas seharga Rp40.000 dan 3 kotak es krim di tangan.

Sepanjang tahun

Suasana kian ramai ketika jarum jam melewati angka 12. Berturut-turut datang wanita setengah baya, disusul sekelompok eksekutif muda. Empat sekawan yang datang belakangan, karyawan sebuah bank swasta di daerah Pondokindah, Jakarta Selatan. Setelah memilih satu buah utuh berbobot 2,4 kg, mereka langsung menuju meja sambil menunggu durian itu dikupas. Begitu daging durian tanpa kulit disodorkan, mereka langsung menyantap hingga tandas. Ehm… nikmat sekali.

Meski tersedia sendok dan sarung tangan plastik, mereka memilih menyantap langsung dengan tangan. ‘Lebih puas jika langsung pakai tangan,’ kata Anggi, salah seorang penggemar berat buah anggota keluarga Bombaceae itu. Yang mereka santap jenis monthong yang didatangkan dari Thailand. Dalam setengah jam, 8 pongge durian seharga Rp78.000 ludes.

Karyawan-karyawan perkantoran di sekitar Kebonjeruk, Jakarta Barat, juga mulai berdatangan. Sepuluh set meja dengan masing-masing 4 kursi hampir penuh terisi. ‘Memang jika hari biasa, ramainya saat jam istirahat dan malam hari,’ ujar Edwin Dianto, kepala restoran.

Penelusuran Trubus di beberapa titik penjualan di Jakarta pada November 2007-waktu kunjungan ke restoran-durian belum tampak dijajakan. Sebut saja di Jalan Gunung Sahari yang biasa jadi lokasi favorit penikmat durian sekitar Jakarta Pusat. Di daerah Kalibata, Jakarta Selatan, dan pinggiran jalan sekitar pasar induk Kramatjati, Jakarta Timur, yang terkenal sebagai tempat kulakan, belum tampak onggokan durian. Kabar dari pekebun di Lampung, Karanganyar, Pandeglang, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat durian baru turun pohon pada Januari 2008.

Toh, Resto Duren Harum yang dibuka sejak Mei 2007 tak pernah kehabisan stok. Pada Mei, durian segar didatangkan dari Thailand yang sedang panen raya hingga Agustus-September. Lima bulan pertama restoran dibuka, minimal 1 kontainer berisi 702 kardus masing-masing 12 kg durian segar diimpor dari Thailand tiap minggunya. Staf lapang Resto Duren Harum juga aktif berburu durian lokal. Meski sebagian besar sentra di daerah belum panen, tapi ada saja titik-titik di daerah yang duriannya berbuah.

Pada pertengahan 2007, pemburu Resto Duren Harum berhasil menggondol durian dari Purwokerto, Pontianak, dan Purbalingga. Sumber lain, Medan dan Pekalongan. Masing-masing memasok 2-3 kardus berisi 40 kg durian per hari dan 200 durian berbobot 1-3 kg setiap 2 hari. Soal selera konsumen, ‘Ada konsumen yang lebih memilih lokal karena rasanya unik, tapi banyak juga yang memilih daging tebal si monthong,’ papar Edwin.

Beku

Tak melulu yang segar, olahan durian pun disediakan. Resto Duren Harum mendatangkan durian beku dari Thailand begitu musim monthong di negeri Siam usai. Dengan begitu pelanggan restoran tetap bisa menikmati monthong sepanjang tahun.

Itu impian Lim Fie Min-pemilik restoran-sejak masih membuka warung durian di kawasan Jalan Kopi, Jakarta Barat. ‘Waktu itu pelanggan hanya ramai ketika musim durian. Itu pun banyak yang membawa pulang, bukan dinikmati di warung karena tempat tidak memadai,’ ujar A Hui-sapaannya. Berawal dari situ, A Hui membuka restoran yang nyaman dan menyediakan durian sepanjang tahun.

Dengan menyimpan di ruang pendingin bersuhu -18oC sampai -22oC, durian beku bisa tahan sampai 2 tahun. Biasanya buah utuh dikemas dalam jaring-jaring kemudian dimasukkan ke dalam kardus. Setiap kardus berisi 8 buah dengan bobot total 17 kg. Dengan tetap disimpan dalam ruang pendingin dalam kontainer, ratusan kardus durian dari Thailand siap dikirim ke berbagai penjuru dunia.

Kualitas daging buah durian beku tidak berubah asal penanganan tepat. Durian beku yang baru 1 jam di suhu kamar terasa nikmat menyegarkan. Lebih dari 1 jam, daging buah berair sehingga mengurangi kenikmatan menyantapnya.

Keripik

Buat mereka yang tidak suka durian segar, ada olahan lain yang bisa jadi pilihan. Contohnya es krim durian. Karena dibuat sendiri, rasa dan aroma duriannya terasa kental. Es krim durian ‘asli’ juga pernah dijajakan di Resto Buah Segar di Senayan, Jakarta Pusat. Sayang, karena lokasi restoran itu dipakai untuk bangunan lain, Rudi Sendjaya, si empunya, hanya menyajikan es krim durian di gerai Buah Segar di Muarakarang, Jakarta Utara.

Olahan lain yang bisa dinikmati di Resto Duren Harum: dodol asap pontianak dan lempok palembang. Dodol lokal itu bersanding dengan olahan serupa yang diimpor dari Thailand. Rasanya sama enaknya, hanya saja lempok palembang teksturnya lebih lembut. Di antara semua olahan durian, keripik durianlah yang paling diminati. Olahan itu sampai sekarang masih diimpor dari Thailand.

Trubus menyaksikan cara membuat keripik durian di rumah Wanee Boonsawad di Kabupaten Thamai, Provinsi Cahntaburi, Thailand. Durian mentah tanpa biji diiris tipis memanjang lalu digoreng. Keripik hasil gorengan dipanaskan dalam oven. Setelah bebas minyak langsung dibungkus dan siap dipasarkan. Keripik durian dalam kemasan kardus tahan 3-4 bulan. Kini menikmati durian bisa dengan berbagai cara dan berbagai citarasa. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Kiki Rizkika)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img